Sebuah Titik Balik: Ber-mindset CV Oriented, yay or nay?

Anonim (Sementara)
Karya Anonim (Sementara) Kategori Motivasi
dipublikasikan 29 Desember 2017
Sebuah Titik Balik: Ber-mindset CV Oriented, yay or nay?

Suatu siang di bulan Juni 2013, di tengah-tengah masa Kerja Praktik (KP) D3-ku. Seperti biasa, aku dan geng Bidadari Surga (Aci, Ias, Karin, Ayu) yang bareng-bareng KP di Banten, sedang melakukan loko alias melakukan pekerjaan secara langsung di tempat klien. Hari itu, klien kami adalah salah satu depot milik PT. Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) III di Merak, Banten. Pekerjaan yang akan kami lakukan pada saat itu adalah tera ulang TUTSIT (Tangki Ukur Tetap Silinder Tegak) alias tangki-tangki gede di industri yang bentuknya silinder. Di sela-sela pekerjaan, aku pun bertemu dengan seorang Mas-mas pegawai Pertamina yang masih terlihat sangat muda, bahkan sepertinya nyaris seumuran. Ternyata, Mas-nya adalah pegawai baru Pertamina yang masuk lewat jalur BPA (Bimbingan Praktis Ahli), yang merupakan jalur masuk untuk lulusan D3/sederajat. Jadilah kami mengobrol-obrol cantik, dengan aku sebagai penanya sekaligus pendengar jawaban yang sangat antusias.

Dari percakapan singkat kami saat itu, dapat diambil kesimpulan kalau yang namanya seleksi masuk perusahaan itu susah, apalagi perusahaan-perusahaan besar sekelas Pertamina, tentulah sangat ketat persaingannya. Aku si mahasiswa semester 5 yang masih sangat polos itu, sedikit-banyak jadi tahu apa-apa saja tahapan seleksi kerja pada umumnya, juga di Pertamina khususnya. Wah, pantas saja Pertamina hire Mas-nya yang satu ini: kemampuan komunikasinya bagus, kalau jelasin sesuatu enak, juga tipikal orang yang aktif dan cerdas. Mas-nya pun bilang, katanya kemampuan bahasa Inggris, pengalaman organisasi, juga prestasi-prestasi, itu sangat penting untuk menjadi successful candidate. Di situlah aku langsung seketika… jlebbb, tapi sekaligus sangat terinspirasi.

Sepulang dari Pertamina, aku dan geng kemudian balik ke markas (instansi tempat kami KP, yaitu Balai Pengelola Laboratorium Metrologi (BPLM) Banten). Ternyata, di kantor ada tamu yang sudah nungguin kami dari tadi. Dia adalah Mas Muhriji alias Muhe, kakak angkatan kami di D3, seorang Banten tulen yang tahun lalu juga KP di BPLM Banten. Ngobrol-ngobrol cantik-lah akhirnya kami berenam. Ternyata, Mas Muhe ini baru aja keterima kerja di Krakatau Posco. Dia pun cerita panjang-lebar gimana tahapan-tahapan seleksi yang berhasil dilaluinya. Seperti yang udah disampaikan Mas-mas Pertamina tadi siang, highlights yang disampaikan Mas Muhe terkait bekal-bekal penting untuk sukses tes kerja, kurang lebih sama. Hingga akhirnya, aku pun termenung dan seolah menjadi lebih aware akan sesuatu, tepat pada saat Mas Muhe berhenti di kata: CV…

…yap! Curriculum Vitae -yang sepengetahuanku selama ini adalah dokumen yang berisikan daftar riwayat hidup kita, termasuk biodata, latar belakang pendidikan, pengalaman organisasi, prestasi, dan segala hal terkait track record kita.

Aku saat itu langsung mikir: OMG, aku ngapain aja selama ini? Kayaknya kuliah doang, dan kalaupun ikut organisasi paling mentok cuma jadi staff. Terus nanti apa aja yang bisa aku tulis di CV-ku kalau aku minim pengalaman, apalagi prestasi? Masa sih CV-nya mau kosongan? Kan malu!

Waktu pulang kantor pun akhirnya tiba, aku dan geng langsung cus ke kosan. Nggak bisa tenang, segala macam pikiran pun berkecamuk di dalam otak. Aku tenggelam dalam perenungan demi perenungan, sambil memikirkan strategi demi strategi untuk next step-nya harus ngapain aja. Hmmm… sepertinya hari ini memang sudah diskenariokan untuk aku ‘berpikir ulang’. Pertemuan dengan Mas-mas Pertamina sekaligus Mas Muhe hari ini, pastilah sengaja didesain Tuhan supaya aku berpikir dan menyadari sebuah hal besar…

…sebelum semuanya terlambat!

