Berpikir Strategis, Taktis dan Teknis

Muhammad Zaki
Karya Muhammad Zaki Kategori Psikologi
dipublikasikan 09 November 2017
Berpikir Strategis, Taktis dan Teknis

Dalam keseharian kerap akan kita temui seseorang yang senang berpikir filosofis dan strategis. Ada juga mereka yang tidak suka hal demikian, melainkan lebih cenderung memilih berpikir dan mengerjakan hal-hal yang Teknis.

Dalam sebuah perusahaan dan organisasi besar, keberadaan dua hal yang sekilas berbeda karakter berpikir ini sebenarnya sangat dibutuhkan dan saling melengkapi.  

Strategis itu kerangka berpikirnya jangka panjang. Putusannya sekarang, dampaknya mungkin baru terlihat paling cepat 5-10 tahun lagi. Taktis itu berpikir cepat, dituntut beradaptasi dengan perubahan-perubahan jangka pendek. Teknis itu ya macam kamu; kuli, staff, karyawan. Nggak perlu banyak pikir, jalankan saja petunjuk dari level strategis dan taktis.

Biasanya orang yang berpikir startegis seharusnya sudah melewati proses berpikir taktis dan teknis. Sehingga memahami saat berkomunikasi dengan orang-orang yang berada dibawahnya. Atau yang memiliki karakter taktis dan Teknis. Apabila ada kendala mereka mampu memberikan arahan yang tepat, menegur secara wajar dan memberikan solusi efektif. Orang-orang strategis ini cenderung kaya akan konsep dan teori. Konsep dan teori inilah yang jadi dasar pijakan mereka berpikir. Disamping nanti dikombinasikan dengan data-data dilapangan dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Bagi mereka yang senang hal-hal strategis,  sesuatu akan berjalan baik jika didahulu dengan proses berpikir benar terlebih dahulu. Dicari makna filosofinya, definisinya, dalil dan dasar hukumnya, prosedurnya, alur-nya, visi dan misi-nya juga targetnya yang akan dicapainya. Pada tahapan ini, mereka banyak melihat ke masa akan datang. Sehingga wajar terkadang orang kebanyakan tidak faham maksudnya dan logika berpikirnya. Karena akalnya berjalan melampaui yang terjadi. Melakukan prediksi, antisipasi dan arah.

Sementara orang-orang teknis, tidak terlalu memperdulikan itu semua. Bagi mereka hasilnya sesuai petunjuk. Tidak peduli sesuai prosedur dan teori. Yang terpenting praktiknya bukan konsep atau teorinya. Dan mampu memberikan solusi jika kondisi diluar rencana dan terdesak.

Cuma, itu cuma teori. Nyatanya sering terbalik-bolak. Yang membual di atas itu –ngakunya– pemikir strategis, tapi yang direnungkan cuma manuver-manuver taktis. Cari muka dan posisi. Yang taktis mengerjakan urusan teknis. Yang teknis muter-muter jari nggak ada kerjaan.

Porsinya bener pun, masih berkonflik. Level taktis yang cuma peduli keadaan sekarang, tidak puas dengan level strategis yang dirasa sepertinya sih rada-rada salah arah, sudahlah pakai cara taktis saja. Level teknis ngedumel sama level taktis dan strategis yang cuma bisa nyuruh-nyuruh tanpa peduli akan kendala di lapangan. Level strategis kebat-kebit tujuan jangka panjang akan meleset gara-gara taktis dan teknis kurang paham dengan arah garis kebijakan.

Supaya tiga level itu seiring sejalan, ya komunikasi yang intens dong, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Kalau satu arah saja tanpa umpan balik, manalah bisa optimal?

 

  • view 33