Pertanyaan Awal: Mengapa Terjadi Masalah

Monica Anggi JR
Karya Monica Anggi JR Kategori Ekonomi
dipublikasikan 21 Januari 2016
Finance & Marketing Strategy

Finance & Marketing Strategy


Enriching articles about finance and marketing strategy in new era

Kategori Non-Fiksi

2.1 K Hak Cipta Terlindungi
Pertanyaan Awal: Mengapa Terjadi Masalah

Jasa Rating Agencies dibayar oleh para investor yang ingin tahu ke mana mereka bisa menginvestasikan uangnya secara aman. Sementara itu, jika sebuah perusahaan ingin diperhitungnkan oleh banyak investor, perusahaan itu membayar penilaian yang dilakukan oleh Rating Agency. Inilah konflik kepentingan pertama, di mana ?entitas yang dievaluasi, membayar si evaluator?, yang mana tentu saja akan berefek pada obyektifitas rating.

?

Konflik kepentingan lebih jauh datang dari fakta bahwa Rating Agency juga menilai dan mengevaluasi ? yang sering disebut sebagai ?Complex Financial Products?. Produk atau paket-paket ini memuat pelbagai jenis nilai produk dan turunannya, yang seringkali disatukan bersamaan sehingga menghasilkan pinjaman dengan risiko tinggi ke pasar. Produk-produk ini, pada awalnya diciptakan oleh Rating Agency yang berkolaborasi dengan para kliennya dan mereka biasanya dinilai juga oleh Rating Agency yang sama. Dengan kata lain, Rating Agency-lah yang mengevaluasi produk buatan mereka sendiri! Hal ini tentunya mengancam keabsahan obyektivitas rating kredit untuk jaminan pinjaman. Evaluasi krisis telah ditekan sedemikian rupa untuk memuaskan klien. Rating Agency yang lain seringkali kewalahan dengan evaluasi ini. Inilah salah satu penyebab terkuat terjadinya krisis keuangan, rating yang dibubuhi gula-gula, yang akan menyesatkan para investor internasional

?

Masalah Kredibilitas dan Efeknya Memacu Krisis Keuangan

Sekarang ini, hanya ada tiga kunci Rating Agencies, yakni Standard & Poor?s, Moody?s, dan Fitch. Tiga lembaga ini bernilai 90% dari seluruh bisnis rating secara global. Lebih lagi, saham-saham utama dari lembaga-lembaga ini dimiliki oleh para investor besar yang sama. Jadi pada hakekatnya, tak ada kompetisi di antara lembaga-lembaga itu.

?

Di banyak negara, respon terhadap kelayakan kredit ditentukan oleh hukum dan konstitusi. Kita ambil contoh, jika kelayakan kredit di sebuah negara A berada di bawah ambang batas tertentu (menurut penillaian Rating Agency), investasinya akan dianggap spekulatif (hit-or-miss).

?

Pada awal era 1970-an, debitur di Amerika Serikat bahkan berkewajiban untuk menunjukkan peringkat kredit dari Rating Agencies yang diakui secara nasional. Lebih jauh, rating secara legal dianggap sebagai sebuah opini. Jadi , Rating Agencies tak bisa dituntut atau diharuskan bertanggung jawab atas kelalaian dan bahkan kesalahan dalam membuat rating. Ini menunjukkan ke kita bahwa Rating Agencies tak punya alasan untuk takut terhadap konsekuensi dari segala kekeliruan. Apa lagi? Oh ya, tak ada pengawasn super nasional yang bisa memeriksa pekerjaan para Rating Agencies ini.

?

Masalah lainnya adalah bahkan jika semua rating yang dikeluarkan dengan kemungkinan obyektifitas-nya besar, rating itu masih merupakan sebuah perkiraan samar yang tidak bisa dijadikan faktor utama. Perngembangan-pengembangan yang tidak terprediksisi sebelumnya dalam krisis selalu bisa terjadi kapan saja. Situasi ini hadir ketika ?pemikiran ekonomi sempit? muncul dari Rating Agency yang sebenarnya kurang cocok untuk menilai atau memprediksi masa depan sebuah negara. Prakiraan para Rating Agency juga seringkali terlambat mengetahui pengembangan-pengembangan updated?yang negara sedang galakkan. Hal ini mengarahkan kita pada fakta selanjutnya, bahwa Rating Agency kerap kali meningkatkan atau menurunkan rating sebuah negara atau perusahaan terlalu jauh. Inilah yang kita sebut sebagai ?Procyclicality?

?

Ini contohnya. Anggaplah bahwa banyak investor dengan jumlah uang yang sangat besar tinggal di sebuah negara, sehingga menjadikan negara itu berada dalam proses kemajuan yang progresif; rating kelayakan kredit menaik dan makin banyak uang yang mengalir ke kantong negara. Sesaat setelah itu, situasi berjalan seperti sedia kala, namun rating nya masih di jaga agar tetap stabil. Hanya saja, ketika krisis kecil (minor crisis) datang ke negara itu dan menjadikan ratingnya turun, inilah yang akan menyebabkan krisis utama (major crisis). Mengapa? Karena saat rating kelayakan kredit turun, maka bunga pinjaman baru yang harus dibayarkan pun semakin besar. Dan saat negara hendak membayarkan pinjamannya, ia juga akan membayar bunga yang lebih tinggi kepada para kreditur baru yang hendak meminjamkan uangnya. Seperti sebuah simalakama bukan? Negara tak bisa berhenti saja melanjutkan program pengembangannya di tengah jalan.

Rating Agency mengerti akan hal ini.

Dilihat 316