Generasi Pengubah "Membangun Indonesia dengan Karya Nyata"

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Agustus 2018
Generasi Pengubah

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." ( QS. Ar-Ra'd, 13:11). 

Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak merubah keadaan suatu kaum yang berada dalam kenikmatan dan kesejahteraan, sehingga mereka merubahnya sendiri. Juga tidak merubah suatu kaum yang hina dan rendah, kecuali mereka merubah keadaan mereka sendiri. Yaitu dengan menjalankan sebab-sebab yang dapat mengantarnya kepada kemulian dan kejayaan.

Sebagai umat yang memiliki keyakinan akan kekuasaan Tuhan, dalam perspektif bernegara dan berbangsa kita tentunya akan mengamini bahwa untuk membangun sebuah peradaban bangsa yang maju dan mensejahterakan rakyatnya tidak hanya selesai dengan beretorika, dan saling menghujat antar elemen bangsa, kerja keras dan kerja nyata adalah aktualisasi konkrit sebuah upaya membangun bangsa yang lebih baik, karena kemajuan tidak datang sendirinya tapi harus diperjuangkan, baik mulai individu hingga perjuangan bersama-sama.

"If you cannot do great things, do small things in a great way" (Jika Anda tidak bisa melakukan hal besar kepada masyarakat, lakukanlah hal kecil dengan cara yang besar). Begitulah ungkapan Napoleon Hill, penasihat Presiden Amerika Serikat yang cukup tersohor, Franklin Delano Roosevelt. 

Kumpulan hasil kerja nyata dalam bentuk kesuksesan setiap individu bangsa akan menjadi sebuah kesuksesan yang luar biasa, kontribusi setiap individu masyarakat akan terakumulasi menjadi sebuah kesuksesaan membangun sebuah peradaban bangsa itu sendiri. Ada sebuah teguran bahwa jika belum mampu menjadi solusi maka janganlah kita menjadi sumber masalah.

Rasanya kata demi -kata tersebut diatas begitu relevan untuk menggambarkan bagaimana seharusnya setiap individu anak bangsa mampu memberikan prestasi untuk mendorong kemajuan sebuah bangsa. Mereka adalah kelompok maupun individu yang harus melakukan kegiatan-kegiatan produktif baik sektor riil maupun sosial seperti bidang perbankan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kerajinan tangan, dan berbagai bidang lainnya yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Semua itu menjadi sebuah bentuk social entrepreneur (kewirausahaan sosial) di mana kelompok maupun individu yang care terhadap permasalahan sosial menggunakan kemampuan entrepreneurshipuntuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan (education), dan kesehatan (healthcare).

Tentu untuk mencapai sebuah kemajuan dan kebahagiaan bersama, yang diperlukan adalah usaha-usaha bersama. Dalam ukuran masa depan, kebahagiaan suatu masyarakat tidak lagi sekadar diukur dari besaran pendapatan, tetapi juga telah bergeser menjadi sikap saling memberi, menolong, dan berjiwa empati kepada yang lain. Saat ini bisa kita lihat di negara-negara maju seperti Amerika Serikat misalnya sedang berkembang tren filatropis (kedermawanan sosial).

Para konglomerat kaya seperti Warrent Buffett dan Bill Gates rela menyumbangkan kekayaannya untuk kegiatan sosial kemanusiaan. Intinya, social entrepreneurship merupakan suatu solusi riil untuk membantu meringankan beban orang-orang yang kurang mampu yang tentu saja tidak bisa semata-mata diandalkan pada peran dari lembaga pemerintahan.

Masyarakat secara pribadi maupun kelompok bisa bergerak sendiri dan membangun kemandirian yang tentu akan menghasilkan efek ganda, di satu sisi membantu meningkatkan kesejahteraan orang lain, tapi di sisi lain juga memberikan manfaat profit. 

