Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 22 Desember 2017   08:08 WIB
Memberi kepada siapa saja

Hilir mudik kendaraan pagi ini menjadi cerita tersendiri bagiku, iya aku sedang berjalan menyusuri trotoar terminal untuk melakukan perjalanan rutin setiap hari, iya perjalanan yang biasa aku lalui saat keluar dari rumah di pagi hari untuk menemukan harapan - harapan menyusun kerajaan yang aku impikan, sering kali setiap pagi lalu lalang di terminal sekedar bekejaran dengan waktu agar dapat tumpangan bus Trans yang masih menyisakan tempat duduk, maklum kadang mata ini masih enggan untuk menikmati pemandangan tatkala bangunnya juga terlalu pagi, jika aku boleh berandai - andai pasti enak jika tempat kerjanga ada disamping kamar he he he.

Semua orang mungkin sudah tau bagaimana landscape terminal di pagi hari, orang hilir mudik, ada yang santai berjalan sambil menikmati gorengan, ada yang disibukkan dengan beratnya koper berisi perkakas, ada yang lari kencang mengejar asa, eh mengejar bus maksudnya, dan ada aku dengan segala keunikanku saat melintas jalanan terminal, ada yang care dengan senyum pepsoden tak sedikit pula yang muka masam bak manusia dengan seribu beban, ya namanya juga terminal akan memvisualisasikan setiap sudut kesibukan.

Pagi ini aku berusaha menyapu pandang pada tiap sudut ruang, sebenarnya pemandangan seperti ini sudah biasa aku lihat, tapi kali ini berbeda cara aku memandang karena ada timbul pikiran yang lain dari pagi - pagi sebelumnya, di sudut sana ada beberapa seorang pengemis sedang duduk menengadahkan tangan untuk meminta secercah harapan dan belas kasihan dari orang yang lalu lalang, mereka tampak lusuh di pagi hari, tampak memegang perut seolah memberitahukan kepada kita bahwa tidak ada sisa tadi malam yang bisa untuk sarapan.

Melihat pengemis kadang dibenak kita akan muncul berbagai persepsi dengan berbagai sudut pandang, Mungkin  setiap  dari  kita  memiliki pemikiran  dan  pandangan  masing-masing.  Ada yang  merasa  iba  saat  melihat  pengemis tersebut  meminta-minta,  dan  rela  kehujanan maupun kepanasan saat melakukan pekerjaannya itu.  Mungkin  ada  juga  dari  kita  yang  merasa risih,  karena  menurut  kita  mengemis  adalah perbuatan yang sangat kita hindari, dan sangat dekat  kaitannya  dengan kemalasan,  kemiskinan dan kebodohan. Terlepas  dari  itu  semua,  kedua  pendapat  tadi  tidaklah  ada  yang  benar  ataupun salah,  karena  bergantung  pada pandangan  dan  persepsi kita terhadap pengemis, aku pun berfikir kurang  setuju dengan perbuatan mengemis, namun ketika aku berpikir dan merenung, akhirnya aku mampu  bersyukur karena aku  termasuk orang yang beruntung bisa  hidup  dengan  berkecukupan  tanpa  harus  ikut  mengemis  dan  meminta-minta  belas kasihan kepada orang lain untuk meneruskan hidup. 

Aku berusaha mengajak pembaca sekalian merenung tentang apa yang telah kita raih dan apa yang telah kita miliki selama ini, melihat begitu melimpahnya kelebihan yang kita miliki, buktinya aku pagi ini bisa berjalan diantara contoh nyata dari tuhan bahwa aku memiliki kellebihan dibandingkan pengemis - pengemis itu, sebuah syukur aku rasa sangat bijak kita terus haturkan kepada Tuhan atas segala karunianya, aku tidak bisa membayangkan jika harus menjadi pengemis untuk memenuhi kebutuhan hidupku sehari - hari. Bersyukur dan terus bersyukur adalah bentuk terima kasih kita pada sang pencipta atas segala karunia dan kelebihan yang kita miliki.

