Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 Desember 2017   21:51 WIB
Pusara Kyai Sepuh

Awal tahun ini tahun dua ribu satu adalah hari sibuk-sibuknya kami menyiapkan diri untuk mengikuti perhelatan akbar tahunan yaitu ujian akhir yang biasa kita kenal dengan EBTANAS ( evaluasi tahab akhir nasional ) tingkat SLTP, berbagai macam persiapan kami lakukan, iya kami yang terdiri dari empat orang siswa Madrasah Tsanawiyah Islam milik Yayasan Islam Diponegoro di desaku, kami berempat memang sepakat untuk menyiapkan semua ini bersama, dimana kebersamaan kami sudah lebih dari sekedar teman sekelas tapi sudah mirip bagai saudara, saya Awie, ruken, ahsay dan Misbah sudah layaknya saudara rumah mereka adalah rumahku begitupun sebaliknya, bahkan keluarga kami sudah layaknya saudara.
 
Bicara tentang persiapan ujian akhir ada hal menarik yang kami lakukan hal mungkin dikalangan lain dianggap aneh, mistis dan mungkin ada yang bilang syirik, tapi bagi kami dan sebagian masyarakat di lingkungan kami hal-hal seperti yang kami lakukan adalah hal yang lazim buah dari keyakinan dan kepatuhan akan dawuh-dawuh para ulama atau orang-orang alim di kampung kami. Selain belajar bersama , mengaji bersama yang biasa kami lakukan di Masjid Darussuban Desa Tegalsari setiap Malam Jumat atau malam Minggu, kami juga melaksanakan wiridan atau zikir yang biasa kita kenal dengan nama Istighosah yaitu sebuah kegiatan melafalkan ayat-ayat suci Alqur'an dan kalam ilahi, pujian-pujian kepada Tuhan, mengagungkan nama tuhan dan Nabi pembawa risalah, dimana istighosah sederhana itu kami lakukan di komplek pemakaman kyai sepuh didesa kami dan berpindah-pindah karena di Banyuwangi kota kelahiran kami khususnya didesa kami terdapat banyak makam kyai sepuh pendiri Pondok Pesantren salafiyah, tapi dari semua makam kyai sepuh itu satu makam atau pusara yang sering kami singgahi untuk beristighosah bersama disamping lokasi yang dekat dengan tempat tinggal kami, lokasi juga sangat asri dan strategis buat melakukan perenungan diri, letakkan di bukit di tengah - tengan hamparan sawah yang meluas.
 
Kegiatan istighosah rutin yang sering kami lakukan adalah sebuah usaha kami menjernihkan fikiran, menenangkan jiwa dengan lantunan ayat-ayat tuhan di pusara atau tempat yang tenang karomah dari kyai sepuh yang semasa hidupnya banyak menanamkan ilmu dan manfaat. Pusara Kyai Haji Abdul Majid Krasak Tegalsari di komplek Pondok pesantren Mambaul Huda Krasak Tegalsari Banyuwangi adalah tempat yang paling sering kami kunjungi, selain Almarhum adalah kyai sepuh kharismatik serta legendaris di kampong kami tempat pusara tersebut terletak di atas bukit agak tinggi di kelilingi sawah luas dan sungai-sungai kecil agak jauh dari perkempungan bahkan pondok besar. Pusara dikelilingi musholla dan pemondokan kecil untuk para santri pondok beristirahat , berdiskusi, mengaji, bermunajat dan beriyadoh yaitu menyendiri mengaji dan mengkaji ilmu yang telah mereka terima. Tempatnya damai, sejuk dan menentramkan jiwa walau mungkin bagi beberapa orang terkesan sepi dan angker tapi bagi kami ini tempat paling pas untuk merenung, menata ulang tujuan berfikir dan berjalan kehidupan kami, mendekatkan diri pada Sang khalik serta mengingat teladan dan perjuangan kyai sepuh.
 
Selain istighotsah dan mengaji bersama kami juga belajar bersama , semua pelajaran yang diujikan kami perdalami dan kaji ulang bersama-sama di tempat tersebut. Biasanya kami bersangkat habis maghrib kamis malam kami berempat naik dua sepeda kayuh ( ontel ), karena lokasi dekat dengan rumah kami sebelum isya kami sudah sampai, sampai pusara kami ikut sholat berjamaah Isya dan setelah sholat kami berbincang dengan kang pondok penjaga Pusara tersebut dan memohon izin untuk menginap di tempat tersebut. Setelah mendapat izin kita cari tempat untuk belajar dan beristirahat malam biasanya kami pilih sebuah surau kecil yang tidak di tempati oleh para santri yang menetap disitu, kami mulai kegiatan dengan belajar bersama, semua buku pelajaran kami buka dan kami diskusikan diselingi dengan cerita-cerita tentang sehari-hari hingga cerita tentang kisah-kisah melirik serta mengidolakan gadis teman kami sekolah, tapi kadang cerita tidak jauh dari hal-hal berbau karomah atau kelebihan dari kyai-kyai sepuh. Kegiatan belajar bersama kami langsungkan hingga pukul sepuluh malam dan kami putuskan untuk istirahat, berbekal sarung yang sudah lusuh kami tertidur berbantalkan kayu, sebuah bantal yang tersedia di situ , bantal yang biasa dipakai tidur para santri, bentuknya balok dan di beri cekungan di tengahnya untuk menaruh kepala.
 
