Belajar Tawakal dari Henry Ford

Maulana Malik Ibrahim
Karya Maulana Malik Ibrahim Kategori Agama
dipublikasikan 22 Juni 2017
Belajar Tawakal dari Henry Ford

Dalam How to Stop Worrying and Start Living, Dale Carnegie menceritakan pengalamannya mewawancarai Henry Ford, seorang industrialis Amerika sekaligus pemilik perusahaan Ford Motor Company. Dalam wawancaranya, Carnegie bertutur:

Saya mewawancarai Henry Ford beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia. Sebelum bertemu muka dengannya, saya membayangkan orang ini pasti menunjukkan wajah yang serius dan tegang lantaran mengemban tugas berat. Bertahun-tahun ia mendirikan, membangun, dan memimpin perusahaan yang sangat besar dan terkenal di muka bumi ini. Saya terkejut sekali sewaktu berjumpa dengannya. Wajah dan tingkah lakunya tenang dan damai. Ia tampak segar bugar pada usianya yang sudah tujuh puluh delapan tahun itu. Ketika saya bertanya apakah ia pernah bersedih hati dan khawatir, ia menjawab, “Tidak. Saya tidak bersedih atau merasa takut. Saya percaya Tuhan mengatur segala sesuatunya dengan baik. Tuhan tidak memerlukan nasihat saya. Karena Tuhan hadir dan ikut serta mengatur perusahaan ini, saya yakin semuanya akan beres dengan baik. Lantas apa lagi yang mesti saya risaukan?”

Mengomentari kisah ini, Syeikh Muhammad Al-Ghazali Al-Saqqa, seorang ulama Al-Azhar, berujar dalam Segarkan Hidupmu:

Apakah Henry Ford beteman atau gemar membaca buku-buku Ibn Athaillah al-Iskandari? Sebab dalam berbagai karya tasawufnya, Ibn Athaillah banyak bertutur tentang sikap iman, yakin, dan berserah diri kepada Allah. Jika kita amati ungkapan-ungkapan Ibn Athaillah, ada kemiripan dengan ungkapan Henry Ford di atas meskipun keduanya hidup pada masa yang berbeda dan dari latar belakang sosial yang berbeda pula.

Mungkin salah satu yang dimaksud Syeikh Al-Ghazali adalah bait Ibn Attaillah yang ini, yang termaktub dalam Al-Hikam:

“Istirahatkan dirimu dari mengurus urusanmu sendiri. Sesuatu yang telah diurus untukmu oleh selain dirimu, maka engkau tidak perlu lagi melakukannya.”

Dalam buku dan bab yang sama Syeikh Al-Ghazali kembali bertutur:

Kami tegaskan di sini bahwa Islam menolak setiap bentuk keraguan terhadap kebebasan berkehendak. Islam menolak keras setiap bentuk pengabaian atas kekuatan besar yang dimiliki manusia agar bekerja keras di dunia ini dan kemudian memetik buahnya baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Ketika melihat kenyataan hidup sehari-hari, kita pasti akan menyadari bahwa selama ini kekuatan dan kemampuan kita bekerja pada ruang dan tataran yang sempit dan terbatas. Sementara, ada kekuatan agung dan kehendak tinggi yang bekerja pada tataran yang luas dan tak terbatas.

Sebab-akibat yang kita bergantung kepadanya, dalam berbagai bidang kehidupan, telah ditetapkan dan ditentukan oleh Allah. Di banyak kesempatan, kita sama sekali tidak memiliki kuasa untuk meraih atau merubahnya.

Dari sini, hendaknya kita menerima sesuai kemampuan kita. Jangan pernah mencoba menandingi atau malah mengalahkan angin topan dengan angin yang kita tiupkan dari mulut!

Itulah yang didengungkan dan dimaksudkan oleh para penganjur konsep tajrid; berpegang kepada sebab-akibat dan meridai apa yang dilakukan Allah setelah kita berupaya sekemampuan kita.

* * *

Dalam mengejar apa yang kita cita-citakan, seringkali kita dihantui kecemasan mengenai apa yang ada di depan. Bisa jadi kita merasa takut akan terjadi hal-hal buruk yang belum terjadi: kegagalan proyek yang sedang kita lakukan, takut penilaian klien atau konsumen terhadap bisnis kita tidak begitu baik, takut menderita kerugian dari usaha yang kita jalankan, dll. Pada kasus-kasus ekstrim, kecemasan bisa berujung pada pikiran yang terus-menerus menciptakan worst-case scenario yang membayangi. Tidak jarang pula kecemasan dan stress mempengaruhi kondisi fisik dalam bentuk gangguan pencernaan, sesak nafas, sulit tidur, hingga jantung yang berdebar kencang. 

Namun mungkin bayang-bayang dan belenggu kecemasan ini dapat dilonggarkan melalui prinsip keridaan dalam menerima takdir dan masa depan yang telah digariskan Tuhan. Adakalanya kita perlu kembali mengingatkan diri bahwa masa depan yang kita cemaskan, baik maupun buruknya, ada dalam ketetapan Allah, dan tugas kita sebagai manusia adalah mengusahakan apa yang ada dalam genggaman kita saat ini. Jiwa kita harus senantiasa kita kukuhkan untuk terus-menerus bersangka baik padaNya.

Akan tetapi bagi sebagian orang, pembicaraan tentang takdir mungkin erat hubungannya dengan fatalisme. Mereka menyangka, membicarakan tentang takdir justru akan memangkas dan menghambat produktifitas dengan menyandarkan begitu saja segala urusan kepada Tuhan tanpa sedikitpun gerak atau usaha. Kita jadi berpangku tangan dan malas-malasan.

Jika kita melihatnya dalam sisi yang berbeda, mungkin yang terjadi justru sebaliknya: Percayakah engkau bahwa pikiran manusia adalah pengendali yang paling ampuh dalam kaitannya dengan kerja-kerja manusia?

Dale Carnegie pernah mengilustrasikan hal ini melalui kisah tentang tiga orang yang menjalani  uji coba dengan diminta untuk menekan sebuah dinamometer. Dalam kondisi normal, rata-rata mereka dapat memberikan daya tekan sebesar 101 pon. Dalam percobaan kedua, tiga orang ini dihipnotis dan dibisikkan kepada mereka bahwa mereka sangat lemah. Apa yang terjadi? Ketika mereka kembali diminta untuk menekan dinamometer, daya tekan yang dihasilkan hanya 29 pon! Percobaan ketiga pun dilakukan. Kali ini, ketiga orang ini kembali dihipnotis dengan kata-kata bahwa mereka sangat kuat. Hasilnya, ketika mereka kembali diminta menekan dinamometer mereka dapat menghasilkan daya hingga 142 pon.

Ini menunjukkan bahwa mental serta keyakinan yang kita tanamkan di dalam pikiran kita mempunyai pengaruh besar dalam memberi atau menurunkan kekuatan kita dalam melakukan sesuatu. Maka, jika kita kembali mengambil hikmah dari pengalaman Henry Ford, kita melihat bahwa keyakinan yang kokoh pada takdir serta sikap tawakal kepada Tuhan justru akan mempengaruhi mental kita dengan menyingkirkan rasa cemas dan takut, serta meningkatkan produktifitas dan kekuatan kita dalam menghadapi hidup alih-alih membelenggu kita dalam fatalisme malas.

Bukankah itu menyenangkan?    

 

 

  • view 51