Kehidupan Islam di Komoro

Robot Mr
Karya Robot Mr Kategori Sejarah
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Kehidupan Islam di Komoro

Kehidupan Islam di Komoro

Komoro adalah sebuah negara kepulauan di Samudra Hindia. Nama Komoro diambil dari kosakata bahasa Arab yakni qamar (???) yang bermakna "bulan".  Komoro adalah negara Arab terkecil kedua setelah Bahrain.Komoro adalah negara ketiga terkecil dari seluruh wilayah Afrika.Komoro terletak di penghujung utara Selat Mozambik, di antara Madagaskar and Mozambik. Secara resmi negara Komoro terdiri dari empat pulau di kepulauan gunung berapi Komoro, yaitu: Maori, Komoro Besar, Anjouan dan Moheli, dan juga banyak pulau kecil. Ibu kotanya ialah Moroni yang terletak di pulau Komoro Besar.

Komoro memiliki luas wilayah 320 km2 dari batas laut teritorial. Interior pulau bervariasi dari pegunungan yang curam  kebukit-bukit rendah. Iklim umumnya tropis dan ringan, dan terdapat dua musim utama  yaitu  panas dan dingin. Suhu rata-rata mencapai 29-30 ° C (84-86 ° F) pada bulan Maret, bulan terpanas di musim hujan (disebut kashkazi, Desember sampai April), dan rendah rata-rata 19 ° C (66 ° F) di dingin, musim kemarau (kusi, Mei-November).

Ngazidja adalah yang terbesar dari kepulauan Komoro, kira-kira sama di daerah ke pulau-pulau lainnya digabungkan..Pulau ini memiliki dua gunung berapi, Karthala (aktif) dan La Grille (dormant).Kurangnya pelabuhan yang baik adalah karakteristik khas dari daerah tersebut.Mwali, dengan ibukota di Fomboni, adalah yang terkecil dari empat pulau utama. Nzwani, ibu kota Mutsamudu, memiliki bentuk segitiga yang khas yang disebabkan oleh tiga rantai pegunungan, Sima, Nioumakele, dan Jimilime, berasal dari puncak pusat, Ntringi

 Negara yang luas wilayahnya lebih kecil dari pulau Alor ini melepaskan diri dari penjajahan Perancis tahun 1975 dan karena perbedaan agama maka sebagian yang beragama Kristen di pulau Maori memilih tetap bersama Perancis.

Pulau Maori atau Mayotte adalah satu-satunya pulau di kepulauan Komoro yang memilih untuk tetap menjadi jajahan Perancis daripada bergabung dengan Komoro.Namun Komoro masih tetap mengklaim Maori sebagai bagian dari negara tersebut. PBB telah menetapkan bahwa Maori merupakan bagian dari negara Komoro, namun Perancis telah memveto resolusi Majelis Keselamatan PBB yang akan meneguhkan kedaulatan Komoro terhadap pulau itu. Di samping itu juga, pada 29 Maret 2009 referendum menyatakan bahwa Mayotte menjadi sebuah jajahan luar dari Perancis dan pada tahun 2011 disahkan oleh kebanyakan penduduk Mayotte, namun Presiden Komoro sendiri menolak hasil keputusan dari referendum ini.

Penduduk pertama yang menduduki Kepulauan Komoro diperkirakan adalah penduduk, nelayan dan pedagang dari Afrika dan Austronesia, yang melakukan perjalanan dengan menggunakan perahu.Mereka datang di Komoro sekitar abad keenam Masehi, pencatatan sejarah yang paling awal berupa jejak arkeologi yang diketahui ditemukan di Anjouan.Sehingga Komoro ditempati oleh penduduk dari berbagai wilayah di pantai Afrika, Teluk Persia, Indonesia, dan Madagaskar.

Pada abad ke-10, para pedagang Arab yang pertama telah membawa pengaruh Islam ke pulau-pulau di Komoro.Salah satu fakta yang paling kuat adalah jual beli para budak-budak dari Afrika, dan meningkatkan penyebaran dan dominasi budaya Arab di penjuru dunia.Pemukim Arab tinggal bersama penduduk yang berasal dari Indonesia-Malaysia, serta penduduk asli yang berbahasa Bantu, Swahili dan bahasa di Afrika Timur.

Di samping jaraknya yang jauh dari pantai Afrika, Komoro terletak di sepanjang selat utama antara Afrika dan Mozambik. Kepulauan Komoro, seperti daerah pesisir lain di kawasan itu, merupakan kawasan persinggahan yang penting di jalur perdagangan pada masa awal penyebaran agama Islam, jalur ini sering dilalui oleh pedagang-pedagang Persia dan Arab. Untuk penyebaran agama Islam di Komoro, penduduk Arab membangun masjid besar.

Pada tahun 933, pengaruh berbahasa Arab Sunni Persia dari Shiraz, Iran, mendominasi pulau-pulau di Komoro.Syirazi berdagang di sepanjang pantai Afrika Timur dan Timur Tengah, mendirikan pemerintahan dan tanah jajahan di kepulauan Komoro.Selama 3 (tiga) abad selanjutnya, keempat pulau (Maori, Komoro Besar, Anjouan dan Moheli), dan juga banyak pulau kecil di Komoro dikuasai oleh bangsa Shiraz.Selama bertahun-tahun dibagi menjadi 11 kesultanan.

