Sayuran pagi untuk para pelangganku

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2018
Sayuran pagi  untuk para pelangganku

Pagi ini begitu dingin menusuk kulit,  aku sampai di kerumunan para pedagang pasar pagi di sebuah kota keci yang tak jauh dari tempat aku tinggal, aku lebih mengenal mereka sebagai seorang pejuang, iya mereka dan mungkin juga aku adalah sekerumunan orang yang selalu datang di tempat ini pagi buta, sebelum adan subuh kami semua sudah ada disini untuk berkumpul saling mendapatkan apa yang kami inginkan, iya kami adalah para pedagang sayur dan kebutuhan dapur, kami harus berlomba dengan waktu agar kami bisa sampai di depan para pelanggan kami lebih awal sebelum mereka sudah mengepulakn dapur untuk sarapan para keluarganya.

Di pagi ini di kompleks masjid yang sempat aku lewati setiap hari mungkin sedang ada beberapa orang yang sedang sujud menghadap tuhannya, menumpahkan segala keluh kesah dan sepenuh pengharapan, mungkin ada yang masih dirumah melakukan hal yang sama menamai segala aktifitasnya dengan qiyamul lail, disudut lain beberapa orang masih asyik bergumul dengan selimutnya, menikmati dinginnya pagi dengan dunia mimpi - mimpi mereka.  Aku dan para pejuang disekelilingku mungkin tak sempat untuk menempelkan kening pada sajadah malam ini, yang terbersit mungkin hanya sebatas subuh pelebur kewajiban, kami juga sudah ikhlas meninggalkan selimut kami, bahkan keluarga kami pun ikhlas jika harus memnuhi kebutuhan paginya tanpa kami, terlebih aku yang seorang ibu yang harus meninggalkan dua anak kecil yang masih sekolah, mungkin pagi nanti saat dia bangun mereka tak akan menemui sarapan hangat di meja dan seragam yang sudah rapi, tapi ya sudahlah aku sudah berpesan kepada mereka agar mereka bisa mandiri, dan jangan pernah lupa berdoa dan berusaha agar hanya aku yang begini.

Seperti mimpiku pada malam - malam lalu, bahwa anak - anakku kelak harus bisa lebih baik dari apa yang aku dapat selama ini, ini bukanlah sebuah upayaku mengutuk hari apalagi keadaan ini justru sebuah kejujuranku bersyukur kepada tuhan atas segala karunia dan nikmatnya, karena Tuhan memang maha segalanya maka aku titipkan masa depan anka - nakku padaNYA. Selesai sudah aku mengumpulakan dan menumpuk diatas keranjang sepedaku, apa yang harus aku jual pagi ini, kemaren si Ibu kaya yang punya rumah mewah sebelah gubuk reot pak dudua tua sang penambal ban pesan untuk dibelikan daging, karena mau menyambut tamu suaminya yang pejabat, dan masih banyak lagi pesanan dan alhamdulilah semua sudah aku beli dan siap siap untuk di jual lagi. Capek juga ternyata, tapi tak apalah setidaknya keringat sudah mulai mengucur membahasi pori kulit sebagai anti aging sedikit mengurangi penuaan, karena bagiku untuk membeli beragam kosmetik sangat berat, selalu teringat rengekan kedua anakku untuk dibelikan buku, mereka memang tak pernah manja merengek makanan lezat atau mainan, tapi lebih merengek bila lihat buku - buku bacaan.

Musholla dalam pasar sudah terdengar azan, seperti biasa bapak tua dengan suara khasnya memanggil kami untuk segera menunaikan kewajiban kami untuk sholat subuh, bapak tua itu memang getol dengan aktifitasnya setiap hari memabngunkan orang dan menginformasikan waktunya beribadah dan untuk menghentikan aktifitas sementara, walau tak banyak yang rela meninggalkan dagangannya, akupun bergegas ke musholla mungkin aku lakukan semua ini karena kau memburu waktu agar segera berangkat untuk menjajakan sayuranku, Tuhan saya kira maha tau dengan semua ini, akupun tak perlu mengeluh, ketegaranku saya kira sudah Tuhan anggap sebagai syukur.

Jalanan sudah mulai rame denga aktifitas, abang becak yang sedari tadi tidur berselimut sarungpun sudah mulai bangun, para penjual kopi sudah mengepulkan panci airnya, langit sudah mulai merona kukayuh sepedaku menyusuri jalanan depan rumah ibu - ibu langgananku, satu persatu mereka membeli dagangan sayur dan sebagainya yang ada di keranjang belakang sepedaku, jengki iya sepeda jengki aku menyebutnya sepeda kayuh yang biasa dipakai kaum wanita, sepeda yang selalu menemaniku yang suamiku beli dari hasilnya buruh di ladang pak kepala desa di kampungku.

sepuluh kilometer sudah aku kayuh sepeda ontelku, sayuranku pun sudah habis menyisakan beberapa ikat untuk aku masak sendiri sebagai teman nasi dimakan siang anakku nanti, aku sandarkan sepeda pada ranjang reot didepan dapur belakang rumah bambuku, aku duduk di dipan kecil di dapur sambil menghitung pendapatanku hari ini, aku pisahkan sedikit untuk jajan ankku dan untuk aku simpan untuk keperluan kami, dalam kelelahan aku tertidur dalam mimpiku aku lihat kedua nakku datang dan menyantap hidangan makanan yang aku buat sebuah nasi di temani sayur kangkung dan gorengan tempae, dalam hatiku berdoa semoga kangkung dan tempe ini mampu mengantarkanmu di impianmu naak, hingga engkau nanti tidak lupa dengan kangkung dan tempe ini, syukur engkau mampu mensejahterkan petani kangkung dan pembuat tempe.


Terik mentari saat peluh menetes
sembilan puluhan


Awi M Noer

  • view 84