(Tips & Trik) Lolos Seleksi Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) Pertamina 2017

Anonim (Sementara)
Karya Anonim (Sementara) Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 Agustus 2018
(Tips & Trik) Lolos Seleksi Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) Pertamina 2017

Mungkin ini adalah salah satu anugerah terbesar, tapi malah dengan effort ter-iseng sepanjang sejarah hidupku (eaaakk lebayy…). Untuk cerita yang satu ini, aku akan jelaskan seluruh detailnya, yang mungkin akan sangat berguna dan bisa membantu Kawan semua yang juga sedang/akan mengikuti tahapan seleksi di PT. Pertamina (Persero), khususnya untuk program Bimbingan Profesi Sarjana (BPS), yang notabene adalah semacam MT program-nya Pertamina untuk lulusan S1.

Awal Juni 2017, setelah libur Idul Fitri berlalu, sebuah e-mail masuk ke inbox dengan judul, “Pemberitahuan Seleksi Awal dan Registrasi Melalui E-Recruitment PT. PERTAMINA (PERSERO)”. Ternyata, itu adalah tahap pengisian biodata lengkap di web resmi Pertamina, setelah sebelumnya apply via website SAC ITS sekitar 1-2 bulan yang lalu (sebelum Ramadhan). FYI, pada saat sebelum Ramadhan 2017 itu, jalur yang baru dibuka memang baru jalur Fresh Graduate -College Shopping. Artinya, Pertamina menyerahkan tahapan seleksi awal/berkas pada kampus masing-masing yang ditunjuk. Pada saat itu, hanya ada (kalau nggak salah) 4 kampus yang ditunjuk, termasuk ITS. So, hanya mahasiswa tingkat akhir atau alumni masing-masing kampus tersebut saja yang bisa mendaftar, dan juga hanya bisa mendaftar di bursa karir kampusnya masing-masing.

Siang itu aku lagi malas-malasnya, dengan perasaan hopeless yang selalu sama, “Oh, Pertamina. Perusahaan besar, engineering banget, pasti tesnya susah, direbutin sama (khususnya) anak teknik se-Indonesia, palingan seperti biasa: gak lolos, atau malah udah gugur di tahap-tahap awal.”

Bimbang antara mau lanjut isi biodata atau nggak usah sekalian, akhirnya aku nge-chat seseorang. Lalu dia bilang, “Ya udah, coba aja dulu, mana tau rejeki kan,” yang setelah itu langsung aku putuskan lanjut walau mepet-mepet deadline dan masih dengan perasaan malas.

Entah bagaimana timeline-nya, lupa, setelah jalur College Shopping, Pertamina buka jalur fresh graduate untuk umum. Jadi, melalui jalur ini seluruh alumni Indonesia (baik dari kampus dalam maupun luar negeri) bisa ikut seleksi. Ternyata, setelahnya, mereka yang mendaftar lewat jalur College Shopping maupun Fresh Graduate, pada akhirnya disatukan dalam tahap seleksi yang sama (dimulai dari psikotes awal sampai selesai), juga dengan timeline yang sama. Jadi, sudah tidak dibedakan lagi antara jalur satu dan jalur lainnya (yang pada akhirnya, menjadi satu angkatan program Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) 2017 Batch 1).

Oh iya, jadi baru sejak rekrutmen 2017 inilah Pertamina menggaet pihak ketiga alias vendor rekrutmen untuk turut menyeleksi para kandidat fresh graduate-nya. Vendor yang dimaksud adalah ASI (Asia Pasific) Recruitment. Adapun di sini vendor akan memegang seleksi tahap administrasi, online screening test, online psikotest dan tes Bahasa Inggris, online interview (via skype), hingga tahap verifikasi dokumen tatap muka. Kalau lolos terus, barulah maju ke tahap-tahap selanjutnya yang prosesnya sudah dipegang oleh pihak Pertamina, yaitu interview HR & User dan Medical Check-Up (MCU). Untuk beberapa direktorat tertentu (biasanya fungsi supporting), seperti Direktorat SDM, IT, dan Umum, biasanya ada interview tambahan yang disebut interview top management. Jadi nggak ada lagi loh ya, ceritanya tes tulisnya offline alias dateng langsung ke lokasi di kota-kota besar tertentu. Sekarang sih, udah zamannya ngerjain tes di Starbuck dilanjut skype interview ala-ala numpang di gedung ber-background cozy-minimalis namun formal hahaha.

Daaann… inilah cerita lengkap tahap-per-tahap yang aku alami sendiri. Yay, di sinilah story of “the real battle” dimulai…

  1. Senin, 17 Juli 2017 : SCREENING TEST

Screening Test ini terdiri dari:

