Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 6 April 2018   04:54 WIB
Cerita Kiral dan Romo

Ketika jarak menjadi bingkai sebuah cinta, cerita ini bukanlah sebuah pembicaraan tentang jarak yang memisahkan kita, tapi tentang mensiasati jarak untuk hanya jadi sebuah bagian dari cerita, di era berkemajuan seperti sekarang ini dimana teknologi berkembang seperti berlari maraton meninggalkan setiap kita yang terlalu berleha-leha dengan keadaan dan waktu, jarak hanya jadi sebuah kalkulasi ukuran.

Saat kiral si kecil mungil yang penuh dengan semangat dan romonya memaknai jarak hanya sebagai sebuah ukuran, disitulah setiap hari dan setiap saat mereka selalu terasa dekat seperti saat kiral masih seperti saat mereka bercengkrama dalam sebuah ruang yang sama, kiral tetap menebar senyum lucunya, masih suka pamer sepatu baru,  pamer sudah makan sama telor disuapin oleh mama, menunjukkan karya mewarnainya yang sekilas nampak hanya seperti coretan-coretan dibuku gambarnya, tak jarang ngotot tentang sebuah pelafalan " A Ba Ta Tsa " hingga menunjukkan sikap ngambek ( marah) saat asyik nonton serial upin-ipin dan mamanya selallu mengganggu dengan jahil.

Sebuah momen keseruan selanjutnya adalah ketika kiral dengan gayanya mengajari romonya tentang sebuah lagu, kiral tak pernah sungkan dan dengan  berani meyalahkan romonya tentang sebuah lirik lagu yang dia rasa lagunya tidak sesuai dengan lirik aslinya.

" Bangun tidur ku terus Wudlu dilanjutkan untuk sholat subuh, Habis shubuh ku ikut ngaji dengan mama yang ngajari "

Begitulah kiral selalu meminta romonya menyanyikan lagu-lagu dan bila dengan sengaja romonya membuat lirik yang berbeda pasti akan langsung di sela dan disalahkan oleh kiral. Ada lagi saat keseruan selanjutnya di waktu maghrib-maghrib ketika romo telepon dengan video call sedangkan kiral lagi asyik dengerin adzan disalah satu channel TV swasta dengan  klip upin ipin, karena kiral tak terlalu merespon panggilan romo, maka romo bilang, " Kiral dipanggil papa kok diem aja, tipinya kecilin nak, masih adzan ini "

" nggak mau, adzan jangan di kecilin " kiral langsung merespon dengan melarang mamanya saat mau mengecilkan volume televisi, mungkin mau menegaskan bahwa kiral lagi suka banget atau asyik menyimak adzan dan menikmatinya, hingga ketika adzan sudah selesai kiralpun langsung merengek untuk memindahkan channel ke TV nasional milik pemerintah yang selalu menayangkan siaran Asma'ul Husna setelah adzan maghrib. Waktu maghrib yang diceritakan adalah untuk wilayah DKI jakarta dan sekitarnya dan saat menelepon perbedaan waktu romo dan kiral adalah 2 jam karena romo memang sedang berada di Kep. Kei Maltra.

Cerita keseharian kiral dan romo saat sedang tidak bercengkrama bersama, mensiasati jarak, menaklukkan rindu dengan cerita, dengan cinta.

Catatan.

" Bahasa dan kata-kata kiral sebenarnya masih setengah-setengah dan belum terlalu jelas, hanya suku kata terakhir yang jelas terucap, untung ada penerjemah yang lihai yaitu sang mama ( itulah kehebatan seorang ibu )"

Sebuah cerita menarik interaksi kiral dengan romonya dengan berbagai situasi, bukan hanya romo yang memberi pelajaran pada kiral tentang arti sebuah hidup, tentang hak dan tanggung jawab serta kewajiban sebagai manusia, tentang indahnya sebuah perjalanan dan perenungan akan hakekat hidup pemberian sang maha kaya, sang penggenggam jiwa, Allah SWT. Tapi disini romopun banyak belajar dari kiral, tentang memaknai hidup dengan kepolosan dan keceriaan tak perlu menyiapkan beragam jenis topeng untuk menghadapinya.

Awi M noer

Karya : Moh Nur Nawawi