AKU LELAKIMU

Monita Dea Etika Sari
Karya Monita Dea Etika Sari Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 28 Mei 2016
AKU LELAKIMU

Pagi hari di akhir pekan, matahari masih hangat. Sebuah kesempatan yang tidak boleh terlewat untuk menjemur pakaian. Ku bentang kan satu persatu pakaian. Konon kata mama, semua ada ilmunya termasuk menjemur pakaian. Perhatikan jarak satu sama lain, mana bagian dalam dan luar, mana yang tebal dan tipis. Pikirku yang penting asal kering :).

Kusibakkan pakaian yang ku jemur. Terlihat jelas punggung lelaki yang dulu kokoh dan kini sudah melemah di depanku sedang sibuk. Ku perhatikan dari belakang. Dahinya di penuhi keringat. Sesekali duduk menyandar. Aku hanya tersenyum, sesekali pula memberi semangat. "Jantungnya udah pendek kali ya, baru segini udah capek". ucapnya saat aku memberikan segelas air putih. " Siap-siap malem harus minum obat pegel lagi, Pah".

Di keluargaku, kami hanya memilik saudara perempuan semua. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan ekstrim, kami semua tidak bisa terlalu banyak ikut terlibat. Batas minimal kalau ada yang perlu urusan naik-naik ke atas, tugasku hanya membantu memegangi tangga di bawah. Selebihnya hanya memberi semangat.

Dia selalu jadi Lelaki bagiku, tak peduli hujan atau terik matahari. Dia selalu siaga menjemputku, mengantarkanku. Hal yang paling ku suka adalah ketika Mama  menceritakan ketika menjelang kelahiran kami semua. Cerita yang tidak pernah bosan untuk di dengarkan. Dari saat setia menunggu diluar meski kedinginan, mencuci kain bekas darah persalinan tanpa merasakan jijik sama sekali, bersedia mencuci pakaian-pakaian kecil kami, sigap memandikan kami sampai membedong kami sangat rapi. Rekaman memory ku hanya sebatas saat usia 4 tahun sampai ke atas. Tapi aroma cintamu jauh dari sebelum usiaku saat itu.

Bakti kami tidak bisa sampai ke sana, Pah. Tak ada materi apapun yang bisa menggantikan cintamu kecuali kesolehah an kami kepada Sang Khalik. Tak ada permintaan lain darimu kecuali kebahagiaan kami sendiri dan penjagaan kehormatan kami sendiri.

Datanglah bila engkau menangis
Ceritakan semua yang engkau mau
Percaya padaku aku lelakimu

Mungkin pelukku tak sehangat senja
Ucapku tak menghapus air mata
Tapi ku di sini sebagai lelakimu

Aku lah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Aku lah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti

Sudah benarkah yang engkau putuskan
Garis hidup sudah engkau tentukan
Engkau memilih aku sebagai lelakimu

Aku lah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Aku lah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti


Aku lah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Aku lah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti

Aku lelakimu
Aku lelakimu

(Virzha)

Kau adalah lelakiku, yang selalu siap memeluk erat, menjaga, menenangkan badai. Kau adalah lelakiku yang selalu mendoakan kebahagiaan putrimu.

#entah sudah berapa banyak butir keringatmu hingga aku dewasa. Semoga keringatmu tergantikan dengan air telaga kautsar kelak.

 

  • view 177