Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 11 Desember 2017   10:22 WIB
Raden Bentar dari Madangkara : Berkontribusi dan setia Mengabdi


Raden Bentar adalah putra dari permaisuri Paramitha
isteri prabu Brama kumbara dari negeri Madangkara,
Bentar adalah anak tiri dari prabu Brama
Saudara sekandung dewi garnis dan
Saudara tiri prabu Wana pari raja madangkara setelah prabu Brama,
Nentar sekaligus patih raja Wanapati.

Tatkala Prabu Brama kumbara semakin berusia senja, maka beliau memutuskan untuk mengakhiri masa kepemimpinnya di Madangkara, maka dia putuskanlah Raden Wanapati putra Kandungnya dari permaisuri Dewi Harnum sebagai penggantinya sekaligus berpesan kepada Raden Bentar Putra Dewi Paramitha sekaligus anak tiri Prabu Brama untuk terus mendampingi Raden Wanapati dalam menjalankan Tugas Kenegaraan.

Setelah Raden Wanapati resmi memerintah dan memimpin madangkara, munculah gejolak ketidak puasan dari para narapati dan senopati sepuh Madangkara, dimana tumenggung dursila yang memimpin gerakan ketidak puasan tersebut, hal itu dipicu sabda Prabu Wanapati yang akan memperkuat Madangkara dg armada laut sebagaimana meniru atau bahkan hendak menandingi kerajaan Majapahit, hal itu sudah di ingatkan oleh para sesepuh madangkara agar niatan itu tidak diteruskan, namun sebagai raja muda yg memiliki ego tinggi Prabu wanapati bersikukuh dg sikapnya dan siap menumpas siapa saja yg tidak setuju dan melawannya, maka munculah pergerakan pergerakan pembangkangan oleh Tumenggung Dursila dan kawan kawan.

Di paseban agung Prabu Wanapati mengumpulkan para pembantunya untuk membicarakan permasalahan pembangkangan Tumenggung Dursila dan gerombolannya yang semakin meresahkan pihak istana. Banyak masukan agar Prabu Wanapati mengajak duduk bersama para pemberontak supaya ada hal yang bisa diselaraskan, dan berbicara dari hati kehati dg mereka yg merasa tidak puas, agar jadi bahan evaluasi pemerintah, usulan tersebut banyak muncul dari pemikiran Raden Bentar.

Dari berbagai masukan tersebut tidak bisa merubah pendirian raja, dan prabu wanapati tetap bersiteguh melawan dan menyerbu para pemberontak, Raden Bentar pun akhirnya mengalah dan tetap mendukung keputusan raja, dan bersama berjuang membela kewibawaan kerajaan. Setelah pertemuan selesai dg lesuh raden bentar kembali ke wismanya di temani sang ibunda Dewi paramitha salah satu permaisuri Prabu Brama kumbara.

" Apakah kamu kecewa dengan keputusan nanda Prabu Anakku " sapa Dewi Paramitha pada putranya.

" Tidak ibunda, dalam musyawarah berbeda pendapat itu sudah lumrah, sebagai kakak sekaligus penasehat raja nanda wajib mengingatkan dinda prabu, tapi keputusan sudah disabdakan maka sebagai bagian dari pemerintahan nanda akan menjungjung tinggi titah raja, dan mengawal nya sampai kapanpun ibunda " jawab Raden bentar dg bijak.

" Benar anakku, sabda raja adalah hukum dan titahnya adalah undang undang jadi kita harus bersama mewujudkan dan mengawalnya " balas Dewi Paramitha.

" iya Ibunda, kita harus bersama sama dalam hal ini, saya akan tetap mendukung raja dan terus memberi saran dan masukan, agar tidak timbul dualisme kekuatan sehingga rakyat juga bisa tenang, dan wibawa pemerintahan tetap terjaga. " sambung Raden Bentar.

Akhirnya Raden bentar istirahat sambil terus berdoa untuk kebesaran Madangkara.

Sebuah keteladanan yang perlu kita contoh dan kita terapkan di era seperti sekarang ini, era globalisasi, era keterbukaan, demokrasi dan kemajuan zaman di barengi peningkatan kualitas berfikir dan kualitas penerapan teknologi, sebagai manusia sosial yang sudah pasti berhimpun dalam sebuah koloni - koloni negeri tentunya sebuah birokrasi adalah keniscayaan, kepemimpinan bersama dalam satu ideologi kesepatan yang diajalankan adalah suksesi yang tak bisa dihindari.

Ada ungkapan besar Ing Ngarso Sun Tulodho sebuah nasehat dimana sebagai pemimpin atau orang yang dituakan dan menjadi barisan terdepan menggerakkan lokomotif sebuah peradaban kita dituntut untuk mampu mendengarkan aspirasi para penasehat dan pendukung kita dengan memberi keteladanan dalam memposisikan diri sebagai pendengar yang baik dan penampung aspirasi tanpa mengedepankan ego, selain itu keladanan dalam memberikan keputusan untukkepentingan persama yang mengakomodir semua aspirasi dari semua kalangan adalah sebuah keharusan, karena setiap perintah dan kebijakan kita sebagai pemimpin akan berimbas pada sendi kehidupan mereka - mereka yang kita pimpin.

Ing Madyo mangun karso sebuah petikan kata bijak dari Ki Hajar Dewantoro sebagaimana kutipan diatas adalah nasehat penting bagi para pembantu pemimpin, para penasehat dimana kita berada di lingkaran birokrasi sebagai penyeimbang kebijakan, kita patut mensupport dan memberi keseimbangan agar kebijakan bisa membangun sebuah opini dan cita - cita bersama, disini kita di tuntut untuk mampu memberikan nasehat - nasehat, masukan, ide, dan gambaran pada pemimpin kita yang berkualitas bukan hanya untuk kebaikan pemimpin dan kita sebagai pendukung tapi untuk kebaikan bersama, karena setiap suksesi pasti memiliki rival dalam pemilihan , mereka juga kita akomodir sehingga kebijakan yang diambil bisa bermanfaat menyeluruh bukan untuk suksesi kepentingan golongan.

Semua nasehat dan masukan kita baik sebagai pendukung maupun rival yang mampu menyeimbangakan tatanan, akan di tampung dan setiap keputusan yang diambil harus bisa kita terima dan kita ikut memperjuangkan walaupun keputusan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita harus mampu ber Tut Wuri Handayani dimana kita bersama - sama membangun peradaban dan mengawal kebijakan yang ada dengan terus berkontribusi dalam sosialisasi, suksesi dan evaluasi.

sebagai manusia yang bijak cara Raden bentar menghadapi permasalahan kerjaan Madangkara dan bagaimanan beliau mensikapi keputusan sang prabu adalah hal yang patut kita contoh dan kita terapkan pada lini kehidupan kita, entah peran apa yang kita ambil, dan kapasitas apa yang kita miliki untuk berkontribusi, karena sebuah tujuan akan bisa sukses kita raih dengan bersama - sama membangun sesuai posisi dan kapasitas masing - masing. Mari berperan sesuai kapasitas kita semaksimal mungkin untuk berkontribusi bagi perkembangan peradaban manusia karena kita bagian dari peradapan karena kita memiliki tanggung jawab untuk peradaban ini.





Karya : Moh Nur Nawawi