Kita diberi kelebihan oleh Tuhan dengan segala fasilitas dan kemampuan kita sehingga kita tidak terpaksa mengemis sebagaimana saudara - saudara kita seperti yang aku saksikan di sudut terminal pagi ini. Kenapa aku bilang para pengemis “terpaksa” memilih hidupnya menjadi pengemis? Karena apabila mereka ditanya, kenapa mereka mau mengemis? Mereka pun sebenarnya tidak mau memilih hidupnya menjadi pengemis. Namun karena alasan tuntutan ekonomi yang menghimpit, pendidikan mereka yang rendah, sampai betapa sulitnya mencari lapangan pekerjaan, akhirnya mereka terpaksa mengambil jalan hidupnya menjadi seorang pengemis.

Terlepas dari benar atau salah semua alasan yang mungkin mereka anggap benar untuk menguatkan alasan mereka untuk mengemis, aku ingin mengajak para pembaca dan kita semua untuk melihat dari sudut yang berbeda. Ya, karena aku mencoba memandang sosok pengemis dari sudut pandang yang berbeda.  Menurut sudut pandangku, pengemis adalah salah satu objek yang bisa kita semua jadikan sasaran dalam rangka kita melakukan kebaikan. Oleh karena itu, aku mengajak para pembaca dan sahabat -sahabat semua, mengapa kita tidak melihat saja dari sudut pandang, bahwa pengemis adalah objek kita untuk melakukan kebaikan. Apalah susahnya bagi kita untuk menyisihkan  uang dari kantong kita untuk diberikan kepada pengemis. Tidak perlu menghitung besarnya uang yang kita keluarkan, atau untuk apa uang itu akan digunakan si pengemis, atau merasa khawatir kita akan membuat si pengemis semakin malas. Tapi cukup berpikir saja, kita ingin melakukan kebaikan dengan berbagi dan memberi, karena untuk berbagi dan memberi, kita tidak perlu melihat dan memilih-milih kepada siapa kita berbagi, tapi cukup mengetahui bahwa Tuhan melihat dan mencatat apa yang kita kerjakan.

Saat kita menikmati kopi pagi bersama keluarga yang lucu - lucu apa lagi istri kita yang lucunya minta ampun he he he dengan dibarengi sebuah sudut pandang kita yang baru tentang berbagai hal seperti sudut pandang kita terhadap saudar kita yang mengemis, maka akan timbul sebuah rasa syukur dan semakin syukur atas segala karunia dan nikmat Tuhan yang telah kita dapat dan kita miliki, dengan itu semua semangat memberi akan terus menggelora dan berakibat pada semakin besar dan kuatnya otot dan syaraf syukur kita dari hari - kehari dan alhasil akan memberi ketenangan dan keberkahan. Memberi adalah sarana fitnes bagi otot syukur kita, tentunya memberi tanpa ada tendensi kepada siapa saja, pengemis, saudar ayang membutuhkan, musafir, teman dan masih banyak lagi karena hakekat memberi adalah sarana kita untuk mendapatkan pemberian lebih banyak dari Tuhan sang penguasa alam raya dan kehidupan.

Marilah kita kuatkan otot syukur kita sehingga wujud kita sebagai manusia akan paripurna, mari terus aktif memberi dan berbagi sekcil apapun itu, bisa jadi apa yang kita anggap kecil, sederhana, nbiasa saja akan memiliki nilai dan dampak yang luar biasa bagi orang atau saudara kita yang membutuhkannnya. Semua kita kembalikan pada kebesaran Tuhan sang penguasa alam, karena pada dasarnya semua ini adalah miliknya, begitu mudah baginya kalau hanya untuk memutar balikkan keadaan.

Mari terus belajar memberi dan berbagi.


Awie M Nor

Karya : Moh Nur Nawawi