Analisis Amatir: 2008 Financial Crisis in U.S

Monica Anggi JR
Karya Monica Anggi JR Kategori Ekonomi
dipublikasikan 29 Januari 2016
Finance & Marketing Strategy

Finance & Marketing Strategy


Enriching articles about finance and marketing strategy in new era

Kategori Non-Fiksi

2.4 K Hak Cipta Terlindungi
Analisis Amatir: 2008 Financial Crisis in U.S

BAGIAN SATU: PENYEBAB KRISIS

?

Sudah menonton film The Big Short? Banyak dari kita yang sudah menontonnya, tapi banyak juga dari yang sudah menonton kurang mengerti apa yang terjadi di film itu. Well, saya akan coba bahas krisis finansial yang terjadi tahun 2008 di Amerika Serikat yang akhirnya menjadi krisis dunia. Ini fenomena yang asyik untuk dibahas.

?

Kisah nyata ini adalah sebuah kesalahan finansial secara global dan terjadi di seluruh dunia, melibatkan beberapa istilah yang menarik perhatian telinga kita. Ada Sub-Prime Mortgage, Collateralized Debt Obligations, Frozen Credit Markets, dan Credit Default Swaps.

?

Untuk pemahaman lebih mudah, saya akan coba dengan gambaran seperti ini:

Krisis kredit melibatkan dua kelompok manusia ? Kelompok para pemilik rumah dan kelompok para investor. Kelompok pemilik rumah mewakili hipotek. Hipotek-hipotek ini mewakili rumah-rumah yang dibangun. Kelompok investor mewakili uang mereka, dan uang mereka mewakililembaga-lembaga besar seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dana investasi pemerintah (sovereign wealth funds), mutual funds, dan lainnya. Kelompok-kelompok ini berdiri di bawah satu payung yang sama, yakni sistem keuangan bersama-sama dengan bank-bank dan para pialang?yang kita sebut Wall Street.

?

Apa yang mengawali resesi keuangan?

Bisa dibilang jawabannya bukan hanya kerakusan para banker tapi ada tujuan mulia di sana, yakni pemenuhan pemerintahan Amerika Serikat untuk merealisasikan American Dream bagi warga negaranya. Pada tanggal 17 Juni 2002, Presiden George W. Bush mendeklarasikan bahwa pemerintah akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi mimpi ?American Dream? yaitu dengan memperbesar peluang warga negara untuk mendapatkan pinjaman dari bank sehingga mereka bisa membayar Down Payment untuk rumah-rumah baru. Tahun itu, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve membuat kebijakan yakni penurunan bunga bank yakni 1 persen! Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika bunga hipotek hanya ada di tingkat 1%, bukan hanya individu warga negara yang berbondong-bondong untuk meminjam uang di bank, namun juga para bank-bank investasi di Wall Street. Pemerintah Amerika Serikat bahkan membangun dua perusahaan besar yang akan menyediakan pinjaman (mortgage-funding) yaitu Fannie May dan Freddie Mac. Kedua perusahaan ini termasuk dalam Government Sponsored Enterprises atau perusahaan yang disponsori oleh negara. Mereka adalah perusahaan swasta, namun dibuat di kongres parlemen dan semua transaksi dijaminkan oleh pemerintah. Ini gila. Jelas semua orang akan berlarian untuk paling cepat meminjam kan?

?

Mengapa bunga bank bisa diturunkan hingga 1%?

Alan Greenspan, direktur Federal Reserve yang menjabat saat itu bukan hanya sewenang-wenangnya mengambil kebijakan penurunan bunga hingga 1%. Ini dilakukannya karena ekonomi Amerika Serikat pasca insiden 11 November 2001 begitu terpuruk. Untuk membangkitkan keadaan ekonomi, maka penurunan bunga hingga 1% (ini masih terdengar gila di telinga saya!), diyakini bisa menjadi stimulus yang sangat menjajikan. Walau Alan Greenspan sendiri dalam pidatonya bicara bahwa penurunan bunga ini bisa menciptakan bubble economic. Apa itu bubble? Bubble dalam ekonomi bisa dikatakan adalah kondisi di mana harga pasar (saham, sekuritas, aset) menaik secara tak wajar melebihi nilai seharusnya, yang akan diikuti dengan kejatuhan yang begitu cepat dan masif.

?

Bunga 1% memang menarik banyak perhatian, namun tak semua. Bagaimana dengan para investor? Mereka tantu tak tertarik sama sekali untuk menginvestasikan uangnya di Federal Reserve karena tahu mereka hanya akan mendapat bunga profit 1%. Jadi para investor menolak untuk menginvestasikan uangnya di sana. Keadaan investasi yang melemah saat itu, dilihat sebagai peluang besar bagi para bank investasi di Wall Street. Apa yang mereka lakukan? Mungkin saya bisa jelaskan dengan sebuah kisah singkat seperti ini.

?

Pemerintah menstimulus warga negaranya untuk membeli rumah. Jadi para keluarga ini menghubungi makelar hipotek untuk bisa mendapatkan Down Payment. Makelar menghubungi lembaga kreditur yang bisa meminjamkan uangnya. Akhirnya, makelar dapat uang yang dari komisinya menjual rumah dan para keluarga mendapatkan rumah. What a good deal! Lalu, lembaga kreditur tadi dihubungi oleh para bank investasi di Wall Street yang ingin membeli hipotek-hipotek para keluarga tadi. Tentu saja lembaga kreditur dengan senang hati menjualnya ke Wall Street. Ia mendapat untung dan tak lagi perlu takut akan risiko jika ada keluarga yang tak membayar utang bulanannya?karena semua risiko kini beralih ke pemilik hipotek, yang kini dipegang oleh para bank di Wall Street.

?

Para bank di Wall Street akhirnya meminjam jutaan dolar dari Federal Reserve untuk membeli hipotek-hipotek tadi dan menaruhnya di sebuah kotak (produk finansial yang bisa diubah dalam bentuk saham/sekuritas). Dengan ribuan hipotek di tangan, para bank ini akan mendapatkan bayaran dari para pemilik rumah. Lalu mereka melakukan sedikit ?sulap keuangan?, yang sebenarnya mereka memotong kotak intu menjadi 3 bagian dengan klasifikasi kualitas debitur yang berbeda:

  1. Safe- untuk debitur yang rutin dan tepat waktu membayar
  2. Okay- untuk debitur yang masih dalam taraf bisa diterima untuk tenggat pembayarannya
  3. Risky- untuk debitur yang sudah telat melakukan pembayaran.

Tiga kriteria debitur ini diolah menjadi satu kotak saja dan mereka menamakannya Collateralized Debt Obligations (CDO).

  • view 288