Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 25 Desember 2017   14:01 WIB
Butuh Pengakuan

" Ke Bali dulu nih buang-buang duit gajian "
"
Bermalam dulu nih di hotel bintang lima"
" Alhamdulilah sudah ngaji satu Juz "
" Lagi hardrock caffe kuta bali "
" Bangun Malam  dua rakaat dulu "

Kita sekarang di zaman era keterbukaan informasi, dimana informasi bisa kita akses dengan mudah dan di era ini banyak sekali media yang bisa membantu kita menggali informasi seluas - luasnya , tidak hanya itu dengan media sosial yang lagi tren seperti yang kita alami ini kita bisa berekspresi secara total, dan bebas, walau terkadang apa yang kita ekspresikan belum tentu sama dengan realita tapi itulah media sosial, itulah dunia maya semua bebas mengekspresikan hidupnya.

Beberapa setatus diatas contohnya sebuah ekpresi yang lumrah dan banyak berseliweran di beranda media sosial kita, sebuah status yang ingin menunjukkan kepada para follower dan para sahamat dunia maya kita bahwa kita sedang apa, dimana  dan melakukan apa. Sebuah pesan informatif tapi tunggu dulu bila diperhatikan secara seksama pesan - pesan yang disampaikan status tersebut ada kesan berusaha menunjukkan kelebihan, kemampuan si pembuat pesan agar khalayak ramai di dunia maya melihat sebuah prestasi, sebuah kelebihan yang dia miliki, baik dalam kategori kemampuan ekonomi, spiritual, karier dan masih banyak lagi.

Juli marini sitepu seorang penulis dan dosen FAI UMSU  mengatakan  bahwa Orang yang hobi menggunggah foto selfie dan update status semua kegiatannya kemungkinan dia merasa sangat memerlukan aktivitasnya diketahui oleh semua orang agar dia merasa aman dan nyaman. Dia akan merasa ketika dia mengupload foto dan update status kegiatannya maka akan muncul suatu rasa kepuasan tersendiri karena orang-orang bisa melihat dirinya dan mengetahui semua aktivitasnya sehingga rasa takut untuk tidak diakui akan hilang. iya sebuah pengakuan khalayak ramai dunia maya yang memang dibutuhkan untuk menaikkan gengsi, prestis kita, kita terkadang akan menghabiskan banyak waktu untuk  mendapatkan foto kualitas terbaik dari berbagai sudut potret agar bisa ditampilkan di dunia maya, terkadang kita juga mengunggah sebuah kegiatan yang menarik, kegiatan yang luar biasa agar pengakuan kita dapat bahwa kita mampu untuk itu.

Menurut Efnie Penggiat media sosial dalam sebuah acara  Dove Choose Beautiful di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. mengatakan dalam beberapa riset mengenai keterbukaan diri, banyak orang yang melakukannya justru di media sosial. "Orang yang aktif di medsos biasanya di real life-nya pendiam, seseorang yang over confidence, merasa super cantik, dan secara lisan mengakui dirinya cantik adalah bentuk dari kompensasi.

Pengasuh rubrik konsultasi detikHealth, Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd mengatakan seseorang yang hobi mengunggah foto atau info terbaru soal kegiatannya, biasanya dia merasa insecure. Mungkin juga dia merasa tiap orang mempunyai pandangan sendiri terhadap kata sukses, Diana mengatakan hal itu belum dianggap sebagai gangguan kejiwaan. Tapi kalau ada yang terganggu, sebaiknya putus pertemanan dengan orang tersebut di media sosial. Sebab, pengguna media sosial harus tahu etika dan harus sadar bahwa bukan hanya dia yang punya media sosial, jadi dia tidak bisa mengatur.

Fenomena di dunia maya yang lagi marak yang kadang sempat juga membuat kita bosan dan merasa terganggu sudah saatnya kita juga menyikapi dengan bijak, kita juga harus melihat fenomena itu dari berbagai sudut pandang, Dra. Ammy KMD Saragih, M.Psi selaku psikolog menyatakan pada Trubus.id, Orang-orang di Indonesia, apalagi yang berada di Jakarta dan kerja di kantoran, jelas butuh liburan karena ingin mencari sesuatu yang berbeda dari rutinitasnya sehari-hari, Pekerja kantoran sudah pasti merasa bosan dan sumpek dengan kepadatan Ibukota Jakarta. Jadi, begitu ada kesempatan libur sedikit, pasti langsung mencari hiburan. Bahasa sekarangnya yaitu ‘kurang piknik’, Anak muda sekarang itu punya gejala baru, fenomena keinginan eksis di media sosial. Mereka berlomba-lomba mengunggah foto di media sosialnya yang menggambarkan experience baru. Entah itu makanan, wisata, tren fashion, atau apapun.

