Ifa dan Putera Mahkota dari Kerajaan Alas #ENDING

Robot Mr
Karya Robot Mr Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Januari 2017
Ifa dan Putera Mahkota dari Kerajaan Alas #ENDING

Tak lama, kami pun pindah ke kerajaan. Seisi kerajaan mengira aku adalah istri Putera Mahkota Amad Mude. Ibu menjelaskan pada mereka bahwa aku adalah anak angkat mereka. Karena, Ibu menemukan aku sebatang kara di hutan. Tak mungkin mereka berdua bilang bahwa aku terjebak dibuku yang sedang aku baca. Apalagi menerangkan bahwa aku datang dari masa depan. Mereka hanya akan menanggapku orang gila.

Akhirnya Putera Mahkota Amad Mude dan aku pergi untuk mencari Kelapa Gading. Pohon Kelapa itu ada disebuah pulau yang jauh dari kerajaan. Kami harus melewati bukit-bukit, memasuki hutan belantara lalu menyeberangi lautan untuk bisa sampai ke pulau itu.

Ketika sampai di bukit, kami bertemu dengan raksaka yang sangat besar. Ia membawa pentungan di tangan kirinya. Ia mencoba untuk memukul kami dengan pentungan besar itu. Kami berdua loncat kesana kemari menghindari pukulan maut yang ia berikan. Lalu terjebak di tebing yang tak bisa kami panjat.

“Kami hanyan ingin kepulau Kelapa Gading. Seseorang di Kerajaan Alas sedang sakit dan membutuhkan kelapa itu” Putera Mahkota mencoba menjelaskan.

“Kerajaan Alas? Siapa kau sebenarnya pria kecil?” tanya sang raksaksa.

“Aku adalah Putera Mahkota Amad Mude”

Wajah menyeramkan Sang Raksasa seketika berubah, “Kau adalah anak Sang Raja. Ayahmu pernah menyelamatkan hidupku. Ketika itu, warga Desa berbondong-bondong hendak membunuhku. Aku tak akan pernah melupakan jasa Ayahmu”

Raksasa besar itu akhirnya meminta maaf kepada kami. Ia menggendong kami berdua di pundaknya. Lalu, mengantarkan kami keluar bukit.

“Aku hanya bisa mengantarmu sampai disini. Di hutan sangat berbahaya, banyak makhluk halus yang akan mengecoh langkahmu. Kendalikan dirimu, jangan sampai mereka menguasaimu” Raksaksa menurunkan kami berdua. Di depan kami ada hutan yang sangat lebat dan gelap. Bulu kudukku merinding di buatnya.

“Ikutilah jalan setapak ini sampai kalian menemukan cahaya. Ikutilah cahaya itu, ia akan membantu kalian keluar dari hutan. Berpikir jernihlah, jangan mudah tergoda” pesan Sang Raksaksa ketika kami hendak memasuki hutan lebat itu.

Pohon-pohon menjulang tinggi. Diameternya sangat lebar, hawa dinginnya menusuk ke tulang. Seberkas cahaya kesulitan menyerobot masuk. Sebab, hutan ini begitu lebat, gelap dan berkabut. Putera Mahkota tampak tenang sekali, sementara wajahku pucat pasi.

Kami berjalan tak henti selama berjam-jam. Kakiku terasa sangat pegal, keringat bercucuran membasahi tubuhku. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar.

“Pasti kau sangat lelah” Putera Mahkota menyuguhkan air untukku. Aku mengangguk lemas, hanya tersenyum tipis.

 “Kita harus bergegas keluar dari hutan sebelum hari mulai gelap” tuturku. Kami beranjak dari tempat peristirahatan, melanjutkan kembali perjalanan.

Setelah beberapa jam berjalan. Kami menemukan persimpangan. Tubuhku terasa berat dan tidak enak. Aku ingin segera sampai ke pulau Kelapa Gading. Wajahku semakin pucat dan serasa ingin pingsan.