  • SMART GMA Verbal (17 soal, 4 menit): terdiri dari sinonim, antonim, hubungan kata, dan lain sebagainya (contoh: Supir pada mobil sama seperti … pada pesawat. Jawaban: pilot).
  • SMART GMA Numerical (15 soal, 5 menit): terdiri dari deret angka, soal cerita singkat, menghitung kecepatan, perbandingan, dan (banyak deh) hitung-hitungan logika singkat lainnya.
  • SMART Ability to Learn (15 soal, 5 menit): semacam tes irama gambar, sesuatu yang berpola, dll gitu deh, pokoknya standar psikotes yang soal-soalnya tinggal dijawab pake logika, nggak sulit kok, yang penting baca dan jawab soal dengan konsentrasi, cepat, dan tepat!
  • TES KEPRIBADIAN (30 pertanyaan): seperti tes kepribadian di psikotest pada umumnya, intinya tes ini akan mengukur preferensi kita terhadap suatu hal. Soal-soalnya dibuat dalam bentuk kuisioner biasa, yang bisa kita kerjakan tanpa dibatasi waktu. Sekilas, tes seperti ini memang tampak ‘selow ajah’, tapi sebenarnya satu hal yang harus di-highlight adalah: konsistensi. Pada dasarnya, seluruh rangkaian soal dalam satu sesi tes kepribadian memiliki makna pertanyaan yang berulang. Contohnya, pada saat di satu soal kita lebih memilih ‘menjadi penulis novel’ dibandingan ‘menjadi pembawa acara/MC’, maka di soal lain kita pun memilih ‘menonton drama di kamar’ dibandingkan ‘mencari keramaian di pesta’. See?
  1. Senin, 24 Juli 2017 : PSIKOTEST
  • SMART CRT Verbal (20 soal, 10 menit): terdiri dari paragraf-paragraf berisi informasi dengan berbagai topik, di mana untuk setiap topik akan ada beberapa soal dalam bentuk pernyataan (kalimat) terkait topik, lalu cara menjawabnya adalah dengan mengkritisi pernyataan tersebut apakah ‘benar’ (sesuai dengan isi teks) atau ‘salah’ (tidak sesuai dengan isi teks) atau ‘tidak dapat menentukan’ (pernyataan tidak bisa ditentukan benar maupun salah berdasarkan informasi dari isi teks). Tips: konsentrasi, fokus, baca teks dengan cepat tapi hati-hati dan sambil langsung menangkap kunci-kunci utama informasi, supaya langsung paham dengan isi teksnya.
  • SMART CRT Numerical (15 soal, 13 menit): terdiri dari tabel-tabel berisi informasi data tulisan dan angka dengan berbagai topik, di mana untuk setiap tabel akan ada beberapa soal dalam bentuk hitungan, mencari kesimpulan isi tabel, maupun bentuk soal lainnya. Tips: langsung baca soal-soalnya dulu, lalu utamakan mengerjakan soal-soal yang proses menghitungnya cepat (hindari dulu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan penarikan kesimpulan), pada saat menghitung pakai kalkulator usahakan cepat dan jangan banyak typo supaya nggak ngulang input angka.
  • SMART Technical Mechanical (45 soal, 15 menit): terdiri dari konsep-konsep dasar mekanika dan fisika dasar, di mana soal-soal sebagian besar disajikan dalam bentuk gambar (contoh: ayunan bandul, kesetimbangan jungkat-jungkit, arah putar roda gigi, dsb). Kabar baiknya, tidak ada soal hitungan di sini, jadi nggak perlu hapal rumus. Tips: baca soal maupun pilihan jawaban dengan hati-hati, karena sebagian besar soal-soalnya dalam bentuk logika dari setiap konsep dasar mekanika-fisika itu sendiri, which is sebagian besar bisa banget dijawab pake penalaran logika, di saat kita nggak sempet belajar dulu sebelumnya. Daaaan FYI, tahapan tes konsep mekanika dan fisika dasar ini berlaku untuk semua peserta, nggak peduli apakah background mereka dari ilmu sosial sekalipun. Yap, seriously! TAPIIII buat kalian yang bukan anak Teknik atau Sains nggak perlu terlalu khawatir, selain soal-soalnya didesain untuk bisa ditalar secara logika, toh kalian pun bersaing melawan kandidat-kandidat sesama jurusan kalian sendiri (untuk memenuhi kuota pegawai di bidang sesuai jurusan kalian, tentunya). Yaa… kalau parno-parno gitu sama fisika, bisalah baca-baca dulu (aku aja yang lulusan Teknik Fisika nggak paham kalo ditanya fisika dasar, actually), siapa tahu saingan kalian males baca-baca dulu kan, eh terus akhirnya nilai kalian jadi paling outstanding sendiri deh.
  • SMART Technical Spatial (30 soal, 15 menit): bagian ini full isinya tentang bangun ruang, di mana kita harus bisa menentukan bangun ruang yang sesuai dari jaring-jaring yang ada, atau sebaliknya. Yang menjadi sulit adalah gambar yang terdapat pada setiap sisi di jaring-jaring itu tuh… ampun deh bikin bingung banget bayangin versi 3D nya satu-satu di otak, sampe merem-merem hahaha. Tips: konsentrasi sama clue posisi gambar di satu sisi (misal, titik atau garis) atau clue lainnya yang terlihat mudah, lalu fokus pada clue yang dimaksud, akan ada di posisi mana jika sudah jadi versi 3D, lalu sesuaikan gambar-gambar pada sisi lainnya sehingga match dengan versi jaring-jaringnya.
  • SMART Personality (100 pertanyaan): sama seperti tes kepribadian sebelumnya, ini juga terkait preferensi, di mana sesinya tidak dibatasi waktu, hanya bedanya jumlah soalnya lebih banyak. Tipsnya juga sama, intinya harus konsisten dan jeli membaca makna dari keterulangan soal.
  • Tes Ketelitian (sebanyak-banyaknya, 20 menit): jadi pada tes ini, akan ada semacam gabungan antara huruf dan angka (entah berapa karakter, antara 8-12), lalu kita disuruh jeli untuk melihat apakah gabungan antara huruf dan angka di sebelahnya itu sama persis atau beda. Kalau satu huruf atau satu angka saja beda, maka jawabanyya adalah: “beda”. Cara menjawabnya adalah dengan ngasih tanda-tanda tertentu buat bedain mana yang “sama” dan mana yang “beda”. Nah, tes ini kita kerjakan sebanyak-banyaknya selama 20 menit, di mana saat berhasil ngerjain satu halaman, tinggal di-next ke halaman selanjutnya (kalau nggak salah, aku dulu berhasil ngerjain sekitar 8 halaman). Mungkin ini semacam pengganti tes pauli atau kraepelin alias tes koran yang biasa dilaksanakan untuk psikotes offline. Tipsnya, selama mengerjakan tes yang satu ini, pastikan suasana selama 20 menit ke depan bener-bener nggak terdistraksi sama sekali, nggak dalam keadaan laper dan udah pipis dulu misalnya, lalu konsentrasi, kerjakan dengan cepat dan tepat.
  1. Selasa, 25 Juli 2017 : TES BAHASA INGGRIS (60 soal, 60 menit)

