Terlilit Abaya Hitam

mirzam muh
Karya mirzam muh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Juli 2017
Terlilit Abaya Hitam

Terlilit Abaya Hitam.
 
©Mirzam_Muh
 
Rembulan masih masih melengkung, membentuk emotikon bibir yang sedang tersenyum manis. semanis senyum tiga tahun yang lalu, tepatnya saat kali pertama kita bertemu.  Tapi entah sekarang,  senyum itu masaihkah sama?.
 
Kendaraan berlalu lalang, meskipun sudah lewat beberapa hari setelah idul fitri, jalanan masih tampak ramai seperti kota. Tapi sebaliknya, kota menjadi sepi karena mayoritas penghuninya mudik kekampung halamanya sendiri-sendiri.
 
“Kamu mau makan apa?” tanyaku.
 
“Terserah kamu saja mas, aku ikut”.
 
Sebenarnya saya sendiri tak berniat mencari makan. Hanya saja, saat beberpa kali aku menolak ajakanmu, ada satu kalimatmu yang membuat aku mengatakan iya.  Makanya sedari tadi  pedagang makanan yang berjejer  dipinggir jalan tak ada yang menarik saat dilirik. Seharusnya aku melihatnya pakai perut bukan pakai mata kepala.
 
“Nasi goreng mau?”. Tawaranku. Sambil mengendorkan tarikan gas bebek pada pergelangan tanganku. Dan sedikit menoleh kebelakang, memastikan kamu menyutujuinya. 
 
Anggukan ke bawah, dan suara lirih yang artinya kamu meng-iya-kan tawaranku. Kuajukan lagi beberapa opsi penjual nasi goreng di sekitar sini. Meski akhirnya kita memutusakn tempat yang agak jauh dari yg lainnya. Entah kenapa ketika sudah di tempat tujuan kamu malah mengurungkannya.
 
“Di tempat yang tadi da aja mas, disini terlalu rame. Lagian yang beli juga cowok-cowok semua”. Sanggahmu,  yang masih diposisi duduk semula tepat di belakangku. Tanpa beranjak meskipun beberapa menit motor sudah berhenti.
 
Tak banyak komentar, kunyalan saja lampu sein sebelah kanan. Kutengok kanan kiri, jalanan agak sepi, akupun berbali arah menujutempat yang kamu maksudtadi.
 
 
 
***
 
“Mas..mas..berhenti!". Sambil menepukpundakku beberapakali.
 
“ada apa?”
 
“bajuku kayaknya nyangkut deh mas”
 
Kutarik saja tuas rem yang sedari tadi sudah menempel di jari telunjuk. Bebek yang kukendarai hanya berlari hanya sekitar 20km/jam. Dengan sekali tarik tuas rem, sekian detik motor langsung berhenti. Yang benar saja. Abaya hitam panjang, yang bertumpuk lembar-lembar kain lebar itu nyangkut di antara gir dan rantai motor.
 
“Blahi slamet” (istilah Jawa, musibah tapi selamat)
“Untung saja tadi pelan-pelan". Kataku.
 
“Gimana dong mas?". Kamu merngek antara takut, gugup, dan bingug.
 
“Ya sebentar”, sambil kucoba mendorong mundur, karena melihat lilitannya berlawanan arah jarum jam, untuk melepasnya harusemutar roda berlawan, yaitu mundur. Sekilas hanya terlihat beberpa lilitan kain saja.  Tapi kalau nyangkutnya di bagian yang penting, bagaimana mau bisa jalan.
"Seperti kita". (Gumamku dalam hati).
 
 “Gak bisa. kalau digunting gimana?”. 
 
“Jangan mas, jangan..masalahnya ini baju dibelikan mas rif...”
 
Tiba-tiba kamu menyeut nama seseorang. Mungkin bukan kali pertama kau menyebutnya saat sedang bersamaku. Dan seharusnya saya juga sudah faham siapa dia. Tapi, setiap kali kamu menyebut nama itu, tenggorokan ini tiba-tiba menjadi kering, jantungberdetak lebih cepat, dan paru-paru berusaha mempa udara sebanyak-banyaknya, tapi kenapa  air yang ada di mulut ini seakan hilang. Kutelan ludah tapi tak bisa, alhasil aku dilanda haus yang luar biasa.
 
“Ayo coba lgi deh” pintamu sekali lagi untk mengurai sisa-sisa kain yang masih menyangkut. Aku tak bisa berkomntar apa-apa. Sambil mendorong motor mundur sekuat tenaga agar lilitan itu lepas dari tempat yang tak seharusnya.
 
‘’Yah rusak deh”, keluhmu sambil menghembuskan nafas panjang.
 