Pukul kosong-kosong kami terbangun, kami tidak pernah pasang alarm atau dibangunkan tapi dengan serentak bangun sendiri, ada doa dan ritual unik sebelum tidur yang kadang kami amalkan yaitu membaca dalam hati surah alfatihah sebanyak dua puluh satu kali dan berdoa sambil menahan nafas agar dibangunkan sesuai waktu yang kita inginkan, tapi kadang jika sudah ngantuk kami langsung pulas lupa berdoa, tapi tetap saja bangun tepat pukul kosong-kosong kayak otomatis ada yang membangunkan. Saat waktu bangun ada peristiwa yang aneh dan buat aku tercengang pernah suatu waktu aku terbangun dan didepan surau berdiri seorang kakek tampan dengan berkalung surban dileher tangan kanannya teruntai tasbih, dari sorot wajahnya dia orang yang kharismatik, tapi aku jarang liat beliau ketika aku sholat di sini dari pertama kali kami kesini, beliau tersenyum dan bilang “ terusno le lelakumu, ojo dilereni “ ( teruskan nak apa yang engkau lakukan jangan berhenti ) aku belum sempat jawab beliau tersenyum dan pergi meninggalkan kami hingga saat ketiga kawanku terbangun bayangan beliau telah hilang ditelan gelapnya malam dan yang ku ingat bayangan beliau menuju bangunan utama yaitu pusara sang kyai.
 
Peristiwa aku didatangi sosok kakek tersebut aku simpan saja, dan ketika kami sudah bangun semua kami ambil air wudhu terus berempat menuju bangunan utama pusara sang kyai disitu terdapat makam bersih terawat, dikelilingi rak-rak berisi Kitab suci Al quran, terkesan terawat rapi, sejuk, dan mendamaikan, kita mulai dengan membaca ayat-ayat tuhan mulai menghadiahkan fatihah buat Nabi dan semua orang alim dan terkasih dan khusunya buat sang kyai, kegiatan istighosah ini biasa sering dipimpin oleh Ahsay karena dia anak yang paling alim dan memiliki figure ustaz dari pada kami lainnya. Kegiatan tersebut kmai langsungkan hingga menjelang subuh diselingi sholat malam beberapa rakaat. Selesai kegiatan kami sholat subuh berjamaah dengan para santri yang menetap di pusara sang kyai. Banyak hal yang menarik saat istighosah kadang saya terkantuk-kantuk tak sadar hingga tertidur dan ketika bangun adan subuh telah terdengar, memang rasa damai yang berefek pada jernihnya kami dalam berfikir terasa banget saat kami sering melakukan kegiatan tersebut.
 
Banyak peristiwa yang kami lalui, kejadian lucu juga kadang hadir disela-sela kebersamaan kami saat kami hendak pergi atau pulang dari tempat-tempat keramat tersebut, pernah suatu pagi sehabis subuh kami sepulang dari pusara sang kyai kami naik sepeda beriringan lewat kampong yang disitu banyak penduudknya yang memelihara anjing, pagi-pagi buta kami digonggongi dan dikejar-kejar anjing kami kayuh sekencang mungkin sepeda kami hingga nggak sadar sarungku yangkut rantai dan terbelit hingga saya dan ruken yang memboncengku terperosok ke parit pinggiran jalan, untung sang anjing tidak lagi mengejar, tapi sarung yang ku pakai sudah terkoyak hingga terbelah dua, dan kami berempat tertawa sepanjang jalan sampai rumah ruken yang paling dekat dengan pusara. Si misbah nyeletuk “ itu gara-gara kamu ngorok di makam jadi dikejar anjing ha ha ha ha “ kami berempat ketawa ria hingga perut terasa sakit. Banyak hal yng buat kami ceria dan semangat dalam menempuh perjalan hidup kami menanti saat ujian datang, sebuah pengalaman seru, kenbersamaan , keakraban hingga pengalaman spiritual yang kami lakukan. Tapia da hal yang terus jadi tand atanya siapa kakek tua yang menemuiku di malam itu karena saat sholat subuh dan beberapa hari ketika kita sering ke pusara tidak pernah aku lihat lagi sosok kakek itu, entah itu ghoib atau apalah tapi kesan kebersamaan dan kedekatan diri dengan sang pencipta telah membawa kedamaian dan ketenangan kami.

Kenangan tahun 2001

dari blog penulis catatanawi.blogspot.com

Ilustrasi Gambar
https://bukitairresto.files.wordpress.com/2012/03/5-saung-di-sawah-bukit-air.jpg

Karya : Moh Nur Nawawi