Ifa dan Putera Mahkota dari Kerajaan Alas #PART2

Robot Mr
Karya Robot Mr Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Januari 2017
Ifa dan Putera Mahkota dari Kerajaan Alas #PART2

Aku masuk ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Namun, cukup untuk dihuni oleh dua sampai tiga orang. Atapnya hanya terbuat dari bambu yang berhasil dirakit sedemikian rupa. Dinding kamar, ruang tamu dan ruangan lainnya tersekat dengan anyaman bambu yang rapih. Sederhana sekali. Aku tak sabar bertemu dengan ibunya. Ia seorang laki-laki yang hanya tinggal dengan Ibunya.

“Maaf, rumahku mungkin tak senyaman rumahmu” ujarnya.

“Aku lupa, tadi namamu siapa?” tanyanya. Aku hampir lupa sejauh ini aku belum mengetahui siapa nama pemuda yang sedari tadi aku ajak bicara.

“Aku Ifa, Latifah tepatnya” aku mengulang kembali namaku.

“Aku Amad Mude. Kau bisa memanggilku Amad” ia menyuguhkan secangkir air. Aku menelan ludah ketika mengetahui namanya. Bukankah ia Putera Mahkota, tanyaku dalam hati.

“Aku akan memanggilmu Amad, bagaimana?”

“Boleh saja” jawabnya.

Tak lama, seorang wanita paruh baya muncul di depan pintu rumah.

“Amad? Siapa wanita itu?” ia melihatku dengan wajah heran dan cemas. Bola matanya tak berhenti memandangiku dari atas sampai bawah lalu kembali lagi ke atas. Aku menghampiri wanita di hadapanku. Memberinya salam sambil mengecup tangannya.

Aku melempar senyum, berharap ia membalas hal yang sama. Amad Mude buru-buru menjelaskan apa yang terjadi kepada Ibunya. Aku tahu, Amad sangat mengkhawatirkan hal ini. Tak arif sekali rasanya bila ada seorang wanita asing yang berlama-lama di rumah seorang pria. Apa kata orang? Mungkin itulah yang ada dibenak Ibu Amad.

Ibu Amad menghampiriku, “Kamu harus pulang Cah Ayu” Ibu itu mengelus kedua pipiku, “Rumahku ada dimasa depan Ibu, aku tak tahu bagaimana caranya untuk pulang” aku memegang kedua tangannya yang mulai keriput. Ia menatapku dengan belas kasihan. Ia menatapku antara percaya dan tidak, namun melihat pakaian yang kukenakan ia mulai mempercayaiku.

***

Amad Mude adalah seorang Putera Mahkota. Ia adalah Putera dari Raja dan Permaisuri Kerajaan Alas. Kerajaan itu terletak di Nanggroe Aceh Darussalam. Sudah lama sang Raja dan Permaisuri mengidam-idamkan seorang anak. Raja dan permaisuri sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan buah hati. Mulai dari berpuasa, melakukan berbagai macam ritual, memanggil tabib dan cara apa pun telah mereka berdua lakukan. Namun, anak yang mereka nanti tak kunjung hadir.

Suatu hari di tengah malam yang panjang Sang Raja berdo’a, “ Ya Tuhan, hadiahkanlah pada hamba seorang anak. Meski hamba tak bisa merasakan nikmatnya menjadi seorang Ayah” dengan airmata yang mengalir Sang Raja terus mengulang-ulang do’a itu tiap malam. Mendengar hal itu Sang Permaisuri pun tak kuasa menahan tangis.

Bulan demi bulan akhirnya berlalu. Do’a Sang Raja terjawab sudah, kini Permaisuri telah mengandung. Dalam rahimnya, terdapat sebuah janin yang sehat. Janin yang sedang diperjuangkan untuk menginjakkan kaki di dunia. Dialah Putera Mahkota Amad Mude.

Setelah Putera Mahkota Amad Mude lahir. Sang Raja mengundang seluruh makhluk yang ada di Kerajaan Alas. Tak hanya dari kalangan manusia, seluruh binatang pun turut hadir untuk merayakan kelahiran Putera Mahkota. Sang Raja memberikan nama Amad Mude kepada puteranya.