“Kita harus melewati jalan yang mana?” Putera Mahkota bertanya padaku. Aku melihat kekiri, kekanan dan kedepan. Di depan kulihat cahaya putih berpendar. Di sebelah kiri kulihat dedaunan pohon kelapa tinggi menjulang. Di sebelah kanan semak-semak belukar mengadang jalan.

“Itu pohon kelapanya!” seruku. Aku segera berlari ke arah kiri. Tubuhku terasa sangat berat. Aku ingin segera kembali kemasa depan. Itu pasti pohonnya, gumamku.

“Hei!” Putera Mahkota menarik lenganku. Aku setengah tak sadar menatapnya.

“Kau lupa, kita harus mengikuti cahaya? Bukan kesini jalannya!” ia menarikku. Aku melawannya sekuat tenaga. Ayo itu pohon kelapanya.Suara ghaib berbisih di telingaku berulang kali.

“Lepas!” aku menghempaskan tanganku. “Cahaya itu jauh sekali Amad Mude! Bukankah kita bisa lewat jalan ini agar segera sampai ke Pohon Kelapa Gading?” ia menarik kembali lenganku.

Ia memaksaku untuk berbalik arah. Aku melawannya sekuat tenaga, tapi dia lebih kuat dariku, “Kita harus mengikuti cahaya itu Ifa. Agar kau juga bisa pulang. Percayalah padaku!” aku memberontak, kupukul wajahnya, ku tendang kakinya, “Aku ingin segera pulang!” Suara-suara ghaib itu merasukiku.

Itu pohon gadingnya Ifa.. ayo.. kemari.. kau akan segera pulang...

Ifa.. ayo kemari..

Amad Mude mengejarku, ia menarik lenganku. Aku sudah sangat lemah, kedua kakiku terasa layu. “Kuasai dirimu Ifa, jangan goyah. Tutup telingamu, dengarkan saja aku” Amad Mude berbisik di telingaku. Kedua kakiku tak bisa bergerak. Aku tak mampu berjalan, ia akhirnya menggendongku.

***

Cuiit... cuiit.. cuuit.. cuiit..

Suara burung membangunkanku. Kulihat langit sudah biru.

“Akhirnya kau bangun juga, kita sudah sampai ditepi pantai. Kelapa gading itu terletak di seberang laut ini” ia menunjuk ke arah pulau yang terlihat kecil di ujung sana.

Amad Mude menceritakan apa yang terjadi kemarin. Aku sungguh menyesal. Aku juga melihat kakinya masih lebam bekas ku tendang dan pipinya masih memar karena ku pukul. Aku sungguh menyesal dan meminta maaf padanya.

Lalu, kami merakit kapal kayu untuk menyeberangi lautan. Kapal yang kami buat selama seharian cukup kokoh. Perbekalan untuk di kapal pun sudah kami siapkan. Ketika sampai ditengah laut. Ombak besar menghantam ujung kapal, kami hampir saja terguling. Tiba-tiba ada ikan besar yang melompat di atas kapal kami.

Byuuuuuuur

Kapal kami terhempas menjauhi pulau. Aku dan Amad Mude berpegangan pada badan kapal. Di atas kami terbang seekor naga besar. Wajahnya setengah mirip buaya, punggungnya terdapat sisik. Dari mulutnya juga keluar api yang menyala-nyala.

“Siapa kau anak muda? Sedang apa kalian disini?” naga yang bisa berbicara itu bertanya pada kami.

“Namaku Amad Mude, aku hendak pergi ke Pulau itu untuk memetik kelapa gading!” Putera Mahkota Amad Mude menjawabnya dengan keras agar Naga itu bisa mendengar suaranya.

“Aku akan memberi tumpangan pada kalian agar bisa sampai kesana” Sang Naga menawarkan bantuan pada kami.

Ia membantu kami menyeberangi lautan yang luas itu. Kami tak membutuhkan waktu yang lama agar bisa sampai kesana. Sang Naga menurunkan kami di tepi pulau.