Di tengah kegalauan masa depan, krisis moral, dan kegelapan bangsa, kita sebagai anak bangsa harus mampu menjadi lilin yang menyala memberi harapan, menjadi inspirator bangsa yang mampu menguatkan semangat dan kepercayaan diri kita bahwa hari esok itu akan menjadi milik kita bersama. Berbuat tidak saja untuk membantu meningkatkan kesejahteraan orang lain, tetapi juga memberi makna pada pembangunan bangsa  melalui karya-karya yang nyata. Kita harus mampu memberi asa menuju kebangkitan bangsa hendak yang kita capai. Kebangkitan bangsa itu artinya kita bangkit dari kemiskinan, kebodohan, dan ketergantungan pada asing untuk menjadi bangsa yang mandiri dan bermartabat.

Dalam era globalisasi dan keterbukaan informasi serta memasuki revolusi industri 4.0, setiap bangsa harus menyiapkan diri untuk menjadi pemenang. Untuk menjadi pemenang, tentu saja kita membutuhkan karya-karya yang nyata. Karena setiap karya yang nyata tidak hanya wujud dari kerja keras,tetapi yang lebih penting adalah wujud kepercayaan diri kita pada kekuatan dan kemampuan sendiri.

 Sebagaimana ungkapan Founding Father kita, Bung Karno bahwa masa depan Indonesia harus dibangun pada tiga kekuatan visi yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian yang berbudaya. Namun, memang tidak mudah untuk mencapai kemajuan. Modal sumber daya alam saja tidak cukup, apalagi sekadar modal visi. Yang diperlukan sekarang adalah semangat inovasi dan daya saing. Ini yang seharusnya terus kita genjot. Ini yang perlu dijadikan sebagai modal untuk sukses berkarya bagi masyarakat dan bangsa.

Untuk bersaing di era globalisasi, tentu yang diperlukan adalah inovasi dan daya saing. Sumber daya alam bukan lagi jaminan kemajuan, melainkan penentunya adalah sumber daya manusia yang berkualitas yang punya inovasi dan daya saing. Modal tersebut kita miliki karena kita tidak hanya dikaruniai oleh sumber daya alam yang besar, tetapi juga sumber daya manusia di mana saat ini kita memiliki bonus demografi.

Dari rata-rata usia orang Indonesia saat ini, kita memiliki penduduk usia produktif yang lebih besar dari total hampir 250 juta penduduk. Ini artinya, modal untuk menjadi lebih maju ke depan semakin terbuka lebar. Bandingkan dengan negara-negara maju sekalipun, jumlah penduduk yang mereka miliki masih menumpuk pada penduduk usia lanjut. Mereka membutuhkan belanja dan pengeluaran yang besar untuk jaminan sosial.

Sementara untuk bangsa kita, kita memiliki bonus demografi usia produktif. Hanya permasalahannya, bagaimana mendorong penduduk usia produktif ini agar mampu berkarya nyata. 

Negara memang seyogyanya harus memberikan kesempatan seluas-luasnya dengan memfasilitasi karya-karya para generasi bangsa untuk memberikan aktualisasi pembangunan peradaban bangsa lewat karya nyata. 

Di sisi lain sebagai generasi bangsa sudah saatnya kita berpikir bukan sekedar menjadi generasi penerus tapi juga harus mampu menjadi generasi pengubah. Dan sekali lagi kontribusi kita adalah karya nyata, sebuah wujud upaya membangun peradaban bangsa. Tentunya kita berkontribusi sesuai dengan kapasitas kita, sesuai dengan bidang dan kemampuan kita, sesuai dengan pasion kita.

Bila para pendahulu kita meneladani dengan ungkapan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya sehingga mendorong kita untuk menjadi generasi penerus bangsa, mari mulai saat ini kita memberi ungkapan untuk kontribusi kita pada pembangunan bangsa ini " Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki individu yang berkarya nyata, individu bermental pemenang, bukan individu bermental penghujat semata " karena sekarang adalah eranya kita para generasi pengubah.

  • view 48