Menuju Swasembada Beras Indonesia?

Mochamad Toha
Karya Mochamad Toha Kategori Ekonomi
dipublikasikan 02 Februari 2016
Menuju Swasembada Beras Indonesia?

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa stok beras akan aman hingga memasuki masa panen raya yang diprediksi akan terjadi pada Maret 2016. ?Dua bulan telah terlewati, sekarang tinggal dua bulan lagi mudah-mudahan bisa sampai Maret, lagipula akan ada tambahan stok beras dari panen bulan Februari sebesar 3,5 juta ton,? ujarnya.

Pemerintah saat ini telah mempersiapkan stok beras setiap bulannya mencapai 150 ribu. Dari November 2015 hingga kini pemerintah telah melepas beras untuk operasi pasar mencapai 66 ribu ton dan cadangan nasional mencapai 1,2 juta ton.

Mentan Andi Amran yakin, Indonesia pada 2016 ini akan Surplus Beras. Dengan perbaikan infrastruktur pertanian seperti irigasi yang mencapai 2,4 juta km yang telah dilakukan tahun lalu. Pencetakan sawah baru yang mencapai 200 ribu ha, juga penyebaran alat pertanian ke sejumlah petani dan kelompok tani yang mencapai 100 unit alat pertanian.

Ia juga sangat yakin dengan data tersebut nantinya bisa membuat Indonesia bisa swasembada beras secara nasional pada 2016 ini. ?Produksi padi bisa di genjot,? ujar Mentan Andi Amran.

Untuk pencetaan sawah baru, diprioritaskan untuk daerah yang belum mandiri menghasilkan padi. Di mana akan dibuka sawah baru yang mencapai 2 sampai 3 juta ha sawah.

?Ini akan disebar untuk semua wilayah. Dengan begitu wilayah tersebut bisa swasembada beras, jika kebutuhan daerah tersebut terpenuhi, baru bisa dilempar keluar stok berasnya,? lanjut Mentan Andi Amran.

Sayangnya, apa yang diharapkan Mentan Andi Amran itu bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan, meski hingga saat ini cadangan beras nasional masih mencapai sekitar 1,2 juta ton. ?

Pemerintah kembali berencana mengimpor beras melalui Perusahaan Umum Bulog. Setelah pada 2015 lalu mendatangkan beras dari Vietnam, tahun ini pemerintah menjajaki impor dari Pakistan dan India.

Apalagi, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menyatakan, saat ini pemerintah telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pakistan, meski rincian untuk jumlah, harga, dan waktunya belum disepakati dalam kontrak. Pihaknya sedang mempelajari aspek legal dan teknisnya serta stok beras medium yang ada di Pakistan.

Sedangkan dengan India, penjajakan masih di tahap awal, belum ada nota kesepahaman. Yang pasti, Negeri Mahatma Gandhi itu memang memiliki stok beras melimpah. Setahun, India bisa ekspor beras senilai US$ 3-4 miliar.

Sebenarnya apa yang terjadi di Vietnam, Thailand, Pakistan, dan India bisa saja diterapkan di Indonesia. Sebab, para petani di negara tersebut sudah memakai pupuk formula organik yang hasilnya bisa melimpah. Di sana, dengan menggunakan pupuk organik, bisa menghasilkan 14 hingga 16 ton/ha padi.

Inilah salah satu Formula Pupuk Organik yang dihasilkan Tim Formula Revolusi Kesehatan yang diyakini terbaik di dunia sampai hari ini. Jika punya political will, Indonesia bisa seperti negara-negara tersebut. Inilah yang menjadi tantangan di Indonesia. Di sana tanaman padi bisa menghasilkan 14 hingga16 ton/ha.

Makanya, mereka surplus hasil panen, sehingga bisa mengekspor beras. Harga beras di India cuma sekitar Rp 5.000,-/kg. Menurut Tri Mardiyanto dari Tim Formula Revolusi Kesehatan, tanaman padi bisa mencapai hasil panen yang spektakuler tersebut karena mereka berhasil mengembalikan DNA tanaman tersebut.

Di kalangan petani di Pati, Jawa Tengah, Klaten dan Prambanan, Jokjakarta sudah banyak yang menggunakan formula tersebut. Hasilnya, luar biasa. Tanaman padi yang biasanya menghasilkan sekitar 8-9 ton/ha, dengan formula ini bisa mencapai hasil panen sampai 13 ton/ha. Aplikasi ketiga, sudah bisa menghasilkan 14 ton/ha.

Dengan memakai pupuk organik itu, diharapkan bisa menyelamatkan tanah dan bangsa ini dengan Revolusi Kesehatan. Lahan sawah jadi subur dan hasil panennya bebas dari pupuk kimia. Menurut Tri Mardiyanto, pihaknya sudah bergerak selama 6 tahun. Gabahnya utuh, tidak rusak, kualitasnya juga bagus.

