Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 5 Maret 2018   20:22 WIB
" Pemberdayaan masyarakat" Sebuah obrolan warung kopi

Sebuah perjalanan di kala senja itu menyeret aku pada sebuah tempat, tempat yang sebenarnya tidak asing bagiku, sebuah pinggiran kota yang beberapa tahun lalu aku pernah singgah disini, aku sempat beberapa bulan mondar mandir ditempat ini pada masa itu, perjalanan ini adalah anugerah sang pencipta untuk mengajarkan aku tentang beberapa hal.

Saat aku duduk dalam warung dekat deretan warung kopi dan nasi tempat para pekerja disini meluruskan pinggang atau sekedar melepas dahaga dengan segelas air jeruk dingin, datang duduk didepanku seorang pemuda penuh dengan tato, sangar nian aku rasa dalam hati, berbadan kekar, tegap dan menyiratkan kebengisan, dia duduk santai memesan es teh dan sepiring gorengan, bersanding dengan air mineral punyaku pesanan diapun tersuguhkan oleh pelayan warung yang senantiasa berlenggok tatkala berjalan.

" kerja dimana bang, ? " seutas tanya pemuda itu berusaha mengawali obrolan denganku, dan aku fikir sebuah usaha untuk mencairkan suasana diantara kami.

" saya lagi jalan jalan aja mas, liat liat disini, sekalian siapa tau ada yang menarik buat saya untuk bekerja disini " jawabku sembari lebih memperjelas keberadaanku didaerah ini.

" oh, saya kira ABK di kapal kapal itu, saya kerja di cold storage seberang sono " dia menjelaskan sambil tangannya menunjukkan tempat kerja yang dia maksud.

Akhirnya banyaklah bualan dan cerita yang terjadi ditempat duduk kami, banyak hal yang mampu kita hasilkan dari pergerakan bibir kita masing masing, banyak juga pengalaman pemuda didepanku, tampangnya sukses menutupi kepekaan dan ketajaman daya pikirnya yang kadang memaksaku untuk malu dengannya, banyak petuah dan saya kategorikan nasehat yang dia sampaikan kepadaku, luasnya cakrawala berfikirnya kadang membuatku takjub, lama masa yang kami pergunakan untuk saling berbalas kata hingga di penghujung niat dia hendak kembali bekerja , saat ku lirik arlojiku menunjukkan arah jarum ke angka satu siang dan akhirnya diapun berpamit untuk melanjutkan aktifitasnya.

Saat dia telah berlalu ada beberapa hal yang mampu saya resume dari panjangnya diskusi kita tadi, salah satu hal menarik adalah tentang sikap kita pada umumnya dalam menilai keadaan lingkungan, terlebih terkait sebuah sistem ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan cara kita memperoleh uang, dia berkesimpulan.

" banyak diantara kita terlebih bagian kita yang selalu mengedepankan ideologi ekonomi yang memaksakan pola pikir mengedepankan ekonomi yang idealis buat rakyat, kita sering mengutuk para pemilik usaha atau korporasi apalagi korporasi besar, kita sering melabeli mereka sebagai kapitalis yang kadang dengan kasar kita mensabotase penyebutan untuk mereka dengan menyebut mereka para penghisap manusia dengan kekuatan kapital, hal itu memang tidak sepenuhnya salah tapi kadang kita lupa keberadaan mereka juga membuat sebagian dari kita mampu mendapatkan uang, mereka menyiapkan lahan untuk kita mendapatkan uang, walau kita paham antar para pemilik modal dan pekerja ada sebuah hegemoni yang dilandasi siapa yang bayar dan dibayar, disitulah ada hal yang kadang dimanfaatkan oleh para pemodal untuk mengeruk keuntungan dari kumpulan tenaga para pekerja, memang tidak sedikit dari mereka yang bermain terhadap situasi ekonomi negeri ini " dia menghela nafas sambil menerawang jauh.

Tak lama dia lanjutkan cerita dia " sebagian dari kita berusaha menghimpun kekuatan dengan berserikat , terus menuntut tentang kelayakan pendapatan yang semakin hari semakin tinggi yang kadang menciutkan nyali para pengusaha apa lagi skala kecil, tapi sayangnya mereka yang berteriak dan terus membakar para pekerja kadang para penikmat uang yang fantastis dan besar  dari pekerja, semakin pekerja menuntut upah besar dan terkabulkan maka akumulasi iuran yang mereka dapat semakin banyak, maka bisa dikatakan mereka yang selalu menjadi bahan bakar para pekerja berkoar adalah salah satu jenis penghisap keringat para pekerja, kalo boleh jujur tatkala para kompor itu berteriak maka merekalah sebenarnya yang dipanggil para pengusaha dan ketika ada deal deal yang mengamankan kedua pihak dan ada amplop di bawah meja, merekalah tikus sebenarnya bermuka malaikat tapi berhati iblis memanfaatka masa para pekerja, jujur saja mari kita tanya apakah para kompor itu yang senantiasa bersenandung hak hidup layak untuk pekerja atau umumnya mereka berkata Buruh, apakah mereka juga bagian dari buruh ?? Bukan, jujur saja bukan, kalo KTP mereka boleh jujur sudah pasti tertera pekerjaan sebagai kompor pembakar buruh, pendemo dan apalah itu " muka pemuda itu semakin memerah , dia menyeruput es tehnya diam sejenak menghirup nafas dalam dalam.

" ada hal yang terlupa dari kita, jika kita sadar bahwa hegemoni itu ada dan penghisapan itu fakta tak terbantahkan sehingga para pekerja kecil laksana batubara yang senantiasa jadi tumbal lokomotif pundi kekayaan para kapitalis, mari kita kita yang lebih memiliki ilmu, untuk berusaha mengumpulkan mereka pekerja kecil, kita organisasi mereka kita beri pemahaman tentang usaha kecil, pemahaman tentang permodalan, mekanisme pemasaran, administrasi dan manajemen pengelolaan usaha, kita dorong mereka untuk bangkit dan memulai usaha dengan modal mereka secukupnya, biarkan mereka berserikat dan mengatur produksi bersama, menetapkan standar kualitas bersama dan memasarkan hasil sesuai kesepakatan bersama, disitulah akan tercipta ekonomi kegotong royongan, semua saling memiliki semua akan menjadi pemegang  saham , semakin bertumbuh usaha mereka, semakin sehat dan menjadi besar maka ekonomi kerakyatan akan terwujud, semakin kuat ekonomi akar rumput maka sistem ekonomi kapitalis akan bisa di ambil lahannya,  bergeraklah dari situ dan kita bisa menjadi katalis untuk terwujudnya organisasi usaha berbasis masyarakat, kita dorong dengan sistem pemberdayaan akar rumput " dia optimis menatapku sebagai sebuah pengharapan , dari sorot matanya jelas dia punya harapan besar.

" benar sekali mas, anda sangat memberi inspirasi , disitulah sisi yang harus ditumbuhkan untuk masyarakat akar rumput kita " jawabku sekaligus menyimpulkan hasil obrolan kita sebelum dia pergi.

" semoga kita bisa bertemu lagi bang, dan kita mampu mewujudkan obrolan kita tadi " salam terakhirnya sambil menepuk pundakku.

Sebuah inspirasi, dari sahabat tanpa berkenalan, guru alam, sebuah universitas kehidupan yang menghampar luas.

Terimakasih teman, sahabat dan kawan

Muara baru, 06 Mei 2016

Awie M Noer

Catatanawi.blogspot.com

Karya : Moh Nur Nawawi