“Alhmdulillah blahi slamet , masih untung tadi gak ikut jatuh”. sanggaku dengan perasaan yang masih tak karuan.
***
Limabelas menit berlalu, tak ada dari kita yang bersuara, sepi. Suara  motor yang berlalu lalang, ikut meramaiakan pikiranku. Entah apa yang ada dipikranmu. Mungkin juga kamu sedang menungu-nunggu. Keputusan apa  yang ku ambil setlah ini.
 
***
 
Handphone bergetar, satu pesan whatsapp. Darimu.
 
“Saya kecewa dengan sikap mas”.
 
Kutulis pesan balasan.
 
“Maaf saya tidak bisa berbuat banyak”
 
“Setidaknya mas memberi solusi dong, bukan diem”. Balasmu lagi.
 
“jadi selama perjalan pulang tadi, saya gak mikir apa?. tadi saya juga menimbang-nimbag antara ke tiga opsi yang kamu berikan tadi. Mana yang lebih memiliki sedkit dampaknya".
 
“Intinya mas, gak mau menanggung resiko!. Saya kecewa dengan mas”.
 
Suhu handphone tiba-tiba naik beberapaderajat. Sebenernya bukan handphone nya yang panas, tpi hati kita. Kuletakkan sejenak kepala, agar radiasinya tidak menyebar ke seluruh badan.
Jika hati panas, pikiran panas, tangan juga ikut-ikutan panas, kalau lagi pegang handphone bahaya juga kan?. Bisa-bisa handphone ini bisa melayang, bak ninja Hatori melempar senjatanya.
 
Beberapa menit kemudian kutulis lagi pesan balasan.
 
“Bukannya tadi sore juga sudah enggan menjemputmu, apalagi keluar tanpa ijin orang tua itu apa namaya?.
 
mengingat saat menjempumu tadi bukan di rumah, melainkan di tempat pernikahan sepupu. Dan dikarenakan acaranya masih lama dimulai, kamu memintaku untuk menjemput. Meski sudah kutolak  beberapa kali dengan beberapa alasan. Tapi setelah kamu mengatakan “mas gak mau sedikit  berkorban buat aku”.  Tiba-tiba ku "iya" in saja ajakanmu dengan pertanyaan retoris “mau keluar?”. Dan  Kamu pun menyutujuinya.
 
 
 
“Tuh kan, mas menyudutkanku terus. Tadi kan saya suruh mas untuk mejemput ke rumah mas, bukan jalan keluar.  Lantas orang yang membawa keluar anak orang tanpa izin itu namanya apa?”.
 
“Ya..sama, maling” jawabku enteng.
 
“kalau gitu, mas jangan nyalahin saya dong, kalau kita yang berbuat kita  juga yang nanggung konsekuensinya bersama. Kalau memang kita sama-sama suka. Ya udah gak usah saling menyalahkan".
 
Duh, batinku berdesir. Kubaca lekat-lekat kalimutmu, agar aku tak salah tafsir. Mataku mulai menngembun, tarikan nafasku juga mulai dalam. Sepertinya kamu belum mengerti apa yang ada dalam pikranku saja. Munkin bagimu sepele. Seperti kain abaya hitam yang terlilit di gir sepeda.  Selama ini memang saya plan-pelan. selalu berhati-hati, kamu tahu kan kejadian tadi?. Seandainya tadi saya naiknya kenceng, dan tak hati-hati. Lalu kain abayamu terlilit di sana dan terpelanting jatuh bagaimana?. Siapa yang jadi korban. Siapa yang di salahkan?. Siapa nanti yang kena imbasnya? Keluargamu dan keluargaku jga kan?.
 
Kutulis lagi pesan balasan, kalimat ini sudah pernah kukirimkan sbelum-sebelumya.  Mungkin sudah menjadi tradsisi setiap ada kejadian tertentu aku memberi nasihat kepadamu, tentunya berlaku juga kepadamu. Bukan menjadi sok bijak. Seringkali saat aku memberi nasehat, justru dirikulah yang menjadi obyek nasehatnya. Terkadang itulah aku merasa menjadi orang munafik sepanjang masa.
 
***
 
Beberapa menit kemudian terdengar hanphone berbunyi lagi. Satu notifikasi pesan WhatsApp.
Pesan yang sanngat singkat, hanya sebuah panggilan.
 
"Mas...."
 
Kujawab saja "iya...."
 
Lalu masuk lagi pesan serupa, kali ini lebih panjang.
 
"Maasss......".
 
Itu artinya, ada yang sedang difahami apa yang dimaksudkan sebelumnya. Dan setelah ini masing-masing dari kita minta maaf dan memaafkan. Melepas lilitan yang membelit seperti terlepasnya Abaya hitam yang nyangkut dari gir dan rantai sepeda. Tapi aku tak yakin terlepasnya lilitan abaya hitam itu sudah terlepas dari masalah. Terlihat jelas lubang-lubang bekas gigitan gir sepeda. Apalagi abaya itu pemberian orang, melilit masalah apa setelahnya?.
 
Lamongan, 3 Juli 2017.

  • view 31