Kenapa kita harus berbahasa mereka ?

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Desember 2017
Kenapa kita harus berbahasa mereka ?

Pagi ini seperti pagi - pagi pada umumnya, di mulai dengan bangun pagi, bersih - bersih dan persiapan beraktifitas tapi ada yang sedikit beda pagi ini aku agak aneh juga kenapa pagi ini serasa diburu - buru oleh keadaan, entah keadaan yang bagaimana kadang bingung juga, oh iya sembari berpakaian aku ingat siang ini ada jadwal rapat dengan teman - teman rekan kerja bahas apa ya ?? iya iya aku ingat ada rencana kunjungan para orang - orang asing, eh para orang luar negeri maksudnya perwakilan dari lembaga internasional gitu. mungkin mereka ada proyek ke Indonesia yang berhubungan dengan kerjaan aku tentunya, ya iyalah masak kesini mau liburan ? kalo liburan pasti ke bunaken sana. Oia, sekedar info aku kerja di daerah bitung Sulawesi utara maka wajar dong kalau menyinggung bunaken, itu taman nasional bunaken yang di dekat manado yang katanya lautnya buagus dan luar biasa, karena jujur belum pernah kesana akunya.

Oke kembali ke cerita rapat, setelah persiapan aku rasa cukup langsung deh capcus sarapan, terus berangkat ke tempat kerja, berangkat ? ehh maaf aku tinggal satu area sama tempat kerjaan jadi lebih tepatnya langsung kerja aja, dan langsung menuju tempat rapat, oia jangan di bayangin tempat rapat yang ber AC dan banyak kursi - kursi atau papan slide presentasi, tempat rapat yang aku maksud ya diruangan mana aja temaptku kerja yang penting bisa ngobrol entah sambil duduk, ngopi, ngeteh atau apalah , karena aku tidak ngopi jadi ya sambil minum air putih lah rapatnya, rapat kali ini bahasannya nggak jauh dari persiapan ketemu bule, seru abiss kayak rapat persiapan ketemu presiden dunia, kalo presiden jokowi mah udah mainstream he he he.

" besok terima tamu si A, si B dan si C stanby di depan dengan pakaian rapi lengkap ya " pimpinan rapat menegaskan pembagian tugas pada kami semua

" siap, laksanakan " jawab mereka bertiga kompak

"awie dan Si D bawa tamu dan temenin selama kunjungan, saya dan Si E stand by di ruangan kumpul untuk diskusi dengan mereka lebih lanjut.

"  saya terima tamu saja, boleh ? " aku acungkan usul, malas soalnya kalo anter - anter tamu keliling tempat kerja pasti banyak pertanyaan.

" ndak bisa, harus ada yang nemenin, ntar dia ngomong bahasa inggris yang laen pada bingung, awie bantu terjemahin dikit - dikit " jawab pimpinan rapat di amini yang lain

" ya elah, aku juga bahasa inggrisnya litle - litle ntar bisa aku jawab dengan i can speak english but litle, so please don't give me many question he he he he bisa kencing di celana " jawabku dengan kelakar, tapi semua menatapku dengan mimik mengatakan "nggak lucu oon " anjir kan ?? he he he

" udah awie tetap temani tamu, ini perintah " keputusan tegas pimpinan rapat

mendengar keputusan itu, aku masih berusaha negosiasi agar besok cukup terima tamu saja, kan enak tidak harus berkeliling sambil ngomong yang aku nggak bisa ngomong he he

" kenapa sih harus kita ngikutin ngomong dengan bahasa dia, kan ini di sulawesi, kenapa nggak mereka aja yang ngikutin bahasa kita, bahasa manado, atau bahasa indonesia " aku berjuang dan memberi argumen ke pimpinan rapat dan teman - teman

" apa ? ya nggak bisa lah, mana tau mereka bahasa Indonesia apalagi manado " tegas pimpinan rapat

" kenapa nggak, la wong kita saja kalo berkunjung ke australia, atau ketempat mereka yang laen harus pake bahasa inggris kan ? " jawabku dengan muka konyol, kayaknya mereka dah siap - siap nampol aku he he he

" jadi mereka harus ngikutin bahasa kita lah, enak aja " lanjutku sambil siap - siap lari sebelum di tampol

akhirnya semua yang rapat diam, dan pergi meninggalkanku sendiri sambil  geleng - geleng kepala, bahkan Si D sempat pegang jidatku, dia periksa suhunya panas atau tidak he he he he

aku cuma bisa tersenyum dalam hati, antara aneh dengan diriku sendiri atau apa, tapi benerkan seharusnya begitu masak kita terus ngalah dengan belajar nbahasa - bahasa mereka, kenapa nggak mereka aja yang belajar bahasa kita, kan enak tuh kalao mereka ngerti abhasa kita jadi kalau ketempat mereka kita bisa ngomong seperti omongan kita sehari - hari.

ini kisah benar terjadi, tapi jangan diambil hati ya


Awie M Noer



  • view 82