Sajak Sudut Kota

Sajak Sudut Kota

Anonim (Sementara)
Karya Anonim (Sementara) Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Desember 2017
Sajak Sudut Kota

Yang kami pahami, pengaruh manusia pada manusia lainnya itu bisa sangat besar. Bila yang hari kemarin begitu teguh berprinsip, esok harinya bisa melakukan sebaliknya. Yang kemarin begitu keras berlayar ke satu arah dengan kompas di tangannya, mungkin lusa akan membalik layar ke arah seratus delapan puluh derajat. Tidak peduli siapa saja manusia-manusia yang goyahkan semua yang katanya sangat prinsipil itu, atau entah sebenarnya pilihan mana yang benar dan mana yang salah. Tapi satu hal: setiap manusia memiliki nalurinya sendiri-sendiri untuk belajar.

Kita belajar dari semua kesalahan maupun hal-hal baik dari kisah kita sendiri.

Di satu hari kita begitu mensyukuri kebaikan, kesuksesan, dan hasil kerja keras kita. Itu semua untuk dijadikan pelajaran, agar dipertahankan. Bahkan ditingkatkan.

Tapi di satu hari kita begitu menyesali suatu kesalahan, dosa, dan kegagalan kita. Itu semua juga untuk dijadikan pelajaran, agar dikurangi. Bahkan dieliminasi.

Bila yang kita kenang adalah pengaruh orang-orang baik yang membuat kita baik dalam banyak hal, tentu lebih mudah menerima mereka di lingkaran kita. Jadi ujiannya terletak pada hal yang sebaliknya: bagaimana caranya kita menerima orang-orang yang menurut versi kita 'kurang' lebih baik dari kita. Ah iya, nasihat lama berkata bahwa kita lebih baik menghindari mereka, pandai memilih kawan, karena lingkungan itu pengaruhnya besar. Tidak masalah, itu pilihan masing-masing.

Uniknya, ada pula manusia-manusia yang berpikir sebaliknya. Bahwa apabila mereka merasa 'sedikit' lebih baik, maka di sanalah seharusnya mereka menjadi cahaya. Di sanalah mereka saatnya merangkul, bukan memilih pergi dan meninggalkan lingkungan yang 'tidak lebih baik' itu.

Bukankah di paragraf pertama katanya pengaruh manusia pada manusia lainnya itu bisa sangat besar? Kalau begitu, kita cukup tangguh bila memutuskan untuk menjadi cahaya, berbagi kebaikan, kebenaran, namun dengan cara yang paling santun. Jadilah pengaruh yang baik.

Satu hal: manusia paling 'buruk' sekalipun, masih bisa luluh, karena manusia dianugerahi hati oleh Tuhan.

Hati, yang tidak akan pernah bisa berbohong dan paham kebenaran.

 

  • view 160