Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 17 Februari 2016   11:13 WIB
Buang Sampah dan Klenik

Ritual buang sampah adalah hal yang cukup sulit dilakukan masyarakat Indonesia. Percaya atau tidak percaya maka anda harus percaya. Lho, kok saya terlihat memaksakan kebenaran saya. Ya memang kenyataannya seperti itu kok. Banjir adalah salah satu akibat orang-orang melakukan buang sampah sembarangan.? Anda dapat melihat kali-kali atau sungai di sekitar rumah atau kampung anda. ?Banyak sampah yang berkeliaran di sungai. Sungai yang keruh dan ditambah lagi dengan sampah yang menumpuk membuat bau sedap-sedap gimana gitu tercium begitu saja di hidung-hidung kalian.

Terkadang saya tidak habis pikir dengan kelakuan-kelakuan manusia yang rela dan teguh pendiriaannya dalam melakukan buang sampah di sungai. Kok ya ndak mikir kalo air sungai masih banyak dibutuhkan warga yang tinggal di bantaran sungai untuk MCK. Terlebih ada makhluk lain seperti lele, katak, ular yang justru mengganggu habitat mereka. Namun mau bagaimana lagi, masyarakat Indonesia memang agak sulit diatur untuk urusan yang beginian. Butuh waktu yang lama. Mungkin 10 tahun, 100 tahun atau bahkan 3,5 abad lamanya. ?????????????

Buang sampah ini bukan hanya sekedar sampah yang plastik, tapi sampah yang gak plastic dan juga sampah semacam puntung rokok. Masyarakat Indonesia sudah malas membuang sampah pada tempatnya, la kok malah sampah harusnya dipilah-pilih agar ditempatkan di tempat sampah yang tepat. Mungkin kamsudnya baik agar masyarakat teredukasi untuk menaruh mana sampah plastic dan mana sampah yang bukan plastic. Sayangnya hal tersebut juga sulit dilakukan. Sekali lagi butuh waktu lama agar masyarakat terdukasi semuanya.

Mungkin kita harus mencontoh pemerintah kota Yogyakarta yang menurut saya memiliki ide brilian. Ide yang dimaksud adalah untuk mengatasi manusia yang buang air sembarangan. Pokoknya buang yang sembarangan itu ndak baik. Pemerintah kota Yogyakarta telah memberi papan nama yang berisi ?Jangan Buang Air Sembarangan Kecuali Anjing?. Banyak juga papan nama yang berisi peraturan daerah yang melarang manusia buang sampah/air sembarangan. Namun tetap saja manusia-manusia tersebut melanggar peraturan yang telah dicanangkan.

Akhirnya pemerintah kota Yogyakarta memberi ?kemenyan? pada tempat-tempat yang biasanya dikencingi. Brilian dan efektif. Bau yang ditimbulkan dari kemenyan ?sangat menusuk ke hidung sehingga membuat orang-orang ketakutan. Toh?sudah mahfum bahwa kemenyan identik dengan hal-hal gaib. Orang-orang Jogja sudah terstigma bahwa tempat yang mengandung bau tersebut diibaratkan telah memiliki ?penunggu?. Nah, cara ini membuat tempat-tempat tersebut sama sekali tak terjamah oleh orang-orang yang iseng buang air di tempat tersebut. Luar Biasa.

Mungkin jika perlu bantaran kali atau sungai juga harus diberi sesuatu yang seperti itu sehingga orang-orang enggan untuk buang sampah sembarangan. Wong kita baca tulisan mau pake font dengan ukuran apapun juga tidak bakal diperhatikan. Sesungguhnya cara klenik masih rasional untuk digunakan membenahi mental masyarakat. Sekali lagi, hal klenik bukan berarti ada ?penunggunya?. Ini hanya cara tersistematis agar manusia lebih sadar lingkungan. Jika sampai kemenyan ndak mempan membenahi mental masyarakat, ya sudahlah. Biar Tuhan yang membuka pintu hati mereka. Selesai.

Karya : Moddie Alvianto W