Menurut aku sih tesnya lebih mirip ke model soal TOEFL. Jadi, porsi soal lebih banyak di reading, sisanya di structure yang terdiri dari pemahaman tenses, idiom, dll dan ada juga tipikal soal analisis error recognition dalam suatu kalimat atau kalimat-kalimat di dalam paragraf. Nah, yang membedakan sepertinya lebih ke tema dari soal-soal, maupun tema dari bacaan-bacaan pada reading-nya sendiri, yang mostly berkaitan dengan business. Pokoknya, Smart Business English banget deh! Tipsnya, kalau memang lemah di structure, nggak ada salahnya review materi-materi structure dulu sebelum tes. Untuk reading, baca dulu pertanyaan-pertanyaanya, ingat-ingat key point yang diminta, baru kemudian baca passage dengan metode skimming-scanning (cari tahu sendiri ya bagi yang mungkin baru denger).

  1. Kamis, 3 Agustus 2017 : WAWANCARA ONLINE

Begitu kagetnya aku saat lagi di mainan HP di toilet rumah temen pada waktu itu, tiba-tiba ada e-mail masuk yang menyatakan kalau aku lolos ke tahap online interview. What? Cukup nggak nyangka karena pas tes kemarin kacau banget, yang paling diinget adalah betapa banyaknya soal hitungan matematika yang nggak keisi dan betapa sangat… banyaknya soal fisika mekanika dasar yang juga nggak sempet keisi (belasan soal loh skip-nya). Alhamdulillah masih lanjut. Ternyata, interview dilakukan via platform Skype, dengan pihak ASI Recruitment sebagai interviewernya. Wow, seketika langsung parno tuh, soalnya sebelumnya pernah punya pengalaman nggak enak (read: gagal seleksi suatu program gara-gara pas skype interview kameranya mati dan alhasil layarnya warna item doing, walau akhirnya interview tetap dilakukan). Yaa emang sih akibat katro gara-gara nggak suka Skype-an (kalo video call palingan via Line atau WhatsApp doang haha). Tapi untungnya, itu justru jadi pelajaran banget dan bikin aku aware banget sama kemungkinan-kemungkinan kesalahan teknis yang bisa terjadi. Akhirnya, aku bener-bener pelajari seluk-beluknya, persiapin banget, sampai pas hari-H pun minta tolong temen buat nyoba tes Skype-an bareng (ini penting banget loh, kecuali kalau emang udah jadi star user-nya Skype sih ya hahaha). Oh iya, yang penting lainnya adalah nyoba fitur “share screen” apakah berhasil atau tidak, karena sebelum diinterview, bakal ada sesi verifikasi screening test yang telah kita lalui (jadi kita semacam disuruh ngerjain online test singkat langsung di depan online interviewer-nya, untuk mengetes apakah kita kemarin beneran ngerjain sendiri atau lolos gara-gara dibantuin orang). Share screen ini akan membuat orang yang video call-an sama kita bisa melihat isi desktop PC/laptop kita.

