Relasi Jomblo dan RUU Minuman Beralkohol

Maulana Ali
Karya Maulana Ali Kategori Politik
dipublikasikan 12 Februari 2016
Relasi Jomblo dan RUU Minuman Beralkohol

Hari ini, setelah mengikuti Diskusi Publik?yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM-red) Justisia UIN Walisongo Semarang dengan tema seminar 'Minuman Beralkohol dari Hulu Ke Hilir', saya mulai berpikir ulang tentang pelarangan minuman beralkohol. karena yang kita bahas pagi tadi intinya kurang lebih seperti ini; bahwa minuman beralkohol (termasuk didalamnya tuak, arak dan minuman tradisional yang mengandung alkohol) merupakan minuman yang yang memabukkan dan mempunyai dampak negatif bagi konsumennya.

Berita-berita kalau coba kita?sesearch di Google misalnya, banyak kematian yang diakibatkan oleh minuman beralkohol (oplosan-red) dan kasus-kasus pidana yang diakibatkan karena meminum minuman beralkohol. Dari realitas semacam ini kemudian pemerintah mencoba melindungi segenap masyarakat dari bahaya minuman beralkohol.?Tetapi dari kenyataan ini kemudian muncul dibenak saya terkait dengan latar belakang RUU ini muncul.

Perlu kita sadari bersama bahwa, kematian dan kasus pidana bisa berasal dari mana saja, tidak hanya dari minuman beralkohol. Mungkin pemerintah juga lupa, kalau banyak juga Jolmbo yang pada akhirnya mati karena gantung diri, kaum Jomblo semacam ini biasanya secara Psikis mengalami kegelisahan yang sangat dalam karena menyandang predikat Jomblo. predikat yang sebagian orang menganggap sebagai predikat proletar di kalangan pemain cinta.

Lalu, apakah kemudian melarang minuman beralkohol untuk diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi ini menjadi langkah yang tepat dalam melindungi masyarakat dari kematian. Jelas terlalu terburu-buru kesimpulan yang demikian itu. Karena pemerintah juga harus ingat konsep dasar ekonomi, kalau ada sesuatu barang tertentu dilarang peredarannya, maka justu barang terlarang itu akan tambah menjamur di mana-mana, karena masyarakat tidak lagi mudah menjumpai barang terlarang tersebut di supermarket-sepermarket maka akan tambah mahalnya barang tersebut. karena langka, biasanya, kelangkaan ini dimanfaatkan oleh sebagian orang justru untuk mendapat keuntungan dengan cara memproduksinya secara ilegal. Karena semakin langka maka harganya akan semakin mahal. Begitulah kira-kira konsep di dalam ekonominya.

Apakah kemudian kalau minuman tradisional yang mengandung alkohol di larang masyarakat akan senang?. jangan lupa juga kalau minuman tradisional seperti arak?dan?tuak sudah menjadi minuman masyarakat tertentu yang tidak tabu lagi di kalangan mereka. karena sebagian masyarakat menganggap minuman beralkohol (tradisional) adalah sebagai minuman penghilang lelah setelah seharian bekerja. Dan saya belum pernah menemukan kasus kematian yang diakibatkan oleh minuman tradisional (arak, tuak. dll).

Juga seharusnya yang harus diperhatikan pemerintah untuk bahan pertimbangan pembuatan RUU minuman beralkohol adalah aspek ekonominya. Kalau saja RUU ini disahkan, bagaimana nasib produsen minuman tradisional ini?. Padahal selama ini yang terjadi, rata-rata dari mereka juga menggantungkan hidupnya melalui produksi minuman ini. kebanyakan mereka yang memproduksi minuman ini adalah petani yang kebutuhannya belum terpenuhi secara ekonomi. Memproduksi minuman ini dilakukan sebagai upaya menyambung hidup. Dan dilakukan secara manual. Jadi, volumenya tidak banyak. Tidak sebanyak minuman beralkohol yang notabene dari luar negeri.

Begitulah kira-kira kegundahan saya setelah mengikuti diskusi publik hari ini. tapi yang perlu saya tekankan adalah; Kejombloan juga bisa menyebabkan kematian. Maka, Pemerintah seharusnya juga membuat Rancangan Undang-Undang tentang pelarangan bagi masyarakat khususnya bagi pemuda-pemudi yang sedang menyandang predikat Jomblo. Karena Jomblo itu mematikan.?

  • view 155