Di dunia mayapun tidak jauh berbeda dari dunia nyata, pencapaian sesorang pasti akan berusaha ditunjukkan agar ada pengakuan orang lain dan dilain sisi terkadang kita yang melihat semua itu jadi enek, resah, bosan, hingga tak jarang iri dan dengki menjangkiti kita semua, sehingga tak jarang dari kita yang tidak kalah heboh dengan bikin status tandingan terkait berusaha kontra dengan status - status daitas misalnya dengan buat status nasehat - nasehat, pertanyaan - pertanyaan satire hingga menshare nasehat - nasehat bijak, hasil penelitian, hingga larangan - larang terkait status yang tidak kita sukai.

Fakta yang banyak muncul ketika kita tidak suka dengan status yang terkesan pamer kita langsung berusaha inscure dengan membuat status tandingan yang berusaha menyampaikan nasehat - nasehat terkait buruknya update status pamer, disini sebenarnya kita juga berusaha menunjukkan bahkan berusaha butuh pengakuan bahwa kita adalah penikmat sosila media yang tidak suka pamer, umbar kemesraan, dan lain sebagainya. Ada juga dari sebagian kita yang gemar update status atau menshare postingan - postingan yang bersifat nasehat - nasehat dan motivasi hingga terkadang ada kesan kita menyindir para penghuni dunia maya lainnya yang suka pamer tersebut, dengan nasehat - nasehat dan motivasi yang menyejukkan, agamis dan lain sebagainya, itu semua sebenarnya juga tidak jauh dari usaha kita untuk membuktikan bahwa kita adalah salah satu dari pengguna sosial media yang selalu berfikiran positif, selalu menginspirasi dan sebagainya.

Dunia maya adalah salah satu sudut dunia era kekinian yang tidak bisa kita abaikan keberadaanya, dunia yang justru saat ini paling dekat dengan kita, terkadang dalam 24 jam kita lebih disibukkan dengan dunia maya ketimbang dunia nyata, kita tidak perlu pusing dengan segala fenomena yang ada, yang terbaik adalah bagaimana kita memandang semua ini dari berbagai sudut pandang agar setiap analisa kita bisa memberi informasi yang baik buat kita. Rasa kesadaran akan kebutuhan kita untuk diakui sebagaimana penghuni dunia lainnya seharusnya mampu membuat kita lebih bijak menyikapi semua ini.

Kita semua memang butuh pengakuan, seperti penulis yang suka menulis baik tulisan lepas, tulisan inspiratif, puisi dan lain sebagainya adalah upaya penulis untuk diakui he he he, sebuah keinginan yang wajar menurut saya, sebagaimana keinginan penulis untuk diakui sama saja kan dengan keinginan saudara-saudara kita lainnya untuk diakui karena kemampuan ekonominya, kealiman, ketinggian ilmu agamanya, rasa dan sikap moderatnya dan lain sebagainya. Semua orang punya  cara dan metode sendiri dalam mengekspresikan hidupnya untuk sebuah pengakuan.

Kita butuh pengakuan, dan tuhan menciptakan semua ini agar kita juga bisa bijak dan mampu mengakui kebesaran Tuhan dengan terus bersyukur, agar Tuhan juga mengakui kita sebagai hamba terbaiknya.

Awie M Noer
catatanawi.blogspot.com
Refrensi:
http://harianandalas.com/aceh/suka-unggah-foto-selfie-dan-update-status-pertanda-butuh-pengakuan

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150417111749-255-47364/kata-psikolog-soal-orang-yang-sering-unggah-foto-selfie

https://health.detik.com/read/2015/12/16/090137/3096875/775/alasan-narsis-di-medsos-merasa-insecure-hingga-butuh-pengakuan

https://life.trubus.id/post/anak-muda-zaman-now-butuh-pengakuan-sosial-bukan-sekadar-liburan-5016







Karya : Moh Nur Nawawi