Orang bijak pernah berkata, “Tidak ada kata terlambat untuk belajar, pun untuk memulai sesuatu yang baru.”

Oke. Sekarang aku nggak peduli betapa aku sudah sangat terlambat. Aku akan memulai semuanya. Nggak peduli betapa jatah waktuku sebagai mahasiswa ITB tinggal satu tahun lagi, sehingga akan disibukkan dengan tugas akhir, aku akan tetap berusaha mengatur waktu untuk aktif merintis pengalaman-pengalaman dan prestasi baru. Nggak peduli betapa aku sebelumnya selalu pesimis ikut kompetisi, seleksi, dan semacamnya, karena udah mikir duluan kalau bakal gagal, aku akan coba semua itu mulai sekarang. Nggak peduli betapa aku sebelumnya adalah orang yang cenderung pemalu, nggak berani tampil di depan umum, juga takut berpendapat di depan orang banyak, mulai sekarang aku akan melawan semua itu, menjadi pribadi yang baru, yang seratus delapan puluh derajat akan berbeda dari ‘aku’ yang sebelumnya.

Aku pun akhirnya benar-benar memulai segalanya… CV oriented! Itulah yang menjadi mindset-ku sekarang. Perlu digarisbawahi, di sini aku bermain aman. Artinya, aku bukan orang yang begitu saja mengabaikan akademik karena sibuk lomba atau sibuk ngurus kerjaan organisasi. CV oriented itu bukan yang seperti itu ya, my readers! Justru, kalau kita katanya CV oriented, nggak mau dong nantinya nulis IPK yang jelek di CV kita?

Dalam kurun waktu satu tahun terakhirku di ITB, akhirnya aku mencapai cukup banyak hal. Dimulai dari ikut kepanitiaan OSKM 2012 selepas KP (yang diklat-nya saja makan waktu lebih dari tiga bulan, demi menjadi kakak mentor untuk para mahasiswa baru), nekat daftarin band jurusan D3-ku untuk ngisi acara Bangka Belitung Festival (acaranya UKM Bangka Belitung di kampus) dengan aku sebagai vokalisnya, ikut keanggotaan Kementerian Kewirausahaan (Kewirus) BEM kampus (kalau di ITB namanya Keluarga Mahasiswa (KM)), dan yang paling super-nekat – yang akhirnya jadi titik balik terbesar – adalah mendaftarkan diri dalam pencalonan Ketua Umum ITB Entrepreneur Day (IED) 2013 (salah satu event kewirausahaan terbesar di ITB, yang pada akhirnya aku terpilih menjadi ketua umum hingga event-nya sukses terlaksana). Menteri-ku di Kewirus, Kak Iman, menilai kalau hasil kerja-ku selama memimpin event IED itu sangat bagus. Kepuasan tersebut membuat aku akhirnya ditunjuk untuk menggantikan Kak Meiza sebagai Deputi Event di Kewirus, which is tanggung jawab tersebut hierarkinya langsung di bawah Menteri. Bahkan, pada saat mau pergantian tahun ajaran, Kak Iman sempet bilang kalau aku direkomendasikan untuk jadi the next Menteri untuk Kementerian Kewirausahaan. Tapi sayangnya, karena tahun ajaran depan aku udah nggak di ITB alias udah lulus, jadilah aku nggak bisa menduduki jabatan tersebut. Yahhh… sayang sekali memang, seandainya aku aktif di KM sejak dulu, mungkin aku bisa merasakan pengalaman tersebut.

Selain organisasi, aku pun aktif mencari ilmu soft skill di dalam maupun luar kampus. Setiap kali ada seminar/talkshow/workshop gratisan maupun berbayar, aku selalu antusias untuk ikut. Berbagai tema, baik general maupun spesifik, dari mulai leadership, entrepreneurship, character building, bahkan coaching menulis, wealth management, atau manajemen SDM, semuanya dengan antusias aku pelajari. Perlahan, wawasanku makin bertambah. Leadership and teamwork skill-ku pun jadi semakin terbentuk.