Begitu pula dengan jagung. Ada peningkatan jumlah hasil panennya. Demikian pula yang terjadi dengan kacang panjang. Terjadi penambahan sekitar 50 persen panjang kacangnya. ?Dulu waktu kita kecil, kalau habis panen, lalu sebagian disimpan di dalam lumbung padi, dan gabahnya bisa tahan sampai 2-3 tahun,? ujar Tri Mardiyanto.

?Sekarang, maksimal 3 bulan, gabah dan beras kita itu sudah rusak, hancur thothoren dimakan bubuk, belatung,? lanjut putra Lamongan yang pernah belajar pertanian selama 2,5 tahun di Jepang itu.

Selama ini, dengan pola tanam yang serba pestisida, pupuk kimia, urea, dan ZA, sudah terjadi perubahan dari dalam sel beras dan bahan pangan lainnya. Dengan menggunakan formula organik, kandungan oksigen dari beras itu maksimal.

Mungkinkah beras yang kita konsumsi selama ini yang nota-bene adalah produk pupuk kimia bisa diubah menjadi beras organik? Ternyata bisa dengan memakai BioSYAFA. Bahkan, formula ini juga bisa membuat sayuran yang sebelumnya layu bisa segar kembali seperti baru memetik.

Jadi, beras yang selama ini merupakan hasil dari tanaman padi dengan pupuk kimia, bisa saja diolah menjadi beras organik dengan sedikit memberinya cairan BioSYAFA saat direndam. Selain itu, gabah yang biasanya waktu ditanam diolah dengan pupuk Urea, Za, atau Pestisida, juga bisa diubah menjadi beras organik.

Uji coba ini sudah dilakukan di Laboratorium UGM Jogjakarta dan SUCOFINDO Surabaya. Caranya, gabah basah yang baru dipanen petani yang bertani dengan pupuk urea dan pestisida itu, direndam air yang sudah dicampur dengan formula komposer, dengan perbandingan Air : Komposer (1000 : 2), selama 4-6 jam. Lalu dikeringkan, dan diproses giling seperti biasa.

Formula Revolusi Kesehatan Pertanian ini adalah pupuk cair organik (yang diyakini terbaik di dunia sampai hari ini), serta formula untuk membuat Beras Organik Secara Instan tersebut.

Perbedaannya dengan beras yang sudah ada, antara lain: Pertama, warna putihnya lebih keruh, itu menunjukkan kepadatan karno hidrannya lebih tinggi; Kedua, kalau dimasak lebih punel; Ketiga, tidak mudah basi, insya' Allah sampai 3 hari masih bisa bertahan; Keempat, pada saat mau memasak, tidak perlu dicuci atau dipususi, karena beras tadi full dengan nutrisi bagus; Kelima, secara laboratorium, Beras Itu Non Pestisida.

Mengapa itu bisa terjadi seperti itu? Apa karena memakai pestisida? Dengan pola tanam yang serba pestisida, pupuk kimia, urea, dan ZA, sudah terjadi perubahan dari sel beras dan bahan pangan lainnya. Dengan pola tanam organik, kandungan oksigen dari beras itu maksimal. ?Ada keseimbangan yang ideal, antara kandungan oksigen dan karbohidrat,? lanjutnya.

Dengan pestisida, kandungan tersebut berubah drastis, kandungan oksigennya tipis, sedikit, sementara kandungan karbohidratnya meningkat. ?Hasilnya, daya tahan beras itu menurun dan rapuh. Karena yang terkandung bukan lagi oksigen, tapi berubah menjadi Karbon Mono Oksida (Oksidan),? ungkap Tri Mardiyanto.

Struktur sel beras yang rapuh ini, ?Yang penuh dengan oksidan itulah yang kita makan setiap hari selama berpuluh-puluh tahun. Unsur kehidupan semua mahluk hidup itu oksigen. Kalau kandungan oksigennya tipis, sedikit, maka daya tahannya pun rapuh. Sel beras dengan daya tahan yang rapuh itulah yang kita makan terus menerus selama bertahun-tahun,? tegasnya.

Maka pada gilirannya, akan menghasilkan pula sel tubuh yang rapuh. Kalau sel tubuh rapuh, maka berbagai kemungkinan penyakit akan mudah masuk. Pola tanam yang serba pestisida tersebut juga yang telah merubah struktur sel beras. Karena pupuk kimia dan pestisida itu menghasilkan zat Pereduksi.

Menurut Tri Mardiyanto, zat pereduksi yang terkandung di beras dan jagung itu diperkirakan sekitar 10 hingga 20 persen. Zat pereduksi itulah yang sudah merubah kandungan oksigen, digantikan oleh karbon mono oksida (oksidan).