Pendudukan Arab di daerah semakin meningkat bersamaan ketika Zanzibar jatuh pada kekuasaan bangsa Arab Oman, dan kebudayaan masyarakat Komoro, terutama sastra, budaya dan agama juga semakin berada di bawah kekuasaan bangsa Arab menggantikan kebudayaan Swahili dan Afrika asli.

Pada tahun 1973 Komoro mengadakan sebuah kesepakatan dengan Perancis untuk kemerdekaan Komoro pada tahun 1978. Para wakil dari Mayotte abstain. Referendum dilakukan di empat pulau utama, tiga pulau sepakat untuk merdeka, sedangkan pulau Maori/Mayotte memilih untuk tetap di bawah pemerintahan Perancis.

Pada tanggal 6 Juli 1975 parlemen Komoro mengeluarkan resolusi sepihak untuk menyatakan kemerdekaan dari keempat pulau, Ahmed Abdallah memproklamasikan kemerdekaan Komoro menjadi Negara Merdeka Komoro daulat al qamar (bahasa Arab: ?????????) atau État comorien dalam bahasa Perancis, dan ia menjadi presiden pertama Komoro. Ketika kemerdekaan Komoro diakui oleh PBB, Perancis menarik dukungan ekonomi untuk Komoro sehingga terjadinya kekacauan ekonomi dan politik

Komoro diterima sebagai anggota Liga Arab pada tahun 1993 M/1414 H. Selain itu, negara ini juga menjadi anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Sebagai negara Islam, pemandangan masjid dan madrasah bukanlah hal yang aneh.Terdapat ratusan masjid dan madrasah tersebar di seluruh penjuru negeri ini. Sudah menjadi hal yang umum di Komoro bahwa anak-anak yang berusia lima tahun belajar di sekolah Al-Qur'an selama dua sampai tiga tahun. Mereka mempelajari kitab suci Al-Qur'an, dasar-dasar agama Islam, serta pelajaran bahasa Arab.Rakyat Komoro beserta para pejabat pemerintahannya selalu berusaha mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance) yang dirumuskan konstitusi yang berdasarkan Islam.Dalam usaha menjaga konsistensi sebagai republik Islam, rakyat Komoro beserta pejabat pemerintahnya selalu taat menjalankan syari'at Islam secara saksama dan konsisten.Peringatan Hari Besar Islam di Komoro selalu berlangsung meriah sebagai usaha melestarikan kebudayaan Islam.Lestarinya kebudayaan Islam di Komoro juga tidak lepas dari adanya toleransi yang ditunjukkan Perancis yang menjajah Komoro. Perancis tidak melarang pelaksanaan hari besar Islam dan tidak ada niatan untuk mengusiknya sama sekali bahkan sangat menghormatinya sebagai beragamnya khazanah budaya Perancis pada era penjajahan. Pada umumnya, masyarakat Komoro beraliran Ahl al-Sunnah wal Jama'ah dengan mazhab Syafi'i.Selain itu, beberapa ajaran tarikat juga dipraktikkan di negeri itu antara lain Syadziliyyah, Qadiriyyah, dan sebagainya.Meskipun demikian, toleransi beragama berkembang dengan baik.

Di Komoro, peringatan hari besar Islam selalu diadakan dengan meriah. Beberapa peringatan besar Islam yang meriah tersebut antara lain dua hari raya, Tahun baru Hijriyah, Hari Al-Syura, Maulid Nabi SAW, Isra' Mi'raj, dan bulan suci Ramadhan. Di antara peringatan hari besar Islam yang amat menarik adalah Maulid Nabi SAW.Peringatan Maulid Nabi SAW di Komoro ditandai dengan perayaan puncak yang disiapkan oleh para ulama.

Para wanita memakai kain Chirumani dan tetua adat didampingi pemuka agama Islam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk keselamatan negara dan penduduknya.Dalam kebudayaan orang Komoro, pernikahan adalah sebuah acara yang sakral dan amat penting karena melibatkan seluruh elemen masyarakat pedesaan.Pada saat itu, keluarga mempelai saling bertukar hadiah.Akad nikahnya dilaksanakan di masjid.Seperti umumnya masyarakat matrilineal, pernikahan di Komoro lebih banyak melibatkan pihak perempuan karena wanita adalah simbol keluarga.Biasanya mereka mengenakan pakaian tradisional Komoro berwarna hitam, bwibwi.Perempuan Komoro juga sering memakai perhiasan.

Sama seperti di Indonesia dan beberapa negara muslim berkembang lainnya, orang Komoro yang sudah berhaji mendapat suatu prestise/kehormatan dalam ranah masyarakat. Mereka dianggap pandai dalam urusan agama dan sering didaulat memimpin doa di masjid. Masyarakat Komoro selalu menganggap Al-Qur'an sebagai elemen penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, mereka menghiasi masjid, istana, dan bangunan umum dengan kaligrafi Al-Qur'an.Rumah tradisional Komoro terbuat dari lumpur yang dicampur dengan jerami padi.Rumah seperti ini mengingatkan kita pada rumah tradisional India.

  • view 239