Nah, adapun isi dari pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan pada tahap online interview ini lebih mirip dengan HR interview pada umumnya. Pertanyaan seputar perkenalan diri, kepribadian, kelebihan dan kekurangan kita, pengalaman terkait pengalaman kerja (jika sudah ada), pengalaman selama kuliah, prestasi, organisasi, dll. Intinya semacam menjelaskan isi CV kita aja, jadi belum ada pertanyaan teknis sama sekali di sini (di internet banyak banget kok contoh-contoh pertanyaan dan jawaban interview, browsing aja, itu membantu banget loh!). Interviewer juga akan menggali potensi kandidatnya dengan memberi pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Aku kemarin ditanya tentang pengalaman memimpin tim yang besar, lalu di sana jumlah staff kita ada berapa orang, masalah yang timbul apa aja dan gimana solusinya, apakah solusi dari kita bisa diterima seluruh staff kita atau gimana, dll. Ditanya juga seputar kerjaan sebelumnya gimana, masalah yang dihadapi, solusinya, inovasi yang pernah diberikan untuk perusahaan, dll. Terus kalau lagi bahas prestasi ditanya juga itu tahapan seleksinya apa aja sampai kamu bisa lolos/juara, melawan berapa orang, tingkat prestasinya nasional/internasional, dll. Sampai juga dikasih beberapa case yang intinya lebih ke kemampuan leadership kita, misalnya kalau ada staff yang memutuskan untuk begini-begitu sikap kita gimana, gimana solusi kamu kalau ada kejadian begini-begitu di dalam tim, dll (maaf lupa detail-detail pertanyaannya apa aja). Yang nggak kalah penting, pasti banget ditanya “Apakah Anda siap ditempatkan di mana saja dari Sabang sampai Merauke, dan apakah Anda siap untuk dirotasi ke mana saja?” yang mana pertanyaan itu KUDU-WAJIB banget kita jawab “Ya, saya bersedia,” dengan wajah dan intonasi yang yakin, tanpa keraguan (kelihatan ragu dikit aja bisa otomatis failed, tentunya). Last but not least, menurut aku, pertanyaan “Kenapa perusahaan harus memilih Anda? Apa added value dengan bergabungnya Anda?” tetaplah jadi salah satu pertanyaan penutup yang cukup critical, dan kita harus all out di sini, membuat kesimpulan diri dengan kalimat-kalimat persuasif yang bisa membuat seolah-olah interviewer tuh harus banget milih gue, kalo gue nggak dipilih, gue nggak rugi, tapi perusahaan-lah yang rugi! Hahaha.  So, siapin dengan baik ya, closing statement kalian yang outstanding itu!

  1. Rabu, 9 Agustus 2017 : VERIFIKASI BERKAS TATAP MUKA

Kalau lolos, step selanjutnya adalah verifikasi berkas tatap muka. Wow, so surprised warbiyasah sih ternyata aku masih lolos aja. Jadi di sini, aku diminta untuk datang ke Jakarta untuk membawa beberapa dokumen fotokopi untuk diserahkan ke panitia rekrutmen, serta beberapa dokumen asli untuk pengecekan (verifikasi saja, tidak diserahkan). Dokumen untuk pengecekan di antaranya KTP asli, ijazah S1 asli (dan S2 kalau ada) atau surat keterangan lulus, transkrip S1 asli (dan S2 kalau ada), dan sertifikat TOEFL/TOEIC/IELTS asli. Sementara, dokumen yang diserahkan adalah masing-masing sebanyak 2 rangkap fotokopi dari dokumen asli yang di-cek tadi, ditambah dokumen asli pas foto 4x6 dan Curriculum Vitae (CV) yang juga masing-masing sebanyak 2 rangkap. Panitia rekrutmen mengecek kesesuaian antara berkas asli dan berkas/data yang telah di-upload di website Pertamina. Di sini, panitia rekrutmen masih dari pihak vendor ASI, di mana tahap inilah yang menjadi transisi antara pihak ASI dan Pertamina, karena setelah ini, (menurut asumsi saya pribadi, entah yang sesungguhnya bagaimana) seluruh nilai kita dari tahap awal sampai online interview, serta seluruh dokumen/fotokopi dokumen, akan diserahkan pihak ASI ke pihak Pertamina, untuk selanjutnya tahapan-tahapan seleksi setelah ini akan langsung di-handle oleh pihak Pertamina.

  1. Senin, 28 Agustus 2017 : INTERVIEW USER & HR

Bagai petir di siang bolong, eh salah, petir di malam gelap-gulita kali ya (?) Iya, malam! Bahkan malam pun terlalu larut, karena pada saat itu, tepat di pukul 22.22 WIB ada e-mail masuk ke inbox dengan subject ditulis besar-besar, “Undangan Wawancara User dan HR PT. Pertamina (Persero)”. Kaget bukan kepalang lah awak ini, di saat udah siap mau tidur, eeehhh ada kabar yang begitu mengejutkan. Seketika lemas, lalu disusul perut mulas tiba-tiba yang berujung diare. Hal itu diakibatkan perasaan bahagia sekaligus sedih dan bingung, karena pada saat itu, aku yang juga sedang dalam proses seleksi Program Calon Staff (PCS) Bank Indonesia (BI), ternyata harus menerima kenyataan kalau jadwal interview user Pertamina dan PCS BI akan berlangsung di hari dan tanggal yang sama (beberapa hari sebelumnya BI udah kirim e-mail duluan), tapi di kota yang berbeda (BI di kantor perwakilan Bandung, Pertamina di kantor pusat Jakarta). Lucu juga kalau flashback ke drama yang satu ini, inget banget dulu mikir keras gimana caranya supaya bisa tetep dua-duanya dijalanin, sedangkan Pertamina fix nggak boleh re-schedule. Akhirnya, dengan penuh effort aku coba telepon dan e-mail ke BI, dan dengan ajaibnya permohonan re-schedule diberikan (padahal hanya dengan alasan sedang ada urusan lain di luar kota). Ternyata eh ternyataaaaaa, H-1 dari hari interview Pertamina, udah siap nih ya berangkat ke Jakarta, tiba-tiba ada telepon dari Pertamina kalau jadwal interview di-reschedule karena user-nya berhalangan. Whattt… tau gitu kan kemarin nggak usah susah-payah minta re-schedule interview user BI, takutnya kan permohonan re-schedule itu berdampak pada penilaian/reputasi peserta dalam hal keseriusan mengikuti seleksi. Tapi ya… yasudahlah, Alhamdulillah untungnya interview user Pertamina di-reschedule ke hari yang berbeda dengan hari re-schedule interview user BI.

