Maafkan aku, Oh Subuh

Maafkan aku, Oh Subuh

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2018
Maafkan aku, Oh Subuh

Pagi ini mataku masih berat, berat sangat macam ada lem yang merekatkan kedua katup mataku. Semalam aku disibukkan dengan diskusi-diskusi berat, menurutku sih, tapi mungkin bagi orang lain diskusi remeh temeh yang nggak ada mutunya sama sekali, kenapa aku bilang diskusi berat karena memang diskusinya banyak membahas ragam masalah yang sebenarnya bukan ajang untuk dibahas atau setidaknya bukan kapasitas aku yang membahas. Tapi juga namanya diskusi tanpa back drop dengan kalimat diskusi publik dengan moto atau tema, ya jadinya meluncur bebas tanpa rem, bahkan kaum kuntilanak yang nggak pernah kami temui pun jadi bahan diskusi, hingga tak sedikit orang bilang hanya upaya memuaskan nafsu begadang saja.

Biasanya malam-malam aku isi dengan mantengin computer, berselancar ria di dunia maya, mencari inspirasi, entah hanya sekedar download lagu-lagu klasik atau hanya sekedar mencari referensi berita terhangat seputar konflik, seputar isu sparatis hingga seputar liku-liku perpolitikan nasional. Wah berat banget kayaknya, bukan itu yang perlu disorot tapi harusnya kita tanya, kenapa dan ngapain aku sibuk dengan hal-hal begitu, rasanya juga tak terlalu berkolerasi dengan dunia kerjaku. Secara memang begitu, tapi lagi-lagi semua itu hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu alias kepo yang aku miliki, kata temanku minimal ketika naik busway ada yang ajak ngobrol tentang permasalahan bangsa bisa ikut berkontribusi dengan menimpali keseruan diskusi tidak hanya diam. Tapi tahukah anda, bahwa faktanya naik busway itu ternyata minim sekali terjadi obrolan paling- paling sepatah dua patah kata itupun hanya bilang permisi, maaf, karena mau lewat hendak turun ke halte.

Seharusnya malam-malam di suasana begini yaitu suasana ramadhan, sebagai muslim harusnya aku disibukkan dengan tadarus qu'rn dengan berusaha eksis di pengeras suara agar para tetanggaku tau oh itu suaraku, bisa ngaji juga ternyata, ehem ehem. Iya memang seharusnya begitu malam ramadhan diperbanyak dengan diskusi dengan mengaji, berhadapan langsung dengan wahyu tuhan, berdiskusi tentang keluh kesah amaliah didunia, tentang sejarah peradaban masa lalu, dan tentang anjuran-anjuran berbuat baik dan berusaha melawan kebathilan. Sebuah diskusi yang diakhiri dengan bangun malam atau kerennya qiyamul lail, sebagai pembuktian kita merasa punya Tuhan yang sudah sewajarnya ditemui dan diajak berkeluh kesah, karena memang tugas seorang manusia yang disebut ciptaan harus banyak mendekat pada sang penciptanya. Harusnya memang malam-malam beginilah sarana dan wahana untuk itu, yang kemudian ditransformasikan ke malam-malam selanjutnya, nggak melulu booming pas ramadhan dengan dalih malam seribu bulan dan lipatan ganda pahala yang dijanjikan, toh pada dasarnya amalan itu juga kembali pada kita ibarat sebuah kebutuhan pribadi yang harus kita penuhi karena rasa kesadaran diri kalau memang kita serba dalam keterbatasan.

Tapi sudahlah aku tidak terlalu memusingkan dengan berbagai argument diatas tadi, agar sok kelihatan filosofis aku utarakan saja dengan bukannya setiap perjalanan hidup adalah sesuai dengan skenario sang pencipta, jadi semua ini sudah digariskan dong. Ahh, bukan filosofis jadinya, malah terkesan membela diri dengan dalih-dalih punya rasa dan karsa yang lebih dalam ketimbang para kelompok yang beragumen dengan dalil dan dalil. Tapi memang begitulah semua sedang sibuk mempertegas jati diri, kelompok dan faham, banyak yang sibuk beraguman dengan basis masing-masing, hingga menyentuh sisi syar, humanity, konstitusi hingga imajinasi. Tapi berlalu dari semua itu mungkin aku sudah saatnya banyak minta maaf pada subuh, iya subuh-subuh di beberapa waktu ini banyak yang tidak aku jumpai, ya maklum lah semua sudah pasti tau dengan kesibukan-kesibukanku diatas ehem ehem.

Jika sholat adalah kewajiban yang sudah ditentukan waktunya, maka tepatlah jika aku harus banyak minta maaf pada subuh, iya, dia adalah salah satu kewajiban yang harus aku temui tatkala aku masih sibuk dengan egoku menikmati pelukan selimut, hingga aku paksa subuh untuk menunggu sesukaku mengqodo'nya. Aku memaksa dia untuk memahami betapa sibuknya aku dengan kelalaianku sendiri. Padahal setiap malam aku masih sempat bertemu dengan salah satu saudara jauh si subuh, sang terawih, karena lagi ngehits aku selalu aktif bersalaman dengannya setiap malam, sembari menunggu kawan dan tema diskusi malam. Tapi memang dasar akunya yang terlalu egois, saat perut kenyang menyiapkan buat besok beritual seperti orang diet, aku terlelap duluan dan berkali-kali subuh pun harus menungguku bangun saat mentari mulai mengintip gugusan perkampunganku.

Maafkan aku subuh, kau terpaksa menungguku terus, jika kwajiban menemuimu adalah sebuah kewajiban yang telah ditentukan waktunya harusnya kamu sudah meninggalkanku terus terlelap tapi aku rasa Tuhan memang maha tanpa batasan sehingga kamupun diperintahkan untuk menungguku bangun. Tapi semua memang kebodohanku, yang tak pandai mempelajari bergulirnya waktu.

"Maafkan aku subuh"

  • view 54