Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 21 Oktober 2017   12:13 WIB
Geng Motor dan Tontonan Kita

  • Geng Motor dan Tontonan Kita
    Oleh : Moh Ramli
    Mahasiswa UNIPDU Jombang
    Akhir-akhir ini negeri kita tercinta dihantui kasus geng motor yang sangat meresahkan
    masyarakat, betapa tidak, aksi-aksinya yang tak segan-segan membuat para pengendara motor
    hingga terjatuh dan terluka karena terkena senjata tajam.
    Tentu kasus keberutalan ‘’geng motor’’ bukan hal yang baru di negeri ini. Sebelum
    penulis membaca di beberapa media, melihat berita dari telivisi dan Youtube, penulis menduga
    mereka para geng motor adalah orang yang terbilang sudah berusia tua dan anak yang telah putus
    sekolah. Ternyata tidak, keseluruhan dari mereka terbilang masih remaja dan masih berstatus
    pelajar sekolah menengah atas (SMA). Ironis memang namun itu yang terjadi.
    Saat ini, kasus geng motor ‘’alhamdulillah’’ memang sangat serius ditangani oleh aparat
    keamanan, agar tidak terjadi lagi hal serupa yang menyebabkan keresahan berkepanjangan. Lalu
    pertanyaanya, mengapa terjadi demikian ? tentunya fenomena itu tidak disebabkan hanya dengan
    satu masalah, namun penulis ingin mengulas satu penyebab yang menurut perspektif penulis
    sangat logis dan erat kaitanya.
    Tontonan kita
    Diakui atau tidak, tidak sedikit serial-serial di media seperti tontonan di telivisi yang
    mempertontonkan adegan negatif, membentuk suatu geng atau kelompok anarkisme yang
    akhirnya terasutlah dan diaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Khususnya remaja yang
    notabenenya adalah masa-masa pubertas yang gejolaknya masih berapi-api, berjiwa dinamis dan
    selalu ingin meniru apa yang dilihat.
    Hal ini juga selaras dengan apa yang diuntaikan oleh Edi Sugianto (2015) bahwa,
    kenakalan remaja disebabkan oleh gagalnya remaja dalam melewati masa transisi, dari kecil
    menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang
    buruk. Seperti, tontonan yang tidak sehat; tayangan kekerasan yang mendorong mereka
    berprilaku tak sehat juga.
  • Bicara tontonan yang tidak sehat, tentu penulis tidak akan menyebutkan yang termasuk
    didalamnya. Namun penulis yakin masyarakat telah peka tentang hal itu, akan tetapi belum
    sepenuhnya sadar akan dampak negatifnya.
    Ya, pengaruh media memang sungguh sangat cepat menggurita kesegala penjuru. Dari
    sedikit pengalaman penulis, pengaruh tontonan telivisi terhadap pola fikir remaja dikampung
    halaman sendiri misalkan, yang secara gamblang adalah hasil yang dipengaruhi tontonan yang
    buruk. Yang dulunya penulis tidak perna melihat ada tawuran antar kelompok, minum-minuman
    keras, dan geng motor bermerek ninja dan apalah itu. Namun kini, kehidupan mereka sudah
    benar-benar menjelma bak sinetron pesis di layar telivisi kita.
    Dari hal tersebut, tentu ini menjadi PR penting bersama, entah itu orang tua, guru, lebih-
    lebih para kaum elit di negeri ini. Ya, mereka tidak boleh menutup mata terhadap fenomena yang
    sudah overdosis ini. Kesadaran dan empati haruslah tumbuh dalam bangsa yang dirindung
    kegalauan. Yang tidak hanya mengedepankan egoismenya dan menguntungkan kelompok-
    kelompok tertentu mengeruk hasil sebesar-besarnya, tanpa memikirkan jauh akibatnya.
    Tentunya, fenomena ini bukan sepenuhnya kesalahan media, namun penulis meyakini
    pengaruh media, yang sudah menjadi teman karib bersama, yang juga barang tentu tidak bisa
    dihindari, sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan dan cita-cita bangsa ini, yaitu,
    membangun generasi yang tidak hanya cerdasa secara intelektual namun juga secara spiritual dan
    sosial.
    Maka dari itu, sebagai bangsa yang riligius, artinya bangsa yang tidak hanya memikirkan
    ego-nya sendiri, mau untung sendiri. Mari bersama-sama membangun dan berkometmen
    memberi kontribusi bagi bangsa ini, hingga akhirnya banyak lahir generasi-generasi yang ber-
    adab.
    Semoga.

Karya : Ram Ly