BULAN SABIT DAN SECUP ES KRIM -PART 2 #ending

Robot Mr
Karya Robot Mr Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Januari 2017
BULAN SABIT DAN SECUP ES KRIM -PART 2 #ending

Ku tatap keramaian langit dari atas balkon. Ada ribuan batu cahaya seperti lampu yang menggantung berkelap kelip, menggoda sekali. Mereka bergantian berkedip seolah sedang berbincang-bincang satu sama lain. Bentangan jagad raya menenangkan isi kepalaku. 

Sejumlah angka dan formula membuat otakku ingin muntah. Di tambah dengan kejadian siang tadi yang ikut berpartisipasi memualkan kepalaku.

            ”Aika, nih ada titipan”  Zahra menghampiriku dengan bungkusan yang terlihat berembun dari luar. Ia letakkan bungkusan itu disisiku.

            ”Dari siapa?” tanyaku.

            ”Gak tau, tadi aku juga dapet dari Pak Satpam, ada pesannya di dalem. Di buka aja”

            Zahra segera pergi setelah memberikan bungkusan itu. Dua cup es krim bersembunyi di dalamnya. Pengirimnya meninggalkan identitas berupa kartu berbetuk hati yang tertera inisial namanya, “R”. Ada sesuatu yang mencegah jemariku untuk membuka isi kartu berbentuk hati itu.

            “Dari siapa tuh Ka?” ledek Aini dari dalam kamar, ia menghampiriku dengan cepat.  

            “Buka dong” ledeknya lagi, sambil mengintip kartu yang ku sembunyikan.

            ”Iiih apa sih!” jawabku sedikit tak nyaman.

            ”Cieee, ada yang udah punya secret admirer ternyata” Aini terus meledek. Aku tak bisa lagi menyembunyikan warna wajahku yang sudah seperti kepiting rebus.

            ”Dia itu bukan Secret Admirer, dia itu Distruber!” bantahku.

            “Gak ada Distruber yang malem-malem gini nganterin es krim Ka..” godanya lagi sambil berlalu di depan aku. Aini kembali masuk ke dalam kamar, kemudian ia kembali menoleh ke arahku dengan wajah meledek.

Aini hilang dari peredaran mataku, aku kembali fokus pada secarik kartu ini.

            Sssrrrrt....

            Ku buka si kartu kecil itu.

            “....”

            Aku terdiam membisu.

# # #

            Pagi ini begitu berembun dan dingin. Bu Elmira mengajar lagi hari ini. Masih setengah delapan pagi, kampus belum terlalu ramai. Sambil menunggu pelajaran dimulai, aku duduk di pinggir kooridor kelas. Kedua bola mataku terasa sangat berat.

“Sudah di baca suratnya?”

Lelaki dengan senyum sabit bernama Afrizal itu muncul di depanku.

“Maksud kamu apa sih? gak lucu!”

“Aku emang lagi gak ngelucu”

“Kamu gak ada bosennya yah gangguin aku!” keluhku.

“Ganggu kamu?” tanyanya.

“YA! Tepat sekali!” gerutuku kesal.

“Kamu pikir saya gak terganggu dengan perasaan ini?”

Terganggu dengan perasaan ini? Apa maksudnya tanyaku dalam hati.

Sunyi mengisi kekosongan diantara kami. Aku mematung dengan mulut membisu, masih menunggu penjelasan darinya. Sejumlah pertanyaan yang telah ku rangkai baik-baik kini menjadi buyar.

“Aku pun terganggu, terganggu sekali” lanjutnya.

Aku menatap bara matahari di bola matanya yang tajam. Bara yang memeluk hangat bongkahan es dalam hatiku. Membuatnya sedetik kehilangan kekuatannya. Meleleh.

“Tak bisa tidur, belajar tak fokus. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, entah mengapa ada getaran hebat ketika melihatmu. Disini” ia menunjuk  letak dimana rasa sesak yang ia alami. Di rongga dadanya.

 “Kadang aku tersenyum sendiri, aku jadi begitu menyukai lagu-lagu romantis.  Seseorang mengatakan bahwa aku terkena virus merah jambu. Entah. Aku hanya baru merasakan hal ini” ia melanjutkan kembali ceritanya.

