Baktimu kepada Ibumu

Ali Misri
Karya Ali Misri Kategori Renungan
dipublikasikan 22 Februari 2017
Baktimu kepada Ibumu

Ketika kajian rutin mingguan di masjiid Al Ihsan PT. RPN Bogor, kembali diri ini diingatkan akan sebuah pesan penting tentang adab terhadap ibu. Sang ustadz yang merupakan salah satu murid dari ustad Kholid Basalamah membahas kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhori bab 2 tentang Memuliakan Ibu.

Dalam muqoddimahnya, beliau menyampaikan sebuah hadist yang sudah tidak asing lagi yakni sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.‘” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 254)

Beliau menyampaikan sedikitnya ada 3 hal menurut pandangan para ulama kenapa Rasulullah menyampaikan bakti kita kepada ibu lebih besar dibandingkan yang lain.

Yang pertama, Karena lemahnya seorang perempuan (Ibu), sehingga membutuhkan pembelaan dibandingkan seorang ayah.

Kedua, Beratnya beban yang diderita oleh seorang ibu yakni dimulai ketika mengandung, melahirkan dan menyusui yang ini tidak dapat dirasakan oleh seorang Ayah (laki-laki)

Dan ketiga, Ego seorang ibu yang lebih cenderung kepada perasaan sehingga harus benar-benar dijaga. Dibandingkan seorang laki-laki yang cenderung kepada akal. Sehingga jangan sampai kemudian terlontar dari seorang ibu kata-kata tidak baik atau bahkan doa yang buruk terhadap anaknya.

Ada sebuah kisah menarik yang disampaikan oleh beliau tentang kisah ampuhnya do’a jelek seorang ibu pada anaknya, yaitu kisah Juraij sang ahli ibadah.

Kisah ini terjadi ketika Juraij sedang melaksanakan sholat sunah dan terdengar suara Ibu Juraij memanggil.

Ketika panggilan pertama sang ibu, Juraij yang masih dalam kondisi sholat dan sempat berpikir apakah ia akan menyambut panggilan sang ibu melanjutkan sholatnya. Dan akhirnya Juraij memilih untuk melanjutkan sholatnya. Kemudian sàng ibu memanggil untuk kali kedua dan Juraij pun masih memilih untuk melanjutkan sholatnya. Hingga akhirnya terdengar panggilan sang ibu untuk ketiga kalinya namun Juraij tidak bergeming dan tetap mlanjutkan sholat sunahnya. Karena tiga panggilan sang ibu tak digubris oleh Juraij, akhirnya terlontarlah sebuah perkataan dan ini menjadi doa agar Allah memberikan kehinaan kepada Juraij.

Berselang beberapa waktu, akhirnya Allah berkehendak untuk memberikan kehinaan kepada Juraij melalui seorang wanita yang mengandung anaknya tanpa ia ketahui.

Ketika sang wanita yang telah melahirkan seorang anak dihadapkan kepada sang Raja dan ditanyakan siapa ayah dari anak yang ia bawa, maka sang wanita menjawab ia adalah anaknya Juraij.

Setelah mengetahui jawaban sang wanita, barulah Juraij teringat akan doa yang disampaikan oleh ibunya agar menghinakannya.

Dari kisah ini, kita belajar agar berhati-hati akan kemarahan ibu. Meskipun dalam hal-hal kecil, karena doa orang tua kepada anaknya adalah salah satu doa yang mustajab.

Ahhh.

Rasanya ingin kembali memutar waktu dan melaksanakan semua 'perintah’ kebaikan ibu. Mulai dari permintaan sangat sederhana beliau agar selalu menggunakan peci dan sarung saat sholat. Padahal permintaan itu sangat sangat sederhana, namun karena hampir setengah umur diri ini tidak bersama orang tua sehingga lebih sering memakai celana saat sholat dan ini terbawa juga ketika di rumah.

Ya Allah, semoga ini tidak Engkau catat sebagai bentuk durhaka diri ini kepada Ibu.

Jagalah Ia karena Engkau adalah sebaik-baik penjaga. Karuniakanlah kepadanya umur yang berkah, kelapangan rizki, kemudahan urusan dan kesehatan yang terjaga.

Bogor, 23 Januari 2017

  • view 80