Terbelenggu Kabut Baby Blues

Mrs Erlangga
Karya Mrs Erlangga Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Mei 2016
Terbelenggu Kabut Baby Blues

Makhluk mungil itu bernama Eras, umurnya baru seminggu. Menggeliat dalam bungkusan kain yang tak terlalu kencang. Memandang polos ke arahku seolah ingin dirangkul. Lalu tangisnya pecah.

Aku, Ibunya..hanya memandangi dengan mata nanar. Tak ada keinginan untuk memeluknya, tak ada keinginan untuk menyusuinya. Aku hanya diam mematung, bertanya dalam hati, "mengapa engkau lahir!".

Semua Ibu yang baru saja melahirkan pasti sangat bahagia. Saya pun begitu, memandang pertama kali makhluk mungil itu adalah keajaiban, sampai syndrom Baby Blues datang merenggut semuanya. Tangisnya tak lagi membahagian, memeluknya tak lagi melegakan.

Semua berawal rasa kesepian dan kesendirian. Hari kedua melahirkan, saya sudah harus mengurus 2 anak sekaligus. Kakanya baru berumur 2 tahun, dan saya dengan jahitan yang belum kering, harus mengasuh keduanya tanpa bantuan. Naik turun tangga untuk mencuci dan menjemur popok dan kain bekas ompol si bayi, menyiapkan makanan untuk si sulung.

Ketidak hadiran suami, yang saat itu bekerja di luar kota menambah beban saya. Saya lelah, merasa sendiri. Saya merasa sedih. Suami yang memang jarang menghubungi jadi salah satu faktor pemicu baby blues. Saya jatuh.

Saya sering menangis tanpa sebab, saya enggan menyusui karena takut malah menyakiti Eras. Namun, saat mereka terlelap, saya akan mengecek nafas mereka hampir setiap menit. Takut mereka meninggal, saya akan sibuk mengirimkan pesan pada suami jika dia tak memberi kabar, takut suami saya juga mati, takut juga kalau-kalau saya yang mati duluan.

Ini memicu pertengkaran, saya menuntut banyak pada suami. Mulai dari dia tak boleh pergi dengan teman-temannya, saya membatin. Suami pergi setelah kerja, saya dirumah berdaster ria, mengurus 2 anak, berlumur muntahan si kecil. Dunia tak Adil!!

Dulu, saya tak pernah banyak menuntut pada suami, saya tak pernah melarang ia pergi kemanapun. Tapi sekarang, saya akan ngamuk dan mengirimkan hampir puluhan pesan jika ia lama tak membalas pesan saya.

Saya merasa gila, saya menelantarkan anak-anak. Dan saya mengemis perhatian dari suami. Semua yang dilakukan suami terasa kurang, apa yang ia lakukan menjadi salah dimata saya.

Akhirnya, saya sadar. Saya harus bangkit!!

Saya membicarakan pada suami apa yang saya rasakan. Dia mengerti, namun saya tetap merasa kurang karena fisiknya tak dapat direngkuh. Saya ingin dia ada didepan mata saya, memeluk dan mendengar langsung bahwa semua akan baik-baik saja.

Ketakutan saya semakin menjadi-jadi, takut saya akan menyakiti anak-anak. Setiap malam saya tak bisa tidur, kurang makan, bobot saya berkurang banyak. Badan tak terurus, anak-anak apalagi.

Saya mulai membaca-baca banyak artikel tentang baby blues, saya mulai merasa lega karena ternyata hampir 50% ibu hamil mengalami hal ini. NAMUN, perbedaannya adalah ada yang ringan dan ada juga yang agak berat. Karena jika sudah sangat berat ini bukan lagi baby blues, tapi sudah masuk ke area Postpartum Depression.

Ibu yang baru saja melahirkan, sangat-sangat tidak boleh ditinggal sendiri. menurut Bidanku.com:

"Pada saat kehamilan, ibu banyak mengalami perubahan besar baik fisik maupun non fisik termasuk di dalamnya perubahan hormon. Begitu juga pasca melahirkan, perubahan tubuh dan hormon kembali terjadi lagi. Perubahan-perubahan yang kembali terjadi pada diri anda akan sangat mempenngaruhi perasaan ibu. Penurunan secara drastis kadar hormon estrogen dan progesteron serta hormon lainnya yang di produksi oleh kelenjar tiroid akan menyebabkan ibu sering mengalami rasa lelah, depresi dan penurunan mood."

Tidak ada support dari lingkungan dan ketidak hadiran suami, akan menjadi pemicu hal ini juga terjadi. Ini bukan karena istri Anda manja, haus perhatian, atau gila!

Bantu ia bangkit, bukan menjauhinya. Sampai saat ini, sisa-sia baby blues masih ada. Namun, sudah mulai berkurang.

Karena suami saya tak bisa ada disamping saya, maka saya harus bangkit sendiri. Ini yang saya lakukan untuk mengurangi semuanya:

1. Cobalah ikhlas menerima keadaan diri. Ikhlas dan pasrah. Pasrah bukan menyerah ya :)

2. Menyediakan waktu untuk diri sendiri, saat anak-anak tidur, saya akan mandi dengan air hangat dan merilekskan diri.

3. Cobalah untuk bahagia, lakukan apapun yang bisa membuat Anda bahagia.

4. Tetaplah berpikiran positif. Meski sulit, tapi hal ini sangat penting.

5. Lihat dan pandangi anak-anak, mereka butuh Ibunya hadir secara utuh.

Untuk para suami, cobalah lebih memanjakan istri-istrinya setelah melahirkan. Pujilah, meski istri berlumuran muntah, kumel, ia adalah Ibu yang telah melahirkan anak-anakmu. Bantu untuk ia bangkit, peluk, dan bilang bahwa semua akan baik-baik saja dan ini akan segera berlalu.

Mrs.E