Apakah Kami Bukan Bagian Dari Negeri Ini ?

Awie M Noer
Karya Awie M Noer Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Desember 2017
Apakah Kami Bukan Bagian Dari Negeri Ini ?

" Baru pulang mas " sapa lembut sang nenek

" iya mbah " sahutku dengan menambahkan senyum

Itulah sapaan khas ketika aku lewat didepan gubuknya sebelum aku menyeberang kejembatan bambu dekat rumahnya, jembatan sederhana sebagai sarana lalu lalang orang - orang sekitar untuk memperpendek waktu tempuh perjalanan dengan menyebrangi sungai, jembatan sederhana yang selalu goyang jika kaki kita menapak padanya, jembatan mahakarya sang kakek renta seorang pujaan hati nenek yang senantiasa menebar senyum sapa kepada siapa saja yang lewat didepannya termasuk kepada saya sore itu.

" terima kasih mas " ucap sang kakek diikuti oleh istrinya.

" sama - sama mbah, Permisi " jawab saya sambil menunduk dan berlalu menyeberang

Ucapan mereka meluncur dengan iklas tanpa ada polesan - polesan pemanis kata , polesan - polesan penarik simpati atau bahkan polesan - polesan penghina diri penarik receh orang sekeliling, walau memang ucapan itu meluncur tatkala aku menaruh uang pada kaleng usang bekas wadah biskuit " khong guan " yang aku aku sendiri tak yakin biskuit yang pernah ada didalamnya juga pernah singgah dibibir dan tenggorokan kekek dan nenek itu.

Iya sebuah ucapan tulus saat uang tertaruh pada kaleng yang sengaja diberi tulisan " Menyeberang bayar dulu " tulisan itu bukanlah tarif penyeberangan TOL atau Fly Over yang didesain untuk memeperlancar jalanan dengan biaya besar dari uang negara, dimana tak banyak yang bisa melewatinya. tulisan itu hanyalah ungkapan jujur sang kakek agar para pejalan kaki yang lewat mau berpartisipasi untuk menjaga agar jembatan tetap ada dan bisa terus dilewati.

Dalam usia yang mendekati senja sepasang kakek nenek itu terus bertahan hidup dipinggiran sungai yang kotor penuh limbah dan tumpukan sampah dikanan kirinya, dia menikmati sisa hidupnya dengan keihlasan tak pernah ada yang tahu atau mencoba mencari tahu apakah ada tempat lain yang lanyak untuk mereka, dan merekapun tetap tegar, walau mereka tau disebelah mereka berjejer bangunan - bangunan megah , gedung - gedung pencakar langit, hotel - hotel mewah, pusat perbelanjaan yang menawarkan diskon super besar yang jujur kadang aku dan isteri sering sekedar cari ruangan dingin disana he he he, apartemen mewah yang harganya selangit setara dengan biaya membuat ribuan gubuk renta seperti yang kakaek nenek tempati ini , iya mereka hidup berdampingan , ibarat sisi mata uang yang kontras dan berbeda.

Sebuah ironi memang dikala gedung menjulang tinggi seakan hendak mencakar langit terus dikebut dan dibangun untuk membuat taging bahwa suatu kota sudah bisa bersandang gelar kebangsawanan Metroplitan tapi dibawahnya masih tersisa gubuk reot nan mungil yang ditempati sepasang kakek nenek renta, tanpa profesi hanya hidup dengan keyakinan akan kebesaran Tuhan.

Terlalu banyak cerita, dan citra di negeri ini, jagad media disibukkan dengan berita - berita pencitraan para kontestan pilkada dengan haru biru yang mewarnainya, kita masih sering disuguhi sebuah dagelan - dagelan politik andaikan menyentuh masyarakat miskinpun itu hanya sebuah visualisasi yang ingin menunjukkan kesan bahwa kita merakyat, kita bersama rakyat, kita peduli wong cilik, tapi di akhir episode tetap rakyat harus menghidupi diri dan keluarganya dengan peras keringat di tambah segudang aturan - aturan baru yang membuat mereka semakin menangis.

Negeri ini talah lama merdeka tapi kita hanya bisa berkata bahwa makna kemerdekaan sebenarnya bagi suatu bangsa adalah dimana semua rakyatnya bisa benar - benar mendapatkan kelayakan hidup sehingga kemerdekaan bisa benar - benar mereka rasakan, jika kita mau mendengar rintihan lirih dalam gubuk sang kakek itu akan kita dengar " MERDEKA BELUM SINGGAH DIGUBUK KAMI " atau mungkin sang kakek pernah mengeluh dalam hatinya " APAKAH KAMI BUKAN BAGIAN DARI NEGERI INI ? "

( diambil dari realita hidup sang kakek dAn nenek di gubuk renta bawah jalan raya pinggir sungai daerah Batuceper Tangerang )

Tulisan ini pernah penulis tulis di
https://www.kompasiana.com/nawawimnoer/merdeka-belum-singgah-di-gubuk-kami_54f60200a33311b8068b473c

Ilustrasi gambar diambil dari
http://www.viva.co.id/berita/bisnis/944205-8-negara-yang-menderita-kesenjangan-tinggi-akibat-korupsi

  • view 115