“Aku hanya bisa membantumu sampai disini. Aku sudah dekat dengan kepala gading itu”

“Terima kasih banyak naga” Ujar Amad Mude.

“Akulah yang harusnya berterima kasih padamu. Semasa Ayahmu hidup dulu, dia sangat baik membantu siapa saja. Termasuk kami para Naga, Ayahmu tak pernah menanggap kami sebagai hewan buas dan mengerikan. Ia menganggap kami sebagai teman”

Kami melambaikan tangan pada Sang Naga saat ia hendak berpamitan.

“Ayahmu sangat baik ya Amad Mude. Pasti dia sangat bangga apabila mengetahui apa yang hari ini kau lakukan” ujarku. Ia hanya membalasnya dengan senyum.

“Kita harus segera mendapatkan kelapa gading itu” ujarnya.

***

Di pulau ini banyak sekali pohon kelapa, tapi kami tak tahu yang mana pohon kelapa gading.

“Kurasa itu pohonnya” aku menunjuk salah satu pohon kelapa yang tumbuh memisahkan diri dari pohon lainnya. Kelapanya berwarna kuning ke emas-emasan.

“Baiklah. Aku akan memetiknya” Putera Mahkota kemudian memanjat pohon itu. Ketika ia hendak memetik kelapanya, kami mendengar suara tanpa wujud muncul dari balik pohon itu. Segera Putera Mahkota turun dari sana.

Siapapun yang memetik kelapa gading milikku. Dia harus menikah denganku”

Suara ghaib itu berulang sebanyak tiga kali. Putera Mahkota terlihat bingung dan sangat cemas. Ia menatapku dengan penuh tanya, berharap mendapat jawaban dariku.

“Ini ceritamu, kau yang menentukan. Aku harap kau masih ingat untuk apa kita berjalan sejauh ini. Melewati bukit dan hampir saja jadi santapan raksaksa disana. Hampir kalap di hutan, lalu kita hampir saja meregang nyawa di lautan. Kau harus ingat untuk apa kita berjalan sejauh ini” aku mencoba mengokohkan kembali tujuan mulia Putera Mahkota.

            “Untuk memetik kelapa gading sebagai obat untuk menyembuhkan istri paman” jawabnya dengan pelan.

            Akhirnya Putera Mahkota menyetujui perjanjian tersebut. Ia memenuhi keinginan sang pemilik pohon gading. Putera Mahkota segera memetik kelapa gading tersebut. Lalu, muncul seorang wanita cantik dari balik pohon itu.

            “Aku Putri Niwer Gading” ia menyapa kami berdua.

Putri Niwer Gading sangat cantik, rambut ikalnya terjulur panjang, bibirnya merah merona, bola matanya besar dan bercahaya. Di kepalanya terdapat mahkota emas. Ia tersenyum menyapa ke arah kami.

“Itu dia calon istrimu” bisikku pada Putera Mahkota Amad Mude, “Apa aku akan hidup bahagia dengannya?” tanyanya sambil berbisik.

“Seperti yang kubilang, ini ceritamu Putera Mahkota” balasku. Ia tersenyum menghela napas.

***

Lalu, Putera Mahkota Amad Mude dan Putri Niwer Gading mengadakan pernikahan dengan meriah. Setelah mereka menikah, kami kembali ke kerajaan membawa kelapa gading. Tentunya Putri Niwer Gading pun ikut serta.

Naga yang kami temui di lautan mengantarkan kami sampai ke kerajaan. Ibu keluar menyambut kami. Dengan berlinang airmata Ibu memeluk putera kesayangannya dengan erat. Ia juga mengecup keningku, memeluk tubuhku sambil mengucap terima kasih karena telah menemani anak kesayangannya.

Kami menjelaskan semua kejadian yang kami alami. Termasuk pernikahan Putera Mahkota dan Puteri Niwer Gading pada ibu.

Paman telah menunggu kami di dalam kerajaan. Ia sangat terkejut melihat kehadiran kami. Mungkin ia pikir kami tak akan pernah kembali. Ia langsung buru-buru mengajak kami masuk ke kamar istrinya.

