Gadis berdiri dengan peluh dalam sebuah bis

Gadis berdiri dengan peluh dalam sebuah bis

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Mei 2018
Gadis berdiri dengan peluh dalam sebuah bis

" Bis kota sudah miring ke kiri sesak oleh penumpang... na na na " sebuah lagu pengamen mengalun merdu mengiringi perjalananku senja itu, masih teringat betapa panasnya jalanan Jakarta sore penuh debu membuat perjalannaku tadi menembus padatnya kerumunan orang di terminal pulogadung semakin menyisakan bulir-bulir peluh perjuangan hingga akhirnya aku dapati bis ini, tak  bisa dikatakan bagus tapi lumayan buat mengantarku kesebuah kota di deretan pantai utara pulau jawa.

kegagalan itu masih membekas, terasa perih perpaduan antara rasa kecewa dan kemarahan bergelut memperebutkan sebuah tropi kekesalan, sore itu memang sebuah perjalanan amarah. Aku menamakan diriku seorang pecundang peraih kegagalan, disaat aku ingat sebulan senelum kejadian sore itu betapa gagahnya senyummu menyematkan sebuah cita-cita untuk berkarya dinegeri orang-orang hebat. Jepang, iya sebuah negeri yang terkenal akan rasa disiplin, impianku saat itu untuk mengunjunginya, aku ingin berbagi pada guguran bunga sakura disana, menikmati pelukan dingin dan sapaan senyum sushi. Arkhhh tapi ya sudahlah gara-gara situa bangka dengan seenaknya melempar mimpi itu dengan sebuah kalimat sadis " kalo mau berangkat harus bayar mas ". Bukan tak mampu, tapi saat itu aku sudah masuk ke mulut beberapa singa buas dan rakus, si tua itu entah yang keberapa membuatku amnesia, hanya ingat saat aku tak mampu lagi makan enak diwarung bawah jembatan penyebrangan itu.

Sore itu aku berusaha lari, menuju kota Indramayu. Aku kenal kota itu dari seorang sahabat yang menawarkanku singgah sekaligus melepas kesal, dalam ceritanya aku harus datang pada sebuah negeri dongeng dengan gugusan sawah menghijau, tak jauh beda aku rasa dengan kampung mungil kelahiranku, tapi jadi beda jika aku hadir disebuah kota baru bagiku dengan setumpuk kegalauan. 

Aku tak peduli berapa sesak bia yang membawaku melaju bersama galau sore itu, pastinta aku terhimpit oleh bermacam bau menyengat, sempat membuatku pusing. Tapi kenapa harus mengeluh, bukannya dari dtadi aku sudah pusing karena kebengisan, archhh sudahlah biarlah berlalu, biarkan masa ini jadi sebuah simponi menemani aliran air mata hati yang terus membanjiri. Aku teru melamunkan kegerutuan nasib, hingga mata tak sadar berakhir pandang dengan sebuah sosok lembut dengan peluh di dahinya. Dari seluet nya aku rasa dia seorang gadis , iya benar, gadis berkerudung menenteng koper hendak menuju sebuah tempat. Mungkin aku tidak selalu sial, toh buktinya dia berdiri menyaksiakan para manusia cuek dengan penuhnya semua kursi. Kami hanya dipisahkan oleh satu lelaki berotot, tak lebih seperti seorang yang biasa menagih hutang.

Aku terus perhatikan dia yang sibuk dengan ponsel lipatnya, semacam sebuah hiburan baru saat semenit lalu aku terus menggerutu. Mengingat perjalananku yang jauh aku merasa enggan bila harus berbagi kursi, tapi hati kecilku terus nyinyir dengan sindiran betapa aku tidak berbelas dan minim kepekaan sosial, dimana ada seorang yang harusnya lebih membutuhkan kursi itu. Ahh biarlah aku berdiri dan akhirnya aku putuskan memberikan kursiku, bukan karena aku tak tega tapi tidak lebih karena dia seorang gadis yang mungkin tak mampu lama berdiri.

" silahkan duduk neng " sebuah kalimat meluncur berdefinisi aku mengalah dan , mempersilahkan gadis itu menikmati kursi yang sedari tadi aku dudukin, saat itu aku merasa seperti serang pria hebat bak para superhero menyelamtkan wanita, aku kira krah bajuku semakin sesak, ada pembengkakan di bagian atas tubuhkan, ha ha ha sudahlah akhirnya gadis itu membalas dengan ucapan terima kasih diiringi dengan pergeseran kami bertukar pusisi walau harus di hiasi dengan tatapan nanar pria berotot tadi.

Waktu melaju sama persih dengan deru bis di sore menjelang redup, akhirnya kami menautkan obrolan demi obrolan sehingga banyak bertukar cerita, hingga berkesimpulan kita sama- sama tau tujuan masing-masing. Tak terasa semua itu membuatku lupa dengan segala kegalauanku ketika awal melangkahkan kaki menaiki tangga bis ini, aku terbawa oleh buaian suasana, ya biarlah semua menjadi sebuah penerjemah definisi kehidupan. Aku terhempas dan akhirnya terhenyak saat dia berpamitan untuk turun dalam suasana baru sekian menit aku berhasil duduk disebelahnya setelah seorang ibu lebih dudlu berundur diri untuk turun. Yahh, tidak seru menurutku tapi itulah sebuah perjalanan pasti ada titik hentinya. Ya sudahlah dia berlalu menyisakan senyuman dan sebuah peninggalan, iya sebuah nomor telepon, yang kami tukar dengan harapan ada sebuah percakapan selanjutnya.

Dia berlalu, dan bis ini tak peduli denganku yang masih termangu, akupun dibawanya berlalu, dan kegalauan itu dengan senyum sinis datang lagi menghampiriku, tapi aku bukan lagi beberapa jam lalu sekarang aku sepadan kuatnya dengan kegalauan itu. Bus terus melaju dan melaju.

  • view 47