Sampai kapan kita buat Ibu pertiwi terus bersedih ?

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Renungan
dipublikasikan 05 April 2018
Sampai kapan kita buat Ibu pertiwi terus bersedih ?

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

Mengapa Ibu Pertiwi merintih dan menangis ?, padahal semua tahu bahwa Ibu Pertiwi sangatlah kaya-raya. Apakah gerangan yang menjadi sebab sehingga Ibu Pertiwi harus meratap sedih dan terus berlinang air mata, padahal sebenarnya terlihat bahwa dia hidup serba berkecukupan ?.

Kita semua adalah putra putri dari Ibu Pertiwi, termasuk aku yang mungkin bukan siapa-siapa, aku hanyalah bagian terserak dari pinggiran sebuah peradaban. Jika aku memang masih mengaku sebagai salah satu anak dari ibu pertiwi maka sudah saatnya aku harus mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan diatas.

Aku mencoba merenungi tentang sebuah liku perjalanan pendekku pada sebuah dimensi kehidupan kecil dalam bagian peradaban negeri ini, aku coba juga memahami definisi sebuah kehidupan dalam sebuah bingkai bangsa. Saat adzan Subuh terdengar lantang mengumandang oleh suara serak tak begitu merdu milik seorang bapak tua renta di lingkungan tempatku tinggal karena memang para anak mudanya sibuk begadang menghabiskan malam hingga ketiduran saat subuh dating.

Ada yang sibuk menggali potensi diri dengan mempelajari seluk beluk proses kimiawi sebuah minuman, ada yang terus duduk berdiskusi sambil ngopi bercerita tentang kebobrokan negeri tanpa diakhiri dengan sebuah solusi hingga ada yang sibuk dengan tumpukan deadline pekerjaan demi sebuah karir genilang tak lupa disudut taman kota ada yang sibuk dengan kegalauan.

Fikiranku terbuka lebar, suara bapak tua itu menyerukan kata-kata, “ Mari kita dirikan Sholat dan Mari kita menuju kemenangan” Kemenangan disini aku artikan sebuah kebahagiaan.  Kata bahagia kau jadikan key word untuk memaknai tentang pertanyaan-pertanyaan diatas.

Kebahagiaan adalah cita-cita kita semua, harta yang berlimpah dan kehidupan yang serba berkecukupan ternyata bukan syarat utama kebahagiaan. Ibu Pertiwi yang kaya raya merasa hidupnya sangat tidak bahagia karena kehidupan keluarganya penuh dengan perbedaan pendapat diantara anak-anaknya sendiri.

Perbedaan-perbedaan itu terus menimbulkan konflik keluarga sehingga ibu pertiwi semaikin perih melihat tingkah polah putra putrinya. Bukan berusaha mengelola perbedaan untuk menjadi sebuah kekayaan kazanah untuk mewujudkan persatuan tapi justru perbedaan dibuat semakin cantik untuk ambisi kemenangan sendiri. Perbedaan dijadikan komoditi kepentingan untuk saling menjegal dan saling menghakimi saudaranya sendiri.

Ibu Pertiwi merintih melihat putera-puterinya berdebat saling menyalahkan. Anak yang satu merasa lebih mampu dari yang lain, anak yang lain merasa diperlakukan tidak adil dan sebagainya. Putra-putri pertiwi saling mengedepankan ego pribadi tanpa melihatnya betapa sedihnya ibu pertiwi.

Setiap hari keluarga Ibu Pertiwi selalu diwarnai dengan perdebatan, sehingga hampir seluruh anggota keluarga lupa menyiapkan makanan bagi seluruh anggota keluarga, baik untuk sarapan pagi maupun untuk makan siang dan makan malam. Sedangkan Ibu Pertiwi sudah mulai beranjak tua, dia sudah berkurang kekuatan untuk mengerjakannya sendiri. Ibu Pertiwi hanya bisa menangis dan berdoa agar anak-anaknya kembali rukun dan berjuang bersama meraih kembali kebahagiaan yang sedang beranjak menjauhkan diri.

Disaat para putra-putri pertiwi terus berdebat, terus saling menghujat dan terus saling mengalahkan satu sama lain sehingga lupa menyiapkan kebutuhan keluarga hingga lupa kan nasib sang Ibu kandung, yang telah membesarkan dengan keringat dan air mata. Kita biarkan Ibu pertiwi terus merintah. Disisi lain harta dan kekayaan keluarga Ibu pertiwi dibuat pesta penjarahan oleh bangsa-bangsa lain. Oleh keluarga-keluarga lain. Kita putra-putri pertiwi yang telah dibesarkan dan dipintarkan sibuk mengenyangkan perut dan saling bersikutan sesame saudara lupa bahwa harta kita telah banyak dibawa lari oleh orang lain.

Sampai kapan kita buat Ibu pertiwi terus menangis dan bersedih ?

Cukup sudah !!! Mari bergandengan tangan menyelamatkan keluarga.

Salah satu putra Ibu pertiwi

Moh. Nur Nawawi

  • view 28