Oke, jadi hari itu, Senin 28 Agustus 2017, aku dateng pagi-pagi ke kantor pusat PT. Pertamina (Persero) yang notabene (gedung yang so iconic itu) tinggal nyebrang aja dari stasiun Gambir. Logo khas-nya tercetak begitu besar dari pandangan mata, membuat diriku ini semakin gugup (dan makin banyak berdoa dalam hati pengen banget jadi bagian dari perusahaan kece ini). Oh iya, satu hal yang penting di sini: pada saat menerima e-mail undangan wawancara user, sudah ditetapkan panggilan interview-nya dari direktorat mana. Jadi, kita nggak bisa milih sendiri penempatan direktorat maupun fungsi kerjanya, karena itu sudah ditentukan oleh pihak HR Pertamina. Aku sendiri dipanggil interview untuk Direktorat Pengolahan alias Refinery Unit (RU) alias kilang minyak. Iyaappp, sejak awal baca e-mail itu udah kebayang banget bahwa seandainya lolos akan bekerja di kilang. Wow, woman engineer banget sih. Sempet insecure, tapi karena ini kesempatan yang worth it, Alhamdulillah dong, why not?

Tibalah aku di lantai 16, sesuai dengan instruksi di invitation. Baru aja nyampe, nggak lama kemudian beberapa orang termasuk aku, disuruh pindah ke lantai 17. Hmmm, 17: my lucky number! Karena aku termasuk yang datengnya paling siang, aku pun kebagian interview di urutan kedua terakhir. Rasanya, lamaaa banget itu nunggu, sampe kepotong istirahat makan siang. Nggak terhitung juga berapa kali udah bolak-balik toilet, saking gugupnya jadi pengen pipis terus. Selama masa penantian itu, nggak tahu kenapa tiba-tiba feeling ini memaksaku untuk buka google drive dan nyari file laporan Tugas Akhir S1-ku dan laporan Kerja Praktik (KP) S1-ku (yang memang lokasi KP-nya di Pertamina RU IV Cilacap). Aku pun akhirnya baca-baca laporan TA dan KP (padahal biasanya nggak pernah se-niat ini siapin interview), sambil sesekali ngobrol bareng peserta lain, yang mostly adalah anak Teknik Kimia. Fix sih di sana aku satu-satunya anak Teknik Fisika. Hmmm… waduh, bisa gawat ini… unik sendiri, pasti ntar ditanya yang aneh-aneh.

Akhirnya, tibalah giliranku untuk masuk ruang interview. Di sana, ada dua orang interviewer, yang terdiri dari HR interviewer (seorang bapak dari fungsi HR) dan user interviewer (seorang bapak yang tentunya dari fungsi teknis terkait). Setelah dipersilakan masuk dan duduk, belum habis rasa gugupku, tiba-tiba bapak user interviewer langsung menjatuhkan mentalku, “Kalau dilihat dari pas foto, saya kira yang namanya Mugi ini orangnya tinggi-besar. Ternyata mungil ya, kalau gini, gimana mau kerja di kilang nanti, terus kalau nanti harus betulin kabel-kabel di atas dinding yang tinggi-tinggi, gimana?” Aku pun mencoba tenang dan senyum dengan profesional, yang akhirnya bapak HR langsung nyambung, “Enggak kok, bercanda. Oke, selamat datang blablabla… jadi di sini kita bukan lihat fisik ya, kita juga nggak lihat pinter atau enggak-nya. Yang kami lihat adalah, apakah karakter dan kepribadian kandidat cocok dengan program ini.”

Sesi interview pun diawali dengan perkenalan, seperti biasanya. Bapak HR nanya juga asal-usul kita, termasuk pekerjaan ayah dan ibu. Begitu aku sedang menceritakan bagian prestasi, bapak user langsung memotong, “Jadi kamu pernah presentasi di Amerika, dan berangkat ke sananya sendirian? Pulang-pergi nggak dianter? Jago dong bahasa Inggris-nya?” dan pertanyaan lain-lain, yang ternyata aku sadar kalau beliau adalah interviewer dengan tipikal: akan langsung bertanya apabila ada sesuatu yang menurut beliau menarik, tanpa peduli kalimat kita sudah selesai atau belum. Begitulah terus, kebanyakan bapak user-lah yang tanya ini-itu, dengan gaya khas-nya yang memang sudah di-set “antagonis” dan sangat pandai menjatuhkan mental kandidat, sedangkan bapak HR sangat jarang nanya, kebanyakan beilau hanya membolak-balik sambil membaca form isian-ku, CV, dan berkas-berkas lainnya, sambil sesekali membuat catatan.