Beberapa bulan kemudian, Raja jatuh sakit dan meninggal. Seluruh penduduk Kerajaan Alas sangat sedih mendengar hal itu. Saat itu, Putera Mahkota Amad Mude masih terlalu kecil untuk memimpin, akhirnya kekuasaan sementara jatuh kepada Pamannya. Karena sifatnya yang serakah, ia mengusir Putera Mahkota Amad Mude dan ibunya kehutan. Ia ingin selamanya menduduki tahta kerajaan.

Kini, Amad Mude tumbuh dewasa dan tampan. Pria dalam dongeng yang hanya bisa ku bayangkan, kini ada di hadapanku. Hari ini kami pergi ke sungai. Ibu Amad Mude sudah kehabisan bahan makanan. Jadi, kami memutuskan untuk memancing. Ia memegang bambu runcing dengan tangan kanannya.

“Kalau benar kau datang dari masa depan. Tentu kau tahu apa yang telah terjadi di masa lalu. Ya kan?” Amad Mude membuka pembicaraan pagi ini. Ia membidik ikan ikan yang berlarian dengan tombaknya yang runcing dan mendapati seekor ikan yang cukup besar. Ikan itu di taruh dalam wadah beranyam bambu di samping kami.

“Ya, tentu saja” jawabku singkat.

“Kau bilang, kau juga terjebak dalam sebuah buku. Apa yang di ceritakan dalam buku itu?”

“Cerita dalam buku itu mengajarkanku untuk tetap berbuat baik terhadap orang yang telah berbuat jahat kepada kita. Karena kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan ” aku menawap awan yang berarak di langit biru.

“Sepertinya cerita yang bagus” ia menimpali dengan positif.

“Kurasa ikan-ikan yang kita pancing sudah cukup. Mari kita pulang” ia mengangkat beberapa ekor ikan hasil pancingan kami.

***

Sesampainya di rumah. Ibu memotong ikan secukupnya untuk kami. Ibu kesulitan memotong ikan-ikan tersebut. Aku juga merasa ada yang mengganjal isi perut ikan ini. Begitu aku berhasil membelah perutnya. Kilauan emas keluar dari perut ikan ini.

“Emas! Ini adalah emas bu” seruku dengan gembira. Ibu mengembangkan senyumnya. “Kalian bisa menjual sebagian emas dan ikan ini ke pasar. Lalu, membangun rumah yang lebih layak huni untuk kalian berdua” tukasku dengan semangat. Putera Mahkota Amad Mude pun segera menjual emas dan ikan-ikan yang telah dibersihkan tadi kepasar.

Akhirnya, berbulan-bulan kami pergi memancing ikan. Seperti biasa, sebagian ikan untuk kami makan dan sebagian lainnya kami jual ke pasar. Kondisi perekonomian Amad Mude dan ibunya membaik. Ia membangun rumah yang indah di tengah hutan. Amad Mude dan ibunya menjadi saudagar yang terkenal. Ketenaran mereka terdengar hingga Kerajaan Alas. Lalu, sampailah berita ini ketelinga Sang Raja, yakni Pamannya sendiri. Ia tidak senang mendengar berita itu. Ia pun berencana untuk menyingkirkan mereka berdua.

Kemudian, Amad Mude mendapat surat perintah dari kerajaan. Pamannya meminta Amad Mude dan Ibunya untuk tinggal kembali di Kerajaan. Namun, dengan syarat Putera Mahkota Amad Mude harus bisa membawakan Kelapa Gading sebagai obat untuk istrinya yang sedang sakit. Jika tidak, mati adalah hukumannya.

“Tempat itu sangat berbahaya Nak, hanya kamu satu-satunya harta paling berharga yang Ibu miliki. Kita sudah hidup nyaman disini, Ibu sudah tak menginginkan hidup disana lagi” Ibu menangis sejadi-jadinya hingga matanya bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan airmata.

“Ibu, istri paman sedang sakit. Ia juga berbaik hati untuk mengajak kita tinggal di Istana. Di sana adalah tempat kita bu” Amad Mude berusaha membujuk Ibunya.

“Aku akan baik-baik saja Bu. Istri paman mungkin sedang sekarat sekarang. Paman adalah saudara terdekat kita. Tak peduli seburuk apapun perlakuan paman dulu, kita harus membantunya” Amad Mude mengusap airmata yang mengalir sedari tadi di pipi Ibunya.

Aku ikut-ikutan menangis melihat tingkah laku mereka berdua.

  • view 93