Pelajaran Menulis

Muhammad Zaki
Karya Muhammad Zaki Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 14 November 2017
Pelajaran Menulis

Dari sekian banyak artikel, tips dan pembicaraan tentang menulis, pada dasarnya menulis adalah berangkat dari sebuah ide atau gabungan beberapa ide yang menarik.  Ini semacam pemicu awal saja sebelum kita beranjak ke hal-hal berikutnya. Dari beberapa ide itulah kita bisa menghubungkan satu sama lain dan dikembangkan hingga menjadi sebuah tulisan. 

Bagi karya fiksi kita kemudian menyusun alur-nya, setting waktu dan tempatnya, membuat  tokoh-tokohnya, hingga pesan moral yang ingin diangkat.  Bagi karya non fiksi kita cukup membuat 3 bagian ide pokok. Pertama sebagai pengantar tulisan, Kedua analisis, ketiga kesimpulan. Untuk memudahkan penggarapan maka kita cukup membuat coret-coretan garis besarnya saja sebelum detail dituangkan dalam sebuah kata-kata dan kalimat-kalimat dalam beberapa paragraf. Dengan adanya coretan-coretan garis besar itu kita memiliki kerangka dari sebuah tulisan. Atau lebih kerennya disebut Outline. 

Menulis pada dasarnya gampang-gampang susah. Tak selamanya ide mengalir dengan derasnya. Kadang ide bisa ketemu saat di jalan, saat kita menunggu hujan reda, saat bete terjebak kemacetan, atau ketika kita memandang wajah seseorang yang ganteng atau cantik kemudian kita jatuh hati secara tak sadar padanya. Sesekali ide itu benar-benar tidak keluar. Kita sudah menyiapkan laptop, membaca beberapa novel, cerpen, artikel, buku-buku tetap saja ide itu hilang bersembunyi didalam otak kepala kita. 

Masing-masing orang akan memiliki gaya tulisan yang berbeda-beda.  Ada yang sangat serius dan padat. Ada yang bertele-tele. Ada yang kaya akan majas.  Ada yang ringan dan mengalir serta renyah bak kerupuk udang. Atau ada yang sangat tendensius dan provokatif.  Kesemuanya itu bagian dari proses seseorang menulis. Dan itu sebenarnya sah-sah saja. Karena gaya orang berbeda-beda. Tidak bisa kita memaksakan orang berubah dengan standart tertentu. Karena memaksa orang dengan satu gaya penulisan sama saja mematikan karakter dia buat menulis. Masalah tulisan itu nanti akan diterima penerbit/Media atau tidak akan beda soal. Menulis saja dulu. Toh nanti ada media yang sangat cocok dengan gaya tulisan kita,  Ingat, menulis ada tentang ide, kejujuran dan komunikasi.

Sekarang kita beranjak pada hal-hal teknis apa saja yang perlu dipahami ketika menulis. Namanya teknis, pasti sepele namun kalau diabaikan bisa membuat sebuah tulisan tidak bagus. Apa saja hal-hal teknis itu? 

Pertama Ejaan, Diksi dan Tanda baca. 

Ejaan dalam sebuah tulisan perlu diperhatikan sebagaimana standart bahasa yang berlaku. Agar tulisan kita bisa dipahami oleh kebanyakan orang. Jangan sampai karena ide dan isi tulisan yang luar biasa bagus, tapi karena ejaan yang kita gunakan tidak baku dan semaunya sendiri malah membuat masyarakat umum tidak mengerti sama sekali tulisan kita. Hanya kita saja yang paham maksud tulisan tersebut.  Repot kan? :)

Diksi atau kosakata menempati hal-hal teknis yang juga penting diperhitungkan.  Diksi mewakili makna sebuah kata. Pemakaian kosakata yang baik dan tepat akan memperindah sebuah tulisan, membuatnya menarik serta mudah dicerna banyak orang. Penggunaan diksi yang maknanya sama antara satu kata dengan kata yang lain akan membuat sebuah kalimat tidak efektif dan bertele-tele. Mubazir. Pembaca perlu segera menangkap maksud sebuah tulisan. Maka usahkan jangan sampai pembaca dibuat mual, pusing dan buka kamus serta merenung untuk memahami tulisan kita. Hindari kata-kata yang maknanya bias/ambigu/tidak jelas. Pemakaian kata-kata yang serba misteri hanya cocok untuk tulisan propaganda dan opini politik yang mengharuskan pembaca cerdas menafsirkan. Jika hanya tulisan biasa saja, maka gunakan diksi yang baik, menarik dan efektif.

