Laut itu Tak Dalam

mirzam muh
Karya mirzam muh Kategori Inspiratif
dipublikasikan 22 November 2016
Laut itu Tak Dalam

Entah kenapa saya selalu suka mengobrol dengan orang-orang yang usianya jauh lebih tua dari saya, tentu mereka sudah banyak makan asin garamnya kehidupan, tentu pula dapat pelajaran-pelajaran yang dapat direnungkan setelahnya.

.....

.....

"Kata siapa laut itu dalam, asalkan kamu bisa berenang, bisa menyelam, kamu akan tahu seberapa dalam laut itu". Entah berawal dari mana obrolan kami tadi, tiba-tiba sampai sedalam ini, sedalam  yang ia katakan, sampai-sampai aku harus mengernyitkan dahi untuk memahami maksud kalimat yang beliau ucapkan tadi.

 

" begini saja, Jo.. " beliau manggilku dengan sebutan Jo, kepanjangan dari Bejo. Ya..nama saya Bejo (bukan nama asli). seperti harapan saya dari awal,  jauh-jauh saya merantau ke sini agar mendapat ke-Bejo-an.(keberuntungan),di mulai dari panggilan nama.

 

"Kata orang, Jakarta itu jauh, buktinya kamu sampai sini juga kan?" aku mengangguk-angguk saja membenarkan kalimat yang ia katakan, dan ini lebih mudah dipahami daripada kalimat sebelumnya.

 

"Ya..Terkadang saya itu gemetar menghadapi kenyataan yang saya hadapi nanti", aku mulai mengeluarkan uneg-uneg yang menjadi beban pikiranku akhir-akhir ini.

"Memang benar Pak, biaya sekolah itu tidak sedikit" aku membenarkan juga perkataan beliau yang sebelumnya bercerita tentang anaknya yang bersekolah di sekolah penerbangan Curug- Tangerang. Aku membenarkan karena saya sendiri merasakan, betapa biaya sekolah itu tidaklah murah.

"Masih SMA aja udah segitu, apalagi nanti kalau sudah kuliah?"

"Adikmu mau kamu kuliyahin?"

"Ya, pak. Aku tahu bagaimana rasanya ketika saya dulu mau kuliah tapi gak kesampean, (-argh sampai sekarang pun sepertinya masih sama). Makanya jangan Sampek adik saya bernasib sama".

" ya kalo kita ngukur dari kemampuan tangan kita, gak akan ngejangkau" Tutur beliau.

"Saya itu tukang ngontrak, Jo " ia mulai bercerita, pandangan matanya jauh ke depan. bukan,tapi jauh kebelakang, ah lebih tepatnya jauh ke dalam, sedalam lautan pengalaman yang ia selami.

"Jakarta mana aja, sudah pernah saya tinggali, dari mulai nguli, tukang pengepul minyak bekas, bahkan ngumpulin bekas kantong semen pun sudah pernah saya lakoni. Toh ujung-ujungnya bisa tuh nguliyahin Bu Guru Sampek lulus.  Gopek, cuman dia gak punya kemauan aja makanya ia hanya sampai semester dua aja. Pikirnya enak kali ya kerja, sekarang ia rasakan sendiri, heehee ( ia tertawa tapi bukan itu sebenarnya.).

" bahkan kalo di hitung-hitung, biaya sekolahnya Qodri lebih dari biaya kuliahnya Bu Guru".

"Kalau dipikir-pikir, dari mana ya datangnya rejeki itu, kerjaan saya juga gini-gini aja" "Yang penting itu yakin ngejalani hidup ini" kata-kata beliau meyakinkan. 

Aku hanya tersenyum, berusaha meyakinkan diriku