Belum puas menjadi Ketua Umum ITB Entrepreneur Day (IED) 2013 dan Deputi Event di Kementerian Kewirausahaan, aku ingin menghabiskan sisa-sisa terakhir status kemahasiswaan D3-ku dengan lebih banyak pencapaian lagi. Aku pun akhirnya ikut keanggotaan Ikatan Entrepreneur Cimahi (IEC), sekaligus belajar English Business Conversation di komunitas tersebut. Di bidang proyek yang didanai dan/atau diberi coaching, aku pun lolos seleksi pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Technopreneurship Orientation Program (TOP), dan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Di akhir status kemahasiswaan, akhirnya aku lolos program forum nasional pertamaku, Future Leader Summit 2014, sebagai delegasi Bandung untuk Room of Business Development yang diselenggarakan di kota Semarang.

Begitulah gambaran ‘marathon kejar target’ yang berhasil aku selesaikan dalam kurun waktu satu tahun terakhir D3-ku. Banyak sekali wishlist yang belum tercapai, terutama mendapatkan kesempatan untuk lolos di program student exchange atau international exposure lainnya dengan fully-funded. Yap: impian ke luar negeri gratis-nya belum sempat tercapai di D3. Aku berjanji di dalam hatiku untuk melunasi semua wishlist tersebut pada saat aku menjadi mahasiswa S1 nanti.

Di kota pahlawan, perjuangan mahasiswi ekstensi ber-mindset CV oriented pun berlanjut. Alhamdulillah, banyak sekali pengalaman baru yang aku selesaikan, serta impian-impian yang akhirnya terwujud. Dimulai dari menjadi registered international member di The Optical Society (OSA) ITS Student Chapter dan menjadi salah satu officer (general secretary) di tahun kedua untuk organisasi tersebut, kemudian lolos dan bergabung menjadi bagian dari student volunteer di ITS International Office, menjadi pengajar part-time Bahasa Inggris untuk program persiapan SBMPTN 2015 dan 2016 di Beasiswa Perintis Pena Bangsa oleh YDSF Surabaya, menjadi asisten laboratorium dan staff SDM serta ketua new-member recruitment di Laboratorium Rekayasa Fotonika, presentasi dan publikasi paper pada ajang ISPhOA (International Seminar on Photonics, Optics, and its Applications), lolos dan menjadi awardee beasiswa Dataprint, serta menjadi finalis lomba inovasi teknologi Indikatama (Insan Cendekia Utama) dan SNOW (Smart Innovation of Writing).

Pengalaman international exposure pun akhirnya tercapai selama masa studi S1. Dalam dua tahun, aku berhasil menjadi successful delegate untuk 3 international program. Dimulai dari menjadi 1 dari 3 orang Indonesian delegate untuk 2nd Asia Pasific Alliance for Leadership and Community Work di Penang, Malaysia, pada tahun 2015. Di tahun yang sama, aku menjadi Indonesian Representative pada program Indonesia-China Youth Exchange Program 2015 yang merupakan bagian dari program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) yang disupport penuh oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Hingga akhirnya di tahun 2016, aku menjadi satu-satunya delegasi Indonesia untuk program Student Leadership Conference di New York, Amerika Serikat, yang disupport penuh oleh The Optical Society (OSA) pusat di Massachusetts, Washington DC.

Begitulah gambaran perjalananku selama menjadi mahasiswa D3 dan ekstensi (detail cerita untuk beberapa pengalaman di atas, seperti biasa akan ditulis di artikel lain). Tapi sungguh, semua itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan banyak sekali orang-orang hebat yang saya kagumi di luar sana, yang sudah merintis sesuatu yang besar dan berdampak untuk masyarakat banyak.

Jadi bagiku, menjadi seseorang ber-mindset CV oriented, bukanlah semata-mata untuk menabung prestasi, apalagi jadi ajang pamer pencapaian. Sejak memiliki prinsip CV oriented, banyak sekali pengaruh positif yang aku rasakan, yang kemudian menjadi habit tersendiri. Prinsip yang satu ini membuatku jadi selalu semangat, memiliki jiwa kompetitif, tidak mudah berpuas diri, selalu ingin berkontribusi, dan selalu ingin belajar serta berkembang. Ya, tentu saja aku ingin berbuat dan merintis sesuatu yang lebih besar lagi, yang lebih memberi makna dan manfaat bagi banyak orang. Aamiinn Yaa Rabbal Alamiinn!

If so, having a CV oriented principle is YAY, indeed! :)

  • view 264