Kalau boleh dipersentasekan, isi interview user-ku selama sekitar 45-60 menit itu 75 %-nya full ditanya teknis. Yap, pertanyaan teknis yang engineering banget! Padahal, kandidat lain yang udah beres interview duluan (anak-anak tekkim yang mendominasi itu) nggak ada yang ditanya teknis sama sekali. Kalaupun ada, cuma ditanya proses di kilang secara umum aja. Hmmm, sungguh ‘beruntung’ saya kebagian ditanya teknis banyak banget, mungkin karena… pertama, aku satu-satunya anak Teknik Fisika. Kedua, bapak user-nya sangat kebetulan sekali merupakan expert di bidang reliability, sehingga pada saat aku ditanya, “Judul Tugas Akhir-nya apa?” seketika mampus pas jawab, “Implementasi Reliability Centered Maintenance (RCM) pada Sistem Methanator di PT. Petrokimia Gresik, Pak.” Ditambah lagi, dari CV ketahuan kalau dulu aku pernah KP di kilang Cilacap. Wah… makin-makin deh ditanya segala sesuatu.

Dan… ya ampun sumpah deh ini sesi interview yang begitu horror, berasa lagi sidang TA part 2. Bapak user-nya kritis sekali. Aku yang ditanya-tanya banyak pun sampai ngos-ngosan ngejar-jawab pertanyaan bapak-nya, di mana belum selesai ngomong sesuatu, udah langsung ditanyakan alasannya, singkatannya apa, itu artinya apa, dll. Tipikal dosen penguji yang suka ‘ngejar’ gitu deh. Setiap kalimat, bahkan kata, bahkan singkatan, ditanyain semuanya. Bapak user-nya juga ngasih beberapa case teknis yang harus dijawab pake logika. Overall, Alhamdulillah-nya, aku bisa jawab pertanyaan-pertanyaan teknis dan cases-nya dengan baik, walaupun sesekali ada salah-salah ngomong atau kepeleset ngomong (yang bikin aku dan bapak-bapaknya malah ketawa bareng). Pada saat itulah, aku sangat berterima kasih pada feeling-ku yang tadi memaksa untuk buka google drive dan baca-baca laporan. Coba kalau enggak, wah… nggak bakal bisa jawab apa-apa deh pas ditanya teknis (terima kasih Yaa Rabb, melalui feeling ini Engkau menuntun dan memberiku petunjuk). So, jangan coba-coba datang ke sesi interview user tanpa persiapan, tanpa mempelajari hal-hal teknis terkait posisi yang di-apply!!!

Satu hal penting lain yang aku inget, pada saat bapak user nanya, “Kalau misal kamu suatu saat ditugaskan untuk memindahkan barang yang berat oleh atasanmu, apa yang akan kamu lakukan?” Nah, ini termasuk salah satu pertanyaan yang menjebak. Kalau dikasih case apapun, intinya jawablah dengan logika disertai argumen yang masuk akal. Juga jangan lupa: harus realistis! Aku pun tanpa ragu menjawab, “Saya realistis saja Pak, di saat saya coba angkat, kalau saya memang tidak sanggup, maka saya akan meminta bantuan rekan kerja saya yang laki-laki untuk memindahkan barang tersebut. Saya tidak akan mengambil resiko yang akan membahayakan saya, toh meminta bantuan juga merupakan salah satu bentuk dan fungsi dari kerja sama tim itu sendiri.” See? Nggak usah maksain jawab, “Apapun yang terjadi, saya akan patuh pada perintah atasan…” dst yang seolah-olah mau nunjukkin kalau kita se-begitu loyalnya (itu sih namanya konyol, ya).

Oh ya, terutama buat cewek, pasti akan ditanya pertanyaan-pertanyaan semacam, “Sudah punya pacar/calon suami atau belum?”, “Dia profesinya apa? Kerjanya di kota mana?”, “Sudah ada rencana menikah? Kapan? Berapa tahun lagi?”, “Terus nanti kalau masuk Pertamina, harus ditempatkan jauh, bahkan di Papua mungkin, suaminya gimana?”, “Terus nanti kalau kamu lokasi kerjanya harus dirotasi-rotasi terus, gimana?”, daaann pertanyaan-pertanyaan semacamnya yang sudah didesain sedemikian sehingga para mbak-mbak yang apply ke Pertamina ini dibuat galau tiada tara (hiks… wkwkwk).

Begitulah kurang lebih sesi wawancara user yang aku lalui. Nah, namanya wawancara user itu memang nggak bisa dipukul rata, karena beda interviewer ya beda juga pertanyaannya, karakter pewawancaranya, cara wawancaranya, pressure-nya, dsb. Juga bisa dibilang, namanya ada faktor manusia pasti ada juga sisi penilaian subjektif-nya. Tapi satu hal yang pasti: kriteria/parameter penilaian itu sudah pasti ada dan terkuantifikasi, dan didesain seprofesional mungkin (apalagi untuk perusahaan sekelas Pertamina), supaya kandidat yang diterima memenuhi standar perusahaan.

Sedikit bocoran, pada saat aku akhirnya pendidikan korporat setelah offering, ada salah satu pengajar yang memperlihatkan urutan prioritas kriteria penilaian calon kandidat beserta persentasenya, di mana kriteria nomor satu adalah: kemampuan komunikasi (communication skill). Aku lupa urutannya bagaimana (dan kriteria full-nya apa aja), tapi yang menempati urutan-urutan atas setelah kemampuan komunikasi, berkisar antara aspek kepemimpinan (leadership), kemampuan bekerja sama (teamwork), dsb yang notabene erat kaitannya dengan sikap (attitude) dan softskill. Sementara, aspek akademis seperti IPK, itu ada di urutan sekitar tiga terbawah.

