Komitment Sehidup Sesurga Bersamamu

Mochamad Habib N Amali
Karya Mochamad Habib N Amali Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 September 2016
Komitment Sehidup Sesurga Bersamamu

Ketika aku memilih kamu, aku tak begitu yakin kamu akan menerimaku. Dan ketika kini kamu telah menjadi pendampingku. Aku semakin yakin jika kamu juga menginginkan kita sehidup sesurga. Bukan kerena puisi manisku atau model penampilanku yang pas-pasan kamu memilihku. Bahkan juga bukan karena statusku yang ketika itu masih sibuk menyelesaikan skripsiku dan penghasilanku juga masih belum pasti. Aku masih penasaran kenapa kamu menerimaku, kenapa memilihku. Tapi sejak saat itu, sejak aku dan kamu komitmen di malam pertama kita untuk hidup bersama, sehidup sesurga, semuanya akan lebih indah. Bismillah…

Kini hidup sebagai lulusan sarjana yang tak berpenghasilan tetap. Rumah yang masih ngontrak.  Hampir tujuh tahun hidup bersama, cuma berdua. Paham kan maksudku. Selalu ada rasa cemburu ketika temen-temen seperjuangan saling ketemu membawa buah hati mereka. Apalagi ketika ketemu keluarga besar istriku. Bukan kita tak berusaha, tapi Allah sepertinya belum melayakkan kita untuk menjadi orang tua. Kalimat itu selalu jadi semangat kita berdua.

Pernah ketika itu aku dihadapkan dua pilihan yang berat. Sampai aku nggak bisa tidur karenanya. Memilih datang diacara keluarganya, atau hadir di acaraku, sebuah majelis ilmu rutin mingguan. Di acara keluarganya, semua kakak dan adiknya datang membawa buah hati mereka masing-masing. Sementara diacaraku, aku jadi pematerinya, itu sudah rutin dan adik-adik jama’ahku selalu menantikan kajian itu dengan semangat. Aku merasa tidak enak hati jika meliburkan acara tersebut. Aku takut meredupkan semangatnya. Tapi aku juga tidak enak hati jika tidak bisa menghadiri undangan mertuaku.

“Udah bi, kita nggak usah hadir ke rumah bapak, Abi jalankan aktivitas mingguan Abi, kasihan adik-adik “ katanya

“Tapi, aku ndak enak sama bapak, apalagi sama ibu, belum sama kakak-kakakmu.” Jawabku mencoba berargumen.

“Terus, daripada sepulang dari rumah kita jadi sakit hati” balasnya singkat sambil merapikan tempat tidur.

Aku diam mencoba berpikir bijak. Kucerna kalimatnya dan kuresapi tiap kata-katanya. Otakku terus berputar. Kuingat semua hal terakhir kali aku pulang dari rumah mertuaku. Kuingat betul kata-kata dan ekspresi wajah ayah mertuaku. Sampai kapan mau hidup berdua. Itu yang selalu mengganjal ketika aku pulang dari rumahnya.

“Udah nggak usah dipikirin” tiba-tiba dia membuyarkan lamunanku. Aku segera keluar kamar ambil air wudhu persiapan mau sholat malam. Kami berdua memang punya kebiasaan selalu diskusi terlebih dahulu setelah bangun tidur. Ketika mencapai jalan buntu, maka tidak ada solusi lagi selain minta petunjuk lewat sholat malam. Itu selalu kita lakukan sejak aku menjadi imam baginya.

Entah apa yang ada dipikiranku tiba-tiba kajian mingguanku kuajukan jamnya yang awalnya siang, jadi pagi hari. Dan adik-adik jamaahku Alhamdulillah setuju. Jadi aku berharap bisa datang juga ke rumah mertuaku meski harus terlambat. Istriku kaget ketika aku berangkat dan pulang lebih awal dari biasanya aku ngisi kajian. Aku bilang pada istriku kita akan pulang sebagai bakti kita kepada orang tua kita.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa banyak-banyak berdzikir dan tak henti-hentinya melirik wajahmu lewat kaca spion motor bututku. Kamu kelihatan pasrah. Aku merasa bahwa ternyata istriku juga takut jika orang tuanya menyindirku lagi.

Tapi semuanya berubah. Entah apa yang terjadi, sepatahkatapun mertuaku tak menyinggung masalah yang membuatku takut pulang ke rumah ini. Acara berjalan lancar sampai selesai. Kami berdua pun pamit izin pulang karena besok aku harus kerja. Sepanjang perjalanan aku lihat istriku selalu tersenyum. Aku menyangka bahwa dia tersenyum karena keluarganya tidak menyinggungku. Tapi sangkaanku ternyata salah. Serius salah besar.

Setelah sampai di rumah kontarakan, aku bertanya kepadanya “kenapa sih kog senyum-senyum terus?” Dia tetap diam dan membuatku tambah penasaran. “Dan kenapa bapak dan ibu sekarang berbeda?” tanyaku lagi.

Dia membuka tas yang dipegangnya dan mengeluarkan secarik surat. Aku tambah penasaran. Langsung saja kubuka isi surat tersebut. “Alhamdulillah” hanya itu yang keluar dari mulutku, tapi tak sadar jika air mataku juga ikut keluar. Tak kusangka akhirnya aku akan menjadi seorang Ayah. Betapa bahagianya hati ini. Hidupku memang penuh cobaan, tapi bersama istriku, hidup ini jauh lebih indah.

Keinginan kita untuk membagaiakan kedua orang tua kita dengan hadirnya buah hati selalu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi kita berdua. Takut karena tak bisa menjawab pertanyaan tentang itu. Bukan karena tak berusaha, tapi mungkin Allah belum melayakkan kita untuk menjadi orang tua. Itu selalu jadi penguat kita berdua.  Tapi kini ketakutan itu hilang ketika harapan itu mulai ada.

Akupun memberanikan diri untuk bertanya kenapa dia begitu percaya padaku setelah hidup bersamaku tujuh tahun dengan kesederhanaan ini? Kenapa dia terima aku saat pertama kali kunyatakan cintaku? Kenapa dia memilihku? Dan kenapa dia menerimaku sampai sejauh ini?

“Bi, maaf ya tidak memberitahumu sejak kemarin.” Jawabnya sambal memelas. “Bi, bukan isi dari kertas ini yang membutku bahagia. Tapi aku bisa hidup bersama abi yang selalu aku impinkan. Hidup bersama laki-laki yang pemberani dan bertanggungjawab. Keistiqomahan Abi dalam mendakwahkan agama ini, Komitmen Abi dalam membangun keluarga ini, dan komitmen kita berdua di malam pertama kita saat itu yang selalu membuatku percaya bahwa kita bisa bahagia, sehidup sesurga”

Komitmen itu adalah sampai kapanpu ada apapun alasannya kita akan selalu memperjuangkan dua hal. Agama kita dan keluarga kita. Udah itu aja. Karena dibalik komitmen yang simple itu terkandung banyak makna yang ketika kita bisa menjalankannya makan kebagaian akan kita dapat di dua hal. Dunia dan akhirat. Semoga kita tetap bisa sehidup sesurga. Aamiin

 

Malang, 7 September 2016