Maaf, Aku buru - buru Tuhan

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Renungan
dipublikasikan 06 Januari 2018
Maaf, Aku buru - buru Tuhan

" Kring, Kring, Kring,Kring " suara alarm bergema, seolah olah ngajak ribut.

" Busyet, berisik amat sih " gerutuku dalam hati, nggak enak-enakin lagi tidur, sambil tangan meraba - raba mencari jam yang bunyi.

Astaghfirullah, sudah jam 6.00 , berarti dah dari tadi ini jam berbunyi, waduh baru bangun, belum ini , belum itu, ntar jadwal meeting, ketemu atasan, kerjaan numpuk, haduh - haduh kenapa baru bangun. " capek deh " aku selalu menggerutu dalam hati, dongkol rasanya bangun kesiangan, ya Allah, ya Tuhan kenapa  nggak bangunin saya dari tadi ? Kalo udah gini kadang aku bisa menyalahkan Tuhan, habis siapa lagi coba ? 

Akupun bergegas bangun, kusambar handuk, lompat langsung ke kamar mand untuk menyegarkan badan di tengah kesibukan mengutuk pagi, tak butuh lama aku mandi, langsung ambil pakaian seragam cepat - cepat di pakai berlomba kejar - kejaran dengan waktu soalnya.

Selesai sudah aku langsung berlarian ke mobil, " aku harus segera sampe kantor " pikirku terus memburu waktu. Tanpa sarapan aku langsung berangkat membawa mobil dengan laju, aku pikir aku bisa mengejar waktuku agar pekerjaanku tidak terbengkalai.

Sambil mengemudikan mobil, aku menarik ulang memoriku beberapa jam sebelum aku berangkat, aku keluar kamar dan melewati musholla kecil di rumah, ada sajadah terhampar, sempat diam sejenak, tapi " ahh, Tuhan aku buru - buru, takut terlambat " ada doronga untuk segera lari dan pergi.

Akupun menerawang jauh ke beberapa jam ke belakang iya sebelum aku tidur, hingga aku pasang alarm, dan aku baru ingat ternyata aku bangun pukul 03.00 dini hari, iya aku sempat bangun, sempat juga ke kamar mandi kencing, dan lewat juga depan musholla , sempat juga termenung didepan sesaat, tapi " Tuhan, besok pekerjaan banyak, aku harus buru - buru, kualitas tidurku harus banyak, tidur lagi ahh " iya ada kata - kata itu di hatiku.

Akupun merasa waktu masjid tabuh beduk subuh, aku juga bangun tadi tapi aku terus berkata , meyanggah keadaan aku harus tidur agar besok bangun lebih awal untuk pekerjaan yang menumpuk.

" Maaf Tuhan, aku buru - buru , pekerjaan banyak, aku nggak sempat untuk menemuimu " kata dem kata yang menemaniku hingga aku sampe gedung megah tempatku bekerja dan aku terlambat, karena tadi ada puluhan lampu merah dan memaksaku berhenti.

Tak terasa sudah bertahun - tahun aku selalu bilang, " Tuhan, aku sedang buru - buru " dan bisa di tebak aku selalu memikirkan pekerjaan tanpa pernah singgah di musholla kecil dirumah yang aku buat sendiri.


Awie M Noer

  • view 151