Analisis Amatir: Invetasi Untung yang Buntung

Monica Anggi JR
Karya Monica Anggi JR Kategori Ekonomi
dipublikasikan 03 Februari 2016
Finance & Marketing Strategy

Finance & Marketing Strategy


Enriching articles about finance and marketing strategy in new era

Kategori Non-Fiksi

2.4 K Hak Cipta Terlindungi
Analisis Amatir: Invetasi Untung yang Buntung

Kotak (produk finansial yang bisa diubah dalam bentuk saham/sekuritas) atau yang disebut para bank investasi Collateralized Debt Obligations (CDO) bekerja seperti konsep air terjun. Uang mengalir dari papan paling atas (Safe), papan atas terisi penuh lalu tumpah mengaliri tray kedua (Okay), dan sisanya mengalir ke papan paling bawah (Risky). Uangnya didapat darimana? Ya tentu saja dari para pemilik rumah yang membayar hipoteknya. Jika beberapa pemilik rumah tidak atau terlambat membayar hipoteknya selama sebulan, berarti uang yang masuk akan berkurang dan papan paling bawah (Risky) tak akan terisi. Inilah yang membuat papan paling bawah paling berisiko dan papan paling atas adalah yang teraman untuk menjaga-jaga jika papan paling bawah tak terisi (semacam kompensasi). Karena itulah papan paling bawah diberikan bunga hipotek paling tinggi sedangkan papan paling atas mendapat rating bunga yang lebih rendah- namun tetap mengutungkan. Bahkan, untuk membuat papan paling atas lebih aman lagi untuk para investor, para bank di Wall Street menjaminkan sebuah fee yang disebut Credit Default Swap.

`

Bank-bank ini melalukan semua pekerjaan, sehingga pekerjaan Rating Agency hanya tinggal melabeli produk-produk keuangan ini; mereka bahkan tanpa ragu langsung melabeli kotak-kotak itu dengan rating AAA- investasi teraman. Karena status nya yang memiliki rating AAA, para bank investasi ini menjual kotak CDO ini dengan mudah ke para investor yang hanya ingin menginvestasikan uangnya ke produk yang aman dengan return yang tinggi Jadi pada akhirnya, para investasi banker bisa menghasilkan jutaan dollar dan membayar hutang-hutang pinjamannya ke Federal Reserve.

?

In the end of the day, para investor berhasil menemukan sebuah bentuk investasi yang bagus- keuntungan melebihi 1% dibandingkan jika hanya membeli obligasi (treasury bills) saat itu. Para investor ini sangat senang akan return yang cepat dan melebihi bunga bank Federal, akhirnya mereka ingin lebih. Mereka ingin CDO lebih banyak lagi.

?

Inilah pemicu efek domino. Bank investasi menghubungi lembaga-lembaga kreditur untuk membeli lagi hipotek-hipotek. Lembaga kreditur mengontak makelar rumah untuk mencari lagi para pemilik rumah yang ingin menggunakan jasa kredit agunan rumah- tapi makelar tak bisa lagi menemukan orang-orang ini. Mengapa? Karena semua orang yang memenuhi kualifikasi bisa diberikan kredit agunan sudah memiliki rumah. Okay, tapi mereka tak habis akal. Ketika ada pemilik rumah yang tidak membayar hipoteknya, lembaga kreditur lah yang mendapatkan rumahnya dan harga rumah selalu naik seiring waktu. Selama lembaga kreditur yang menutupi kegagalan pembayaran debiturnya , lembaga ini bisa memberikan pinjaman ke orang lain lagi. Namun kali ini agar lebih mudah mendapatkan orang-orang yang mau menerima kredit agunan rumah, mereka tak perlu membayar Down Payment, tak pelu bukti penghasilan tetap, dan tak perlu dokumen apapun! Pasar di Amerika saat itu menamakannya dengan NINA- No Income, No Assets, No Problems! You?ll get the loans anyway.

?

Dalam wawancaranya, Vernon L. Smith, ekonom yang mendapat Nobel mengatakan bahwa undang-undang saat itu begitu agresif mendorong lembaga-lembaga kreditur untuk memberikan kredit agunan ke masyarakat yang bisa dikatakan? orang-orang yang berpenghasilan sekitar 80% dari penghasilan rata-rata dan bahkan di bawahnya.?

?

Seperti yang diperkirakan sebelumnya, para pemilik rumah dengan penghasilan tak menentu ini akhirnya gagal membayar hipoteknya secara rutin- yang pada saat itu dipegang oleh bank-bank investasi. Dan pendapatan dari CDO pun berkurang seturut jumlah orang yang gagal membayar. Sebenarnya ini tak menjadi begitu masalah karena rumah-rumah yang gagal dibayar itu menjadi milik bank dan bank bisa menjualnya kembali ke orang lain. Tapi makin banyaknya orang-orang yang tak bisa membayar, dan bank mendapatkan makin banyak rumah kosong. Voila! Begitu banyak rumah di pasar, menciptakan lebih banyak supply daripada demand. Tentu saja efeknya adalah harga rumah tak lagi naik. Harga rumah mulai turun. Para pemilik rumah yang tadinya membayar hipotek secara rutin dan melihat fenomena ini pun akhirnya meninggalkan rumah mereka karena untuk apa terus membayar hipotek dengan nilai tinggi padahal harga rumah turun?

?

Bank-bank ini mulai teriak ketakutan karena produk CDO mereka kini tak lebih dari rumah-rumah yang tak berharga nilainya. Mereka mencoba menghubungi investor untuk membelinya, namun investor pun sudah dirugikan karena membeli CDO yang buruk juga. Mereka semua memegag bom yang hendak meledak; makelar rumah sudah tak mendapatkan lagi pekerjaan, lembaga kreditur memiliki banyak hipotek tak berharga yang tak bisa lagi dijual ke bank investasi, bank investasi tak bisa lagi menjual produk CDO yang berisi hipotek-hipotek yang sudah dimodifikasi ke para investor dengan meminjam jutaan dollar dari Federal Reserve, dan investor pun telah membeli begitu banyak CDO sebelumnya- yang kini diketahui tak berharga.

?

Hanya dalam beberapa saat, sistem finansial meledak dan membeku. Lehman Brothers adalah bank investasi pertama yang mendaklarasikan kebangkrutannya. Ia adalah bank investasi terbesar ke 4 di Wall Street dan telah berdiri selama 158 tahun.

  • view 325