Wajah pucat, tubuh kurus terbaring di hadapan kami. Aku yakin itu istrinya yang sedang sakit. Putera Mahkota segera meminumkan air kelapa gading itu kepada istri pamannya. Tak lama wajah pucat pasinya berubah lebih cerah.

Hari demi hari kondisi istri Raja membaik dan akhirnya ia sembuh. Raja yang kini adalah paman Putra Mahkota begitu terharu dan ia sangat menyesal telah berbuat jahat kepada keponakannya itu. Akhirnya, ia mengembalikan kembali tahta kerajaan kepada Putera Mahkota dan Ibunya.

“Kau akan menjadi Raja yang luar biasa seperti ayahmu” ia meletakkan Mahkota Raja di kepala Amad Mude. Di hadapan seisi istana kerajaan sang raja meminta maaf kepada Amad Mude dan Ibunya.

Seisi istana menitikkan airmata melihat kejadian mengharukan ini. Aku juga tak kuasa menahan airmata haru.

Brrrrrrr.... Wuuuuuzzzz...

Tiba-tiba dinding dan lantai istana bergetar hebat. Di tambah dengan suara petir yang meledak-ledak di luar sana. Tubuhku juga terasa berat, seperti yang kurasakan saat di perpustaakan waktu itu.

“Amad Mude... Ibu.. !” seruku. Mereka menghampiriku, aku harap bisa memberikan salam perpisahan sebelum aku pergi. “Sepertinya aku harus kembali, tubuhku akan tertarik keluar dari cerita ini. Waktuku tak banyak” seruku. Kerajaan kembali bergetar, suara petir diluar semakin menggila.

Aku memeluk mereka berdua, tubuhku terasa makin berat. “Terima kasih Ifa” ujar ibu sambil mengecup keningku. Aku tak bisa menahan airmata. Namun, tubuhku makin berat sekali. Seperti tertumpuk berkilo-kilo beban di pundak. Tanganku terlepas dari pelukan mereka.

 “Selamat tinggaaaaaal” tubuhku tertarik sangat jauh kesebuah lubang. Lubang itu menghisabku. Membawaku pulang.

***

Kepalaku pusing dan tubuhku terasa sakit. Perlahan kubuka kedua mataku, langit-langit putih, rak-rak besar berisi buku terlihat masih buram. Aku menggelengkan kepala. Membuka mata sekali lagi. Kulihat seorang perempuan berseragam putih hitam berdiri di depanku.

“Bu, ini buku yang ibu cari” ia menyodorkan beberapa buku dan jurnal. Aku masih terdiam, heran.

“Jam berapa ini?” tanyaku.

“Sekarang sudah pukul 14.40, dua puluh menit lagi kami akan tutup. Saya mencari-cari ibu dari tadi. Ternyata ibu disini” jelasnya.

Aku tersenyum menghela napas. Setelah meminjam buku ini. Aku segera pulang. Masih ada waktu untuk sampai rumah sebelum kelas mendongeng dimulai. Entah aku bermimpi atau tidak, namun petualangan tadi terasa amat nyata.

***

Begitu pulang kudapati anak-anak masih setia menungguku. Sambil mengatur nafas aku mengucapkan salam dan tersenyum riang pada mereka. Spontan wajah muram mereka kembali ceria. Aku duduk di tempat biasa mendongeng.

Kulihat luka di tangan kiriku. Luka yang kudapati saat berusaha memberontak dari Amad Mude di hutan. Aku tergores kayu saat berlari. “Itu artinya petualangan tadi bukan mimpi” gumamku.

“Hari ini kakak mengalami kejadian yang sangat luar biasa. Kakak akan menceritakan kisah Putera Mahkota Amad Mude kepada kalian”

Mereka menyimakku dengan saksama. Cerita hari ini sangat berkesan sekali untukku. Aku dan Putera Mahkota dari Kerajaan Alas.

  • view 103