Menurut saya, dari segi persiapan, kunci sukses dari interview user maupun HR itu antara lain: persiapkan fisik dan psikis dalam keadaan baik, persiapkan materi interview HR (pertanyaan-pertanyaan standar interview) dengan baik, serta persiapkan materi interview user sesuai dengan posisi/program yang di-apply dengan membaca literatur terkait. Sementara itu, kunci sukses pada saat pelaksanannya sendiri antara lain: percaya diri, tetap tenang dalam segala kondisi dan pressure, jawab pertanyaan dengan tegas dan yakin (perhatikan intonasi dan artikulasi bicara kita), cerna setiap case dengan cepat dan langsung pikirkan solusi yang paling solutif dan realistis.

  1. Senin, 4 September 2017 : MEDICAL CHECK-UP (MCU)

Setelah drama hopeless berkelanjutan sehabis wawancara user, betapa kagetnya diriku saat sore itu, Kamis 31 Agustus 2017, tiba-tiba ada inbox e-mail berjudul “Undangan Panggilan MCU – PT. PERTAMINA (Persero)” dengan lokasi tes Lab Biotes, Bandung. Wow so surprised! Nggak nyangka, padahal udah bener-bener yakin kalo nggak lolos wawancara user. Dan ternyata, hari-H MCU-nya hanya berselang 4 hari dari invitation-nya. Uwow, Senin ini banget nih? Mau siapin apa dalam waktu yang nggak sampe seminggu gitu? Wkwkwk, ya sudahlah sebisanya aja.

Bisa dibilang, ini adalah sesi MCU seleksi kerja ter-ketat yang pernah aku jalanin. Even, item yang ditesnya pun lebih lengkap dari MCU-nya seleksi PCS BI yang sebelumnya aku ikutin. Selain tesnya lengkap, ditambah lagi ada tes kebugaran yang dilakukan pada hari yang sama (entah lari di treadmill atau lari lapangan, tergantung kota lokasi MCU). Hmmm… inilah yang akhirnya bikin lemes dan tepar banget sepulang MCU. Bayangin aja, setelah diambil darah dua sesi (pagi sebelum makan alias darah puasa dan siang setelah makan), kita yang di Bandung langsung disuruh lari keliling lapangan Gasibu sebanyak 4 keliling dengan masing-masing 400 meter, jadi totalnya 1,6 km, dan itu larinya jam dua belas siang, OMG, terik bangetttt mataharinya, makin deh lemes sehabis diambil darah 4 tabung.

Item yang dites pada MCU Pertamina adalah: tes fisik (tinggi badan, berat badan, wawancara riwayat medis berdasarkan form yang kita isi, tekanan darah, ambeien (siap-siap yang ini nungging sambil buka celana ya Sist-Bro, untungnya kemarin kebagian dokter cewek), dan ada cek payudara juga kalau cewek (dokternya nanti ngeraba-raba payudara kita, buat ngecek apakah ada benjolan atau tidak)); tes darah dan urin puasa; EKG; tes mata (tes buta huruf dan visus mata); periksa gigi dan mulut; thorax/rontgen; spirometri; audiometri; USG abdomen (hiks bangettt dokternya cowok, terpaksa harus buka baju bagian perut dan punggung); dan tes darah dan urin kedua (setelah makan). Daaaaann… satu lagi yang juga dites adalah: feses. Konyol banget lah kalau inget ini, bener-bener jadi cerita MCU Pertamina yang unforgettable deh hahaha.

Jadi, peserta MCU dibolehkan membawa feses dari rumah dengan syarat maksimal dikeluarkan 2 jam sebelumnya, atau langsung dikeluarkan di lokasi tes. Karena aku tipikal yang nggak bisa semudah itu BAB kalau nggak ada perasaan ‘mau’, akhirnya daripada ambil resiko nggak bisa ngeluarin pas di lokasi tes, aku memilih untuk bawa dari rumah. Saat itu, aku belum tahu kalau ada aturan jam maksimal pengeluaran feses tadi. Ceritanya, semalem sebelum hari-H, aku pengen BAB. Wah, dilema nih. Dikeluarin sekarang, takutnya kelamaan sama jam pemeriksaan lab. Nunggu besok pagi, belum tentu perasaan pengen BAB-nya ada lagi. Yaudah deh, daripada ambil resiko, aku memutuskan untuk BAB malam itu dan menampung fesesnya, berharap itu akan jadi cadangan aja karena besok pagi optimis bisa BAB lagi.