“Pertama kali? Terdengar tak masuk akal” ujarku.

Ia menatapku dengan butir-butir kecewa yang berserakan dicahaya matanya.

“Cinta mana didunia ini datang dengan permisi? Bahkan karena cinta datang dengan begitu tenang, Sang Raja lupa dengan tahtanya.” ia menatapku lekat.

“Maaf” ujarku menyesal.

“Cinta di menangkan oleh ketulusan hati bukan dari kekerasan berpikir” tukasnya lagi.

Perasaan bersalah berkecamuk ketika kulihat bulir embun bertengger di sudut mata elangnya yang tajam. Aku tak bisa berkata banyak ketika ia sekuat tenaga mencoba membuang keraguanku.

“...”

“Aku hanya ingin kamu tahu. Itu saja” Ujarnya lagi.

“Untuk apa? Untuk membuatku gusar?” tanyaku. Ada kata yang tertawan di bibirnya.

“Dan aku ingin tahu apakah kamu merasakan getaran yang sama?”sambungnya lagi.

Deg!

            Aku benar-benar ingin berlari dan enyah dari hadapannya. Namun sesuatu seolah menahan langkahku.

“Kalau tidak sama?” tanyaku sebelum menjawab.

“Aku akan tetap jadi pengagummu”

“...” aku terdiam.

“Kalau perasaan kita sama, bolehkah aku saja yang jadi pacarmu?”lanjutnya lagi.

Deg!

“…” pertanyaan itu membuatku ingin enyah, ia benar-benar menjebakku dalam posisi yang sulit. Ia mengeluarkan satu cup es krim vanilla dan menyodorkannya padaku.

“Kalau perasaan kita sewarna, kamu makan es krim ini. Kalau berbeda, kamu buang es krim ini ke tempat sampah” jelasnya.

“Bagaimana kalau kita serius?” tantangku tak mau kalah.

“Serius?? Maksudnya menikah?” jawabnya kaget.

“Iya. Tepat sekali!” aku mengiyakan.

“Menikah? Seram sekali, kita masih muda. Banyak yang harus di capai. Gak siap aku menikah dini”

Jawabannya semakin membuatku yakin tentang keputusan yang akan aku buat.

“Jadi, bagaimana?” tanyanya padaku.

“Seperti yang kamu bilang, kita masih muda. Banyak yang harus kita capai” jawabku.

“Aku gak  ngerti maksud kamu” tatapan matanya meminta kejelasan padaku. Perlahan aku kembali menyusun kata-kata yang sempat berserakan.

“Ya, seperti katamu. Kita masih muda banyak yang harus kita capai.Aku datang jauh-jauh dari rumah ke kampus ini, bukan untuk cari pacar”jelasku.

“Jadi kesimpulannya engga?” ia meminta kembali kejelasan.

Aku mengambil vanilla kesukaanku dalam genggamannya seraya tersenyum. Ada harapan memantul dari raut wajahnya.

“Maaf” ku buang vanilla favoritku ketempat yang ia pesankan. Tempat sampah.

Harapan itu perlahan sirna dari cahaya matanya. Ia terduduk lesu. Pria dengan lengkung sabit di hadapanku ini menyeka embun di sudut matanya.

“Kita masih bisa jadi teman kan?” tanyanya lagi. Aku mengacungkan ibu jari kehadapannya, “Tentu saja”

# # #

Tak terasa puluhan menit telah berlalu, aku masih di kooridor menunggu kedatangan Bu Elmira. ku lihat Bu Elmira berjalan di kooridor kelas kami.

“Kamu Aika Zahrana Puteri kan?” tanyanya saat melihatku.

“Iya Bu” jawabku.

“Tumben jam segini sudah datang. Baguslah, jangan terlambat lagi yah”

Ujarnya sambil tersenyum padaku, aku membalas senyumannya. Lalu mengikutinya masuk kekelas.

Kemelut pagi ini mencair, aku tetap berdiri diatas keyakinan yang ia anggap meragukan. Keyakinan untuk mengisi waktu sendiri. Pada akhirnya penolakan tetap membuat kami berteman. Salju dalam rongga dadaku kembali membeku. Sedingin dan selembut tiap gigitan es krim pagi ini.

 

--Selesai--

  • view 116