Rindu dari Braga

Mochamad Pratama
Karya Mochamad Pratama Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Juli 2016
Rindu dari Braga

Malam itu di bulan Juni, kita saling berdampingan di depan televisi. Sorak sorai pembawa acara di layar kaca tak kita hiraukan, kita sibuk dalam diam dalam keheningan waktu yang terus bejalan. Aku berusaha menggapaimu, merekam setiap mili wajahmu, menghirup aroma tubuhmu dalam setiap tarikan nafas, mencerna setiap kalimat yang engkau ucapkan dalam gerak mu.

Malam itu tak hentinya aku menatap layar ponselku, sekedar tuk memastikan menit demi menit yang berlalu akan berhenti dan tak akan berjalan kembali. Aku terdiam dalam marah dan cemas karena waktu tak pernah mengerti bahwa malam ini adalah malam dimana aku harus berpisah denganmu. Semilir angin membawa kecemasanku terbang melayang menerpa kaca-kaca jendela, menyibakan kemarahan ku dengan sejuta kenangan indah bersamamu. Sungguh aku tak rela jika malam terkahir ini harus dicemari oleh pertengkaran yang hanya akan membuat hati ku dan hati mu semakin teriris jurang kesedihan.

Aku diam kau pun masih terdiam entah apa yang terjadi pada kita, mungkin keduanya terikat dalam bisu tercekat dalam teriak hingga sulit sekali mengaliri kerongkongan ini dengan kalimat-kalimat indah dan lucu yang biasanya mengalir deras dari bibir kita berdua. Bukan aku rela dengan perpisahan ini bahkan aku tak akan pernah rela jika harus berpisah dengan mu, namun jika Tuhan telah berkehendak apalah daya kita menentang kuasa Nya.

Wanda.

Kulantunkan namamu dalam setiap bait doa-doa malamku. Aku mendoakan mu karena aku tak tau cara apa yang paling tepat untuk mencintaimu. Aku tau, bahwa untuk saat ini kita tak bisa bersama, karena kau berada di kota berbeda. Tapi aku percaya, jarak bukanlah perkara bagi doa. Karenanya, aku ingin kaupun melakukan hal serupa disana; bertukar pahit manisnya kerinduan dalam sebait doa, bertukar cinta dalam pinta kepada Nya.

Aku tahu aku tak bisa selalu ada di sisimu, aku tak bisa selalu menemani mu, aku tak bisa memenuhi seluruh janji-janji ku. Karena itu aku berdoa pada Tuhan. Karena aku tau Dia akan selalu berada di dekat mu, Dia akan selalu bisa menemani mu, pantang bagi Nya untuk mengingkari janji, dan tentu saja Dia akan selalu menjawab doa-doa ku tentang mu.

Suatu pagi saat kau terbangun ataupun suatu malam saat kau menatap hamparan bintang, mungkin terfikir oleh mu keraguan "mungkinkah doaku dikabulkan ?" Sebabnya karena kekeliruan mu yang banyak pada Nya hingga kau merasa Tuhan tak akan mengabulkan doamu. Jangan kamu resah... Tuhan tak seperti kita, Dia Maha Baik. Dia tak akan membencimu bahkan kini Dia mencintai mu lebih dan lebih dalam lagi sebab doa doa yang kamu lantunkan setiap hari. [1]

Jika suatu hari nanti kamu merasa hidupmu tak bisa diubah, atau antara mimpi dan keadaan saat ini punya jurang pemisah, tetaplah berdoa. Percayalah, doa itu bukan tentang siapa yang mengucapkan, tetapi tentang Siapa yang mendengarkan...[2]

Wanda,

Aku mencintaimu. Sebab itu aku takkan pernah berhenti mendoakan kebahagian mu. [3]

 

BANDUNG

Mochamad Sugih Pratama

* * * *

[1] Cerpen Trias Abdullah : Cinta kemudian Doa

[2] terinspirasi oleh kata-kata Fahd Pahdepie

[3] Puisi Sapardi Djoko Darmono; Dalam doaku

  • view 251