Ternyata eh ternyata, esok harinya berujung sangat drama. Nggak bisa ngeluarin pagi-pagi di rumah sebelum berangkat, okelah semoga sampai di lab bisa keluar. Daaann alhasil sepanjang hari dari pagi banget sampai siang, sampai dipaksain keluar, beberapa kali masuk toilet, tetep nggak mau keluar juga, sampai akhirnya nego ke petugas MCU, “Mbak, belum mau keluar juga. Boleh ya, siang setelah tes lari ke sini lagi, siapa tau habis lari-lari jadi ada pemicu buat pengen BAB.” Hasil nego pun berujung sia-sia karena teteeep aja nggak bisa BAB. Mulai putus asa, akhirnya memutuskan untuk jajan seblak pedes supaya mules, tapi ditunggu beberapa saat nggak mules juga. Udah nggak ngerti lagi harus gimana, hari semakin sore, akhirnya telepon ke petugas lab, minta nego supaya pengumpulan feses diundur. Alhamdulillah dibolehin dong, ditunggu sampai besok pagi. Akhirnya, karena seblak nggak mempan, aku pun beli keripik pedes supaya cepet mules. Drama selanjutnya, yang terjadi malah sesuatu yang nggak diinginkan: diare di malam hari. Makin-makin deh hopeless. Alhasil aku pasrah dan menunggu besok pagi, berharap masih ada keajaiban.

Esok paginya, aku masih diare seperti biasa. Tapi, fesesnya berbentuk pasta, tidak cair. Aku lalu menelepon pihak lab kembali, dan Alhamdulillah mbak-mbak lab bilang kalau itu nggak masalah, asal nggak cair. Dengan penuh semangat, aku langsung cus ke lab untuk setor sampel ke petugas.

Begitulah drama MCU yang aku jalani (sebenarnya ada juga drama pas cek spirometri, yang di situ aku sampai ngulang tes sebanyak 3x karena yang 2x pertama hasilnya pernapasanku nggak normal, eh… ternyata prosedur pemeriksaan oleh dokternya salah (lupa belum ganti data pasien dari ‘male’ ke ‘female’ sehingga perhitungan jadi error), paraahhh banget kan, untung ketahuan salah -_- ).

Sungguh, rasanya hati ini nggak tenang banget, takut kenapa-napa. Takut karena jelas-jelas ngumpulin sampel fesesnya telat lah, terus takut juga diare berpengaruh pada penilaian karena bakterinya banyak atau apapun itu. Juga inget banget pas cek USG abdomen, si alatnya itu bunyi-bunyi aneh gitu dan ekspresi dokternya nggak enak sampai nanya macem-macem, seolah terdeteksi sesuatu.

Hmmm ya sudahlah, semakin dipikirin malah semakin berasumsi. Padahal sejatinya, kalau rejeki kan nggak akan ke mana-mana. Laahaula walaquwwata illa billaaahhh, seleksi tahap akhir sudah dilewati. Semoga lolos!

  1. Jumat, 6 Oktober 2017 : OFFERING

Setiap hari setelah MCU adalah hari-hari penantian yang amat… sangat menegangkan, penuh harap, penuh doa-doa terbaik. Rasanya, parno banget setiap kali ada e-mail masuk ke inbox, berharap ada kabar baik, tapi juga takutnya yang masuk malah rejection letter. Jadilah sebulan lamanya sejak MCU adalah hari-hari penuh Harap-Harap Cemas alias H2C. Aku yang memang rajin nge-cek grup telegram khusus rekrutmen Pertamina, makin nggak karuan dibuatnya, pada saat tepat seminggu sebelum offering, kandidat-kandidat yang dinyatakan gugur sudah dikirimi rejection letter via broadcast e-mail yang dikirimkan serentak. Di situlah perasaan makin nggak menentu, karena kemungkinan apapun masih bisa terjadi, entah apakah yang nggak dapet e-mail artinya bakal lolos, atau malah besok-besok masih bakal ada broadcast rejection letter part 2, 3, dst.

Seminggu kemudian… Suatu sore di Jumat penuh berkah, tepatnya pukul 16.18 WIB, aku yang pada saat itu lagi nunggu angkot depan Gang Bangbayang, Dago, tiba-tiba saja… tepat pada saat angkot datang dan kaki ini sudah bersiap untuk naik… JENG-JENG: ada e-mail masuk dari PERTAMINA. Aku pun seketika lemas, speechless… dan tanpa pikir panjang langsung duduk dulu karena takut keburu pingsan, karena oh karena, jelas sekali subject e-mail itu bertuliskan, “Surat Pemanggilan Pendidikan Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) PT. Pertamina (Persero).”

Alhamdulillah Wasyukurillah Wanikmatillah!!! Sungguh proses panjang penuh drama, yang bahkan kabar baiknya terjadi pada saat naik angkot. Nggak lama setelah aku membaca full isi offering letter, Rio telepon aku. Aku yang sangat emosional kala itu, akhrinya sampai lupa turun angkot dan baru sadar kalau di sekeliling adalah daerah yang nggak aku kenal. Akhirnya perjalanan pun dilanjutkan dengan menggunakan ojek online, sekian dan terima kasih wkwkwk.

Itulah cerita lengkap beserta tips & trick ala-ala saya. Semoga cerita ini dapat membantu teman-teman semua yang membutuhkan informasi tentang proses seleksi PT. Pertamina (Persero).

Satu highlight penting: kita nggak akan pernah tahu kalau kita nggak mau coba. Buktinya, aku yang dulu sempet mikir bakalan gagal di tahap-tahap awal, ternyata adaaaa aja jalannya buat lanjut terus dan akhirnya lolos. Alhamdulillah, sukses untuk kita semua :)

  • view 606