Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 3 Januari 2018   21:54 WIB
Etika dan Estetika

Aku pernah menulis status di Media sosial sebagai quote  “ perbaiki etikamu maka estetikamu akan baik pula “setiap manusia di dunia ini tidak bisa lepas dari kepentingan estetika, karena pada umumnya orang – orang akan berlomba – lomba memoles estetikanya agar nampak menarik, dan enak diliihat orang lain, tapi kadang ada satu hal yang sering kita lupakan yaitu memperbaiki etika.

kadang etika kita sangat jauh dari ideal hubungan sosial antar manusia, rasa ego masih memenuhi setiap tingkah laku kita, dalam hal pengetahuan dan pembentukan karakter misalnya kita masih terus menerus memupuk keahlian, skill, kepintaran dan yang lain yang berhubungan dengan kualifikasi. Kita justru meninggalkan pembentukan etika yang sangat perlu dalam menghadapi dunia sosial, dunia kerja dan dunia masyarakat adalah dunia sosial yang sangat membutuhkan keseimbangan etika dan estetika kita.

Ada sebuah cerita menarik saat aku masih duduk di bangku SMK di banyuwangi, saat itu aku tingkat dua, dimana aku dan teman seangkatanku sedang mengikuti pendidikan sistem ganda yaitu praktek kerja industri, sebelum pelaksanaan prakerin kami di beri pembekalan di Aula sekolah.

Saat pembekalan sekolah menghadirkan seorang alumni yang telah sukses bekerja di sebuah perusahaan automotif multi nasional, dalam sesi sharing pengalaman senior tersebut menceritakan pengalamannya saat melamar pekerjaan di perusahaan tempat dia bekerja sekarang. Diceritakan waktu itu dia sedang antrian untuk test potensi akademik dan tes interview yang diadakan oleh lembaga independen yang bekerja sama dengan perusahaan tersebut.

Saat duduk menunggu giliran interview senior tersebut agak nerveus karena disebelahnya banyak pelamar – pelamar dari sekolah yang terkenal dengan lulusan terbaik, belum lagi sebagian banyak dari lulusan strata lebih tinggi dari seniorku tersebut. Di saat panas dingin menyerang senior tersebut akhirnya izin ke petugas absen pelamar untuk ke kamar kecil untuk sekedar buang air.

Masih menurut cerita seniorku tersebut setibanya di kamar kecil sebelum ke closed dia melihat kamar kecil tersebut lumayan mewah tapi terkesan kotor dan tidak rapi, sebagai anak yang lama kos naluri bersih – bersih muncul seketika, itung – itung menghilangkan grogi dan demam panggung dia mengalihkan fikiran dengan bersih – bersih kamar kecil, karena memang sebenarnya kekamar mandi hanya alibi karena rasa grogi dan panas dingin yang melandanya.

Kamar kecil yang awalnya kotor dan kurang rapi sekarang menjadi bersih dan rapi, seniorkupun lega karena rasa groginya berangsur – angsur reda dan dia siap untuk mengikuti test intervie, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan setiap gerak – geriknya mulai dari pertama senior tersebut membersihkan kamar kecil, tanpa disadari oleh seniorku orang yang mengawasi sedari tadi menghilang dari area kamar kecil.

Setelah duduk dengan tenang di ruang tunggu akhirnya senior tersebut dipanggil untuk interview, dia mempersiapkan betul apa – apa saja yang kiranya harus dijawab sesuai dengan jabatan yang dia lamar, tapi ada hal yang aneh yang dialami oleh senior tersebut, di sesi interview seniorku tak banyak di tanya seputar teknis pekerjaan oleh sang pewawancara, sangat singkat dan langsung diputuskan seniorku diterima dan mulai saat itu juga dia mendapatkan pekerjaan di perusahaan bonafit tersebut, belum selesai rasa penasaran senior tersebut akan apa yang terjadi dan mengapa dia bisa langsung diterima untuk bekerja.

Tanpa basa basi sang pewawancarapun akhirnya menyuruh senior tersebut untuk pulang dan mempersiapkan diri besok masuk kerja, sekaligus memberi intruksi ke petugas absen bahwa wawancar di tutup dan sisa pelamar dinyatakan tidak diterima, karena sudah menemukan kandidat yang di inginkan.

Kami mendengar cerita senior tersebut juga ikut bingung dan aneh dengan cerita itu, tapi awalnya kami pikir karena kualifikasinya sesuai dengan apa yang di inginkan oleh perusahaan sehingga senior kami tersebut di terima untuk bergabung dengan perusahaan itu, tapi ada hal yang menarik sekaligus jadi poin penting dari cerita tersebut, sebelum ceritanya berakhir senior tersebut membuka rahasia apa yang membuat dia diterima.

Kami di ingatkan kembali akan siapa yang mengawasi saat dia membersihkan kamar kecil, orang itu ternyata adalah sang direktur perusahaan sekaligus sang pewawancara, sebelu senior kami keluar ruangan wawancara sang direktur tersebut menceritakan kronologis kenapa dia langsung bisa menerima senior kami tersebut, yaitu karena hal yang cukup sepele karena kepedulian senior kami terhadap kebersihan kamar kecil, seorang pelamar yang bukan siapa – siapa perusahaan mau dan peduli untuk membersihkan kamar kecil.

Sang direktur itu bercerita sudah berpuluh – puluh tahun dia menghadapi beragam jenis pelamar kerja, tapi baru kali ini dia menemukan seorang yang memiliki etika yang baik, atitud yang luar biasa sebuah kepedulian yang sangat mahal harganya melebihi kualifikasi – kualifikasi strata yang lamarannya sedang menumpuk di mejanya, dengan menepuk pundak senior kami sang direktur mengatakan “ perusahaan sangat membutuhkan orang yang punya kepedulian seperti kamu, banyak orang pandai tapi minim kepedulian, setiap tahun setiap sekolah maupun universitas meluluskan ratusan orang dan dari mereka muncul puluhan orang bernilai baik, pandai dan punya skill yang luar biasa, tapi hanya sedikit dari mereka yang memiliki etika yang sesuai dengan kebutuhan pasar “.

Cerita diatas adalah sebuah gambaran betapa pentingnya kita memupuk dan menjaga etika kita menjadi sebuah pribadi yang baik, sebuah pribadi yang memiliki kepedulian, memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab karena sebenarnya itulah yang sangat dibutuhkan masyarakat. Baik di dunia kerja mauapun dunia kemasyarakatan.

“ Perbaikilah etikamu maka estetikamu akan baik pula “
 
Banyuwangi, 2002
Awie M Noer
 

Karya : Moh Nur Nawawi