Tanda baca otomatis diperlukan ketika kita memutuskan menulis sesuatu. Karena kita tidak sedang memakai bahasa lisan yang kelihatan oleh mata dan terdengar oleh telinga. Tanpa ada sebuah tanda baca, kita tidak tahu kapan ada jeda dan  harus berhenti. Tanda baca semacam simbol imajinasi kita, kapan harus terkejut, kapan harus berhenti sejenak, kapan harus berdialog, kapan harus beralih ke situasi yang berbeda dari sebelumnya. 


Kedua majas, jenis-jenis tulisan, Revisi dan Editing 

Majas/gaya bahasa  adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu yang berbentuk kiasan/perumpamaan yang digunakan untuk memperindah suatu kalimat baik itu lisan atau pun tertulis.

Bisa jadi majas untuk melambungkan daya imajinasi kita, menegaskan sesuatu, menguras emosi pembaca serta memperhalus perasaan kita. Sehingga tulisan tersebut tidak melelahkan untuk dinikmati.

Jenis-jenis tulisan juga harus dipahami seorang penulis pemula. Apakah tulisan tersebut termasuk pendapat, opini, artikel, jurnalistik,  fiksi seperti novel, cerpen, puisi, dll. Atau malah karya ilmiah.  Masing-masing jenis tulisan memiliki aturan yang perlu ditaati bagi penulisnya. 

Tahapan selanjutnya, revisian.  Biasanya buat para penulis, enaknya nulis dulu aja semua. Baru kemudian diperbaiki. Bukan menulis sambil memperbaiki. Fokus kita akan terpecah, sehingga kita bisa kehilangan ide dan konsentrasi pikiran yang  sedang mengumpulkan banyak ingatan hal-hal yang berhubungan dengan tulisan kita. Revisian ibaratnya kita sebagai korektor buat tulisan kita sendiri. Mana yang perlu di tulis, mana yang perlu dihapus dan tidak pantas disampaikan.  Pada tahapan ini penulis bisa mengurangi, menambah atau menghapus keseluruhan draf dari sebuah tulisan. Tak lupa kita melengkapi dengan data-data yang valid agar tulisan kita akurat dan faktual.

Terakhir kita masuk bagian Editing. di bagian ini pentingnya EYD, Tanda baca dan diksi. Sebenarnya tiap penerbit dan media masing-masing memiliki bagian khusus yang ditugaskan sebagai editor. Namun agar tidak berantakan sama sekali, ada baiknya kita lakukan editing sendiri sebelum dikirimkan ke pihak yang akan menerbitkan tulisan kita.  Sehingga ibarat makanan sudah jadi, tinggal di masak saja.  Bukan mentah sama sekali. 


Jika sudah menangkap dengan baik hal-hal diatas. Do it. Segeralah menulis. Jangan pedulikan pantas atau tidak. Baik atau buruk, dan lain sebagainya. Stop membandingkan tulisanmu dengan tulisan orang-orang sudah bagus tulisannya. Cukup jadikan inspirasi saja. Karena kamu butuh berproses. Kamu butuh banyak baca novel, cerpen, artikel dan buku-buku lagi. Dari sana nanti kamu perlahan namun pasti akan semakin memperbaiki tulisanmu.  Dengan menulis, kita terbiasa mengarahkan pikiran kita untuk fokus dari miliaran gagasan yang berterbangan di otak kita. Merekamnya dengan baik dalam bentuk barisan huruf dan kata-kata cantik, hingga jadi karya monumental. 

Memutuskan menulis artinya memutuskan harus banyak membaca, banyak mengamati, banyak mendengar dan menghargai perbedaan. 



Mohon masukan jika ada hal-hal yang perlu koreksi dari tulisan saya diatas. Terima kasih. 

  • view 18