Prasangka sore

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Renungan
dipublikasikan 16 Januari 2018
Inspirasi Kata

Inspirasi Kata


Setiap kita terlahir sebagai Inspirator, menginspirasi diri sendiri sebuah tanggung jawab membuka tabir spiritual, menumbuhkan spirit dalam mendefiniskan arti sebuah kehidupan, merengkuh cita dan asa.

Kategori Spiritual

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Prasangka sore

Prasangka bukan dalil justifikasi 
*Awie M Noer


Masih menikmati senja di barat gedung bertingkat, tak pernah nampak kemilau golden sunset yang terlihat hanya deretan gedung pencakar langit berebut rekot paling tinggi, iya sebuah senja di kota metropolitan. Aku masih berdiri diantara berjubel manusia yang sama kepentingan, tapi beda perasaan, kami menikmati ramai dan sesaknya bus trans jakarta, diiringi  sebuah kemacetan yang mengular. Rute Pulogadung menuju Kalideres adalah sebuah rute yang memang sering bersinggungan dengan macet, tidak pagi saat kami berangkat untuk bekerja tidak pula dengan sore harinya tatkala memang kami harus meninggalkan pekerjaan untuk pulang menemui keluarga.

Disela -sela bising kendaraan dan mulai berkurangnya hawa sejuk dalam bus trans jakarta, bukan karena rusak pendinginnya tappi karena begitu banyak materi yang menghisap hawa sejuk tersebut karena berjubelnya kami memadati dalam bus. Ada beberapa yang sibuk dengan rasa kantuknya sehingga tak jarang hanya tertidur dan tenggelam dalam kelelahan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, ada yang duduk tenang menikmati kursi dengan senyum bahagia sembari dalam hati kecilnya merasa bangga karena bisa menikamti tempat duduk, ada yang berdiri dan sibuk dengan gadgetnya sering kali melihat media sosial yang memang tidak ada perubahan sebenarnya, sering buka - buka pesan masuk tapi tidak juga berjumpa ada kabar dari teman. Bahkan diantara kami ada pula yang mengutuk masa hingga mengutuk diri sendiri karena ditengah kelelahan dan penat melanda dia masih berdiri diantara kerumunan penumpang, sumpah serapah dallam hati seperti comberaan kotor.

Di tengah asyiknya aku melamun dan memperhatikan detail isi bus ini, serta mengamati orang - orang disekelilingku sesekali menikmati pemandangan yang sejuk karena ada beberapa gadis manis berpakaian sekolah yang hilir mudik naik dan turun bergantian setiap halte persinggahan. " Hai, dik ! tidakkah kau bisa melihat dan membaca stiker di kaca bus itu ? " teriak dengan nada tanya seorang ibu - ibu berjilbab, iya ibu itu meneriaki seorang anak muda dengan muka sendu yang sedang duduk diantara kaki penumpang lain di deretan bangku paling belakang sambil membuka bungkusan berisi roti dan buah dan terlihat ada bekas gigitan di makanan tersebut.

Semua mata tertuju pada arah teriakan, ada beberapa mata nanar yang berusaha menghakimi tingkah pemuda itu, ada sebagian yang hanya melihat sekilas kemudian tak acuh dan terlelap dengan suasana hati masing - masing, tapi tak sedikit yang berusa melihat di dinding kaca bus, ada tertempel stiker yang artinya memang dilarang makan didalam bus. Beberpa menit kemudian tak sedikit yang menghakimi pemuda tersebut dengan berbagai argument sebuah nada kesal dan menyalahkan, hingga tak sempat pemuda itu untuk menjawan apa lagi memberikan alasan bahkan untuk sebuah pertanyaan yang disampaikan oleh ibu berjilbab tadi.

Suasana riuhpun terjadi hingga terasa seperti sebuah kegadihan, bus tetap melaju menyusuri jalurnya seakan tak pernah perduli dengan apa yang terjadi didalam, kegaduhan mulai mereda saat sang petugas yang awalnya malas dan tak acuh untuk sekedar memperingatkan pemuda aitu tentang tindakannya datang menghampiri pemuda itu dan menegur perbuatannya yang sebenarnya bagiku biasa saja, kan cuma makan ?, tapi memang ada aturan yang melarang dan pastinya ada pihak lain yang terganggu, yang dalam hati konyol saya mungkin ibu tadi lagi lapar dan melihat ada orang makan tidak  sedikitpun basa - basi menawarkan sehingga timbul rasa kesal yang menyulut sebuah marah hingga teguran. Tapi ya sudahlah memang pemuda tadi salah.

Sang pemudaa itu tetap tenang dan tetaap diam menerima beberpaa nasehat dan teguran, tak satupun yang dia tepis dengan sebuah ucapan balasan atau bantahan, dia memang tetap tenaang dan menunggu gilirannya untuk bicara, karena memang daari tadi semua orang banyak yang ngomong tapi tak satupun yaang mempersilahkan pemuda itu menjawab. Aku yang dari tadi hanya memperhatikan semua kejadian tanpa ikut serta beriuh dan bergemuruh dengan beragam kata - kata, jadi sedikit fokus dan tertarik pada pemuda itu, kenapa dia masih tenang dan tdak berusaha membela diri, apakah dia mersa bersalh atau apa entah yang dia pikirkan.

" Maaf Pak, saya sedang puasa, dan makan sedikit untuk sekedar membatalkan puasa sanya dengan berbuka, maaf, sekali lagi maaf " sebuah kalimat yang keluar dari mulut pemuda itu yang disampaikan sebagai usaha untuk menjawab beragam tanya, nasehat hingga makian dari penumpang lain, sebuah jawaban yang ditujukan kepada petugas bus. 

Semua penumpang banyak yang akhirnya diam dan saling pandang, walau masih ada yang tetap berusaha menyalahkan, akupun langsung mengingat hari dan berusaha merasakan waktu, iya hari ini hari senin dan memang sudah masuk waktu maghrib, akupun terdiam dan hanya bisa merenungkan, sebuah tingkah anak muda yang mengambil jalur sebuah kesalahan, tapi dari jawabannya tadi akupun berfikir, sungguh hebat pemuda ini, luar biasahh.

Sebenarnya akupun sedari tadi sudah berikir tentang justifikasi kesalahan bagi pemuda itu, iya memang dia salah karena makan didalam bus yang memang tidak diperkenankan, aku tak jauh beda dengan para penumpang lain, tapi setelah mendengar jawaban itu, aku kembali merenung bukan tentang betapa mulyanya pemuda itu karena dia berpuasa, iya pada hari ini hari senin, dia sedang puasa senin kamis. Tapi aku sadar bahwa aku sedari tadi sudah berprasangka buruk pada pemuda ini, aku sudah justifikasi bahwa pemuda itu tidak diisiplin dan melanggar aturan yang sudah disepakati.

Sebuah prasangka yang kadang menjerumuskan kita, tanpa data yang berimbang kita sudah memutuskan sesuatu berdasarkan prasangk kita karena kita eelihat suatu masalah hanya dengan kaca mata kita. mari kita hindari prasangka yang buruk, karena prasangka adalah acuan yang lemah dalam memutuskan masalah.



  • view 58