?Zat pereduksi ini yang menyebabkan berbagai penyakit degeneratif, seperti Diabetes, Asam Urat, Kolesterol Tinggi, Kanker, dan sebagainya,? katanya. Kehadiran komposer dan pupuk organik ini bisa mengembalikan struktur tanah yang selama ini sudah terkontaminasi pupuk kimia. Sehingga, ?Terjadilah revolusi kesehatan pertanian tadi,? lanjutnya.

Hingga hari ini ternyata Pemerintah masih mengimpor beras dari luar. Tak ada upaya ekstrim dan spektakuler bagaimana cara meningkatkan hasil pertanian, terutama padi. Padahal, ada banyak formula pertanian yang bisa dimanfaatkan Pemerintah untuk mendongkrak volume hasil panennya.

Salah satunya ya dengan Formula Organik temuan seorang profesor ahli mikro kultur bakteri? asli Indonesia yang sudah diaplikasi di beberapa daerah di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur. Di Bogor juga sudah ada yang mengaplikasikannya seperti cerita dari Tim Formula Organik.

Berikut saya kutip ceritanya:

APLIKASI ke 2
Tadi dapat kiriman WA dari team aplikator di Cilember Cisarua Bogor. Dahulu, hasil rata2 padi : 3,5-3,7 ton/hektar. Aplikasi 1 dulu dapat rata2 : 7,18 ton/hektar. Dalam aplikasi ke-2 ini, umur 40 hari jumlah anakan rata-rata 38 batang.

Dari meratanya pertumbuhan anakannya, mereka, para petani binaan kami di sana memperkirakan bisa dapat sekitar 10 ton/hektar. Dari total sekitar 14 hektar, ada sekitar 20% yang rusak akibat keong emas berasal dari banjir bandang.

Ada lagi, pohon durian yang 3 bulan lalu panen, lalu di-treatment dengan methode organik, sekarang sudah panen. Dan sekali petik dapat 70 kg/pohon, biasanya maximal 40 kg/pohon.

Methode organik ini di Jateng dan Jogja, ada yg sdh bs mencapai 14 ton/ha. Target Tim Formula Organik: 15-16 ton/ha, seperti di Thailand dan India (konsultannya dari Indonesia penemu formula organik ini juga).

Dengan menggunakan pupuk formula organik ini, sudah bisa dipastikan, Indonesia akan dengan mudah mencapai swasembada beras. Dari contoh aplikasi yang di Bogor saja, jelas sekali ada penambahan volume hasil panennya, yang semula? 3,5-3,7 ton/ha.

Ketika aplikasi pertama dulu hasil panennya rata-rata 7,18 ton/ha. Dan, diperkirakan hasil panen aplikasi kedua bisa mencapai 10 ton/ha. Bisa dibayangkan dan dihitung, berapa ton per hektar hasil panen padinya untuk aplikasi selanjutnya.

APLIKASI ke 2 ORGANIK

Barusan ketemu dengan Mas Koipin, seorang petani original , dari desa Glagah Sari , kecamatan Soko,kabupaten Tuban. Dari aplikasi ke 2, Lahan seluas : 2.600 m2, Jenis Padi. : IR 64. Dari sawah seluas itu,total diperoleh GABAH KERING SAWAH ,sebanyak 3.840 kg.

Kalau dipakai ukuran 10.000 m2 ( 1 hektar ) , bisa dapat angka 14.760 kg gabah / hektar. Di lahan yang bersebelahan, dengan methode yang sama,di dapatkan angka 14.250 kg / hektar. AYOOOOOO, KITA BISA !!!

Sehingga, di sini juga bisa dihitung pula, ada peningkatan hasil panen yang mencapai 2 kali lipat dibandingkan dengan pemakaian pupuk kimia yang dilakukan petani selama ini, bukan? Inilah nilai keuntungan petani yang bakal diperoleh jika menggunakan Formula Organik ini!

Belum lagi adanya penambahan nilai jual hasil produksinya. Karena, berasnya sudah masuk klasifikasi Beras Organik, maka nilai jualnya juga akan meningkat hingga minimal 50 persen (jika harga beras organik Rp 15 ribu/kg).

  • view 783

  • Mochamad Toha
    Mochamad Toha
    1 tahun yang lalu.
    Merk dagang mmg blm ada. Di Jogja pake merk SIPO, tapi di daerah lainnya tergantung permintaan pemesan. Untuk mendapatkannya biasanya pesan lgsg ke Tim Formula Organik. Formula Pupuk Organik ini temuan seorang profesor ahli mikro kultur bakteri, krn pupuk ini berbasis bakteri (doktor lulusan Jepang). Kalau berminat bs japri dg sy atau hub hp: 081234585280. Email: toha.forum@gmail.com.

  • Omega Tiga
    Omega Tiga
    1 tahun yang lalu.
    Nama merk dagang formulanya apa ya pak ? dan dimana bisa mendapatkanya?