Disrupsi Dunia Keuangan: Fintech yang Merubah Dunia

Monica Anggi JR
Karya Monica Anggi JR Kategori Ekonomi
dipublikasikan 10 Maret 2018
Disrupsi Dunia Keuangan: Fintech yang Merubah Dunia

PERKEMBANGAN FINTECH

Fintech (financial technology) adalah salah satu isu yang paling menarik untuk didiskusikan dalam lingkup bisnis global saat ini. Kehadiran generasi baru teknologi dalam keuangan sudah dapat dirasakan jejaknya melalu dampak nyata yang tidak hanya berdampak pada industir jasa keuangan, tapi juga bagaimana kita melakukan bisnis sehari-hari. Seperti bagaimana kita bertransaksi dengan customer dan merencanakan masa depan keuangan kita, fintech telah meruBah sistem perilaku bagaimana kita berinteraksi atau dalam bahasa bisnis sering kita kenal dengan istilah KYC (know your customer) atau kenali siapa pelangganmu. Investasi dalam sector fintech ini juga mengalami pertumbuhan yang cepat dan massif tanpa ada tanda-tanda untuk mengalami kelambatan ataupun menemui jalan buntu.

Jadi apa yang membuat fintech begitu menarik? Sebagaimana kita tahu, fintech telah jelas-jelas berhasil menarik para investor untuk mengeluarkan uangnya di sana. Berdasarkan laporan investasi terbaru, lebih dari 100 milyar dolar dana yang sudah diinvestasikan untuk industri fintech selama 5 tahun terakhir (KPMG, 2017). Investasi terbesar fokus pada area-area yang paling menguntungkan dari industri banking dan jasa keuangan. Para perusahaan venture capital pun kini memfokuskan 73% dari investasi fintech mereka untuk bisnis kecil dan menengah, dan hal ini jelas-jelas mengacaukan indsutri keuangan konvensional. (Citigroup, 2016).

Apa saja faktor yang mendorong kecepatan inovasi dalam jasa keuangan?

  • Lower barriers to entry. Batasan-batasan atau hambatan untuk masuk menjadi pemain baru dalam industri ini semakin rendah. Hal ini disebabkan karena makin mudahnya akses untuk merebut pasar (konsumen), kita kini misalnya bisa berinteraksi dengan konsumen hanya dengan menggunakan mobile phone tanpa harus melalui bank-bank retail.
  • Affordable infrastructure. Instrumen dan infrastruktur dalam industri keuangan makin mudah dijangkau. Kemampuan analyst, AI (artificial intelligence), cloud computing, dan social teknologi makin terjangkau karena makin berjamurnya perusahaan yang menyediakan jasa lepasan. Kita tidak perlu lagi repot untuk mencari ahli di bidang masing-masing, bahkan perusahaan manajemen konsultan global yang biasa kita jumpa, sudah memiliki jaringan yang luas untuk kita mendapatkan semua kemampuan itu dengan fee yang tidak terlalu mahal.
  • Mata uang dan sistem kredit yag baru berdampak pada lahirnya sistem banking dan para pemain investasi baru.
  • Perilaku konsumen yang berubah dan perubahan ekspektasi dari penyedia jasa keuangan.

Fintech telah berhasil menciptakan sebuah ruang dalam sector keuangan yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena makin terjangkaunya akses internet melalui mobile phone, konsumen yang sebelumnya tidak dapat mengakses jasa keuangan (seperti menabung, mengambil kredit, dan semacamnya), kini hanya dengan handphone di tangan mereka, semua jasa itu bisa mereka nikmati. Ini adalah hasil dari para perusahaan start up di bidang fintech yang berhasil mengkapitalisasi pasar di negara berkembang, Indonesia termasuk salah satu di antaranya.

 

MENGAPA FINTECH LAHIR?

Namun sebetulnya apa yang menyebabkan fintech muncul di tengah-tengah industri keuangan yang ada dan mengkoyak-koyakkan mereka? Bisa dapat kita tarik kesimpulan bahwa alasannya ialah adanya kebutuhan masyarakt yang tidak bisa dipenuji oleh sistem keuangan sebelumnya. Sistem keuangan konvensional tidak hidup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Ada sekita 3,5 milyar manusia hidup di bumi yang tidak memiliki akses ke sistem keuangan sama sekali. 3.5 juta orang berjumlah hampir sekitar setengahnya jumlah total umat manusia yang tinggal di bumi.

Menurut Bank Dunia, kita perlu untuk mencipatakan 600 juta lapangan pekerjaan untuk 15 tahun ke depan hanya untuk menekan tingkat kelaparan dan kemiskinan di Afrika dan Asia. Para ahli ekonomi mengatakan bahwa bagian selatan bumi atau south global yang selama ini mengalami krisis mulai terbatu dengan munculnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). UMKM mampu menciptakan 4-5 lapangan pekerjaan baru.

Namun ada masalah baru, yakni 95% UMKIM yang ada di south global tidak cukup memiliki akses untuk mendapatkan jasa keuangan yang layak. Perusahaan-perusahaan fintech hadir untuk mengisi kesenjangan pendanaan sebesar 2 triliun poundsterling (sekitar 38,000 triliun rupiah).  Seperti yang sudah kita baca di awal bahwa Citigroup menjelaskan bahwa 73% investasi sector fintech fokus pada inovasi dalam retail banking. Mengapa?

 

SELAMAT TINGGAL BANKIR

Seberapa sering kita pergi ke kantor bank fisik? Baik itu cabang atau pusat. Yah, untuk kasus Indonesia, mayoritas dari kita masih sering pergi ke sana untuk melakukan transaksi, namun tidak dengan masyarakat di negara-negara maju, apalagi para generasi muda yang kini makin intense dengan online banking. Bank seperti UBS, Jenius, dan bank-bank konvensional seperti BCA, Danamon dan lainnya sudah mulai menawarkan jasa pembukaan rekening via online, transaksi pun dengan mudah dilakukan via online. Hanya gunakan handphone dengan akses internet di tangan, Voila! Semudah itu. Benjamin Palmer, seorang futurist dan founder Barbarian Group Agency, Benjamin Palmer mengatakan bahwa “Saya hanya pergi ke bank (retail) jika mereka atau saya melakukan kesalahan.”.

Kekurangan yang tidak bisa dipenuhi oleh bank-bank konvensional dan juga ditambah dengan perubahan pola perilaku para milenial juga generasi-generai yang lebih tua dalam berinteraksi dengan mobile phone dan sistem bank telah membuat kesempatan yang sangat besar untuk lahirnya challenger banks (bank-bank baru penantang bank-bank konvensional). Starling Bank, Fidor Bank, dan banyak lagi adalah challenger banks yang mendigitalisasikan hampir semua kegiatan operasional mereka, sehingga mereka hanya membutuhkan 90% orang lebih sedikit dari yang dibutuhkan bank-bank konvensional!.

Hal inilah yang membuat para analis industri dapat menyimpulkan bahwa akan ada sekitar 2-6 juta profesional bankir di Amerika dan Eropa akan kehilangan pekerjaan mereka dalam kurun waktu 10 tahun, di mana otomatisasi dari teknologi yang dipakai oleh para challenger banks akan terus berkembang. Santander InnoVentures, sebuah perusahaan fintech di London mengatakan bahwa 20 milyar US dolar akan disimpan oleh para institusi besar yang akan mengimplementasikan teknologi distributed ledger, atau yang sekarang kita sebut teknologi blockchain.

Artificial intelligence dan otomatisasi sudah mulai memasuki area yang berbeda-beda dalam industri jasa keuangan. Agak ngeri memang. Beberapa headline surat kabar online sudah mulai mempertanyakan “Apakah fintech akan membunuh pekerjaan bankir?” Jika kita lihat pertumbuhan yang sangat cepat dalam bidang asset, kini robo-advisors sudah mulai menggeser pekerjaan di manajemen asset.  Untuk industri di Amerika, robo-advisors diperkirakan akan menghasilkan 2 triliun dolar pada tahun 2020, mungkin memang porsi ini masih diperkirakan kecil untuk pasar asset Amerika (65 tiliun dolar), namun robo-advisors dibuat dari nol dan hanya dalam beberapa tahun, sudah mampu menghasilkan uang sebesar itu.

Perusahaan-perusahaan manajemen asset mulai aktif merespon perubahan ini. Sebagai contoh, salah satu perusahaan memotong 220 karyawan asset manajemen dengan robo-advisors. Beberapa professional jasa keuangan merasa bahwa pekerjaan mereka akan dihancurkan oleh gelombang perubahan, tsunami yang akan menghancrukan institusi mereka. Dalam kesimpulan, kita mungkin tidak bisa melawan gelombang, namun kita bisa belajar untuk berselancar. Kita mungkin tidak bisa melawan perubahan teknologi yang datanh, namun kita bisa untuk mengarungi lautan dengan berdiri di atasnya.

Maret, 2018

  • view 80