Menghamba di Titik Sunrise

Maulana Ali
Karya Maulana Ali Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Menghamba di Titik Sunrise

Menjelang fajar, embun pagi menyeruak dari sela-sela jendela di?rumah yang tak terlalu besar dan tidak bisa juga dikatakan kecil. Iya, rumah ini menjadi tempatku menginap di Wonosobo kali ini. Aku bersama teman-teman yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa Justisia UIN Walisongo Semarang memang terbiasa menghabiskan waktu liburan dengan berpetualang ke tempat-tempat yang menyimpan keindahan alam, selain menggunakan tempat tersebut untuk menikmati keindahannya, momen begini ini biasanya kami gunakan untuk upaya mengakrabkan diantara kami.

keadaan yang masih gelap namun tidak sampai pekat kala itu, gerimis yang menimbulkan bunyi ketika menetes di atap rumah yang menjadi persinggahan kami membawa kesan romantisme tersendiri, yang pasti membuat suasana saat itu bertambah syahdu. Pagi ini kami berencana menuju ke bukit Sikunir untuk melihat sunrise, kami mengetahui bukit Sikunir dari teman-teman di Kampus, yang katanya indah, dan cocok dinikmati berdua bersama pasangan. walaupun sebenarnya sebagian besar dari kami saat itu menjomblo. ingat, cuman 'sebagian', berarti tidak seluruhnya menjomblo.

Sesegera mungkin masing-masing dari kami memakai jaket dan sarung tangan sebagai tameng badan dari dinginnya embun pagi yang membuat menggigil. Dari dinginnya Wonosobo kemudianlah muncul anekdot yang cukup menggelikan diantara kami. Sehingga anekdot itu menjadi bahan tertawaan kami sepanjang perjalanan itu, anekdot 'Nge-zoom'. Karena ada bagian tubuh dari laki-laki yang ketika udara dingin apalagi sampai bikin menggigil akan berimbas pada 'mengkerutnya' bagian tubuh itu. (lebih baik soal 'nge-zoom' tidak usah saya bahas lebih dalam?lagi. karena bahaya. hehe).

Setelah semua dari kami memakai jaket dan sarung tangan untuk memastikan supaya tidak kedinginan saat menuju bukit Sikunir, kami memulai perjalanan menuju tempat itu, yang biasa disebut-sebut sebagai surganya Wonosobo. Kami berangkat pukul 03.00 Wib pagi. Pelan-pelan namun pasti kami menyusuri sepanjang jalan dari tempat persinggahan malam tadi, kabut yang mulai pekat menghadang perjalanan kami, hingga pandangan mata hanya berjarak dua meter. Setelah sampai di lereng bukit Sikunir, kami pun memarkirkan sepeda motor untuk memastikan motornya aman.

Sebelum memutuskan untuk memulai pendakian, kami sejenak melepas lelah dengan duduk di atas kursi warung yang tersedia di depan parkiran. Setelah badan mulai kembali segar, kami mulai mendaki bukt itu. Dengan jalan yang terbuat dari susunan batu alam yang tampak tersusun rapi hingga dari jauh tampak seperti lukisan abstrak yang menarik, didukung dengan kabut dan pencahayaan dari senter yang kami bawa.

Kucoba melihat jam, ternyata hampir subuh, kami memutuskan untuk sholat di atas bukit. Iya, di atas bukit sikunir ada semacam surau terbuat dari papan triplek semi-permanen yang memang disediakan pengelola wisata itu untuk pengunjung yang melaksanakan sholat, atau sekedar kencing. Segera kami melaksanakan sholat subuh supaya nantinya tidak melewatkan?senrise.

Setelah semua selesai melakukan sholat, masih ada satu kali tanjakan lagi yang harus dilalui untuk menuju tempat dimana biasa orang-orang menikmati sunrise di bukit Ini. Kabut semakin pekat, merambat perlahan, kabut terasa mencumbu tubuh sampai hampir menggigil. Untuk menunggu sunrise kami berfikir lebih nikmat membeli makanan kecil untuk mengisi perut yang memang sudah lapar karena dingin yang menusuk.

Kami ber-gerombol membentuk lingkaran sembari ngecemil menghabiskan cemilan yang baru saja kami beli itu. O iya, di atas bukit ada warung, jangan berfikir kalau beli cemilannya harus ke bawah bukit lagi. hehe. Berfoto ria, selfie, menjadi keinginan yang tidak terbendung dari masing-masing kami. Sampai sunrise?menyapa pagi itu.

Ada sesuatu yang kurasakan katika ada di puncak gunung, bukit, atau apapun itu, ketika melihat sunrise?ada semacam perasaan berupa kerinduan yang teramat dalam, sampai-sampai terkadang dan?hampir sering air mata langsung mengucur karena merasa diri sangat kecil dibandingkan dengan hamparan awan yang melantai di sepanjang pandangan mata, bergelombang, menggumpal-gumpal namun menyambung. Sangat indah.?

Tak lagi ada rasa dingin yang menusuk, hanya ada rasa bahagia dan kosong karena melihat keindahan pergantian dari gelapnya malam ke pagi seperti saat?ini. Timbul rasa?semacam penghambaan yang melebihi dari waktu-waktu sebelumnya, semacam kepasrahan dan kebahagiaan yang begitu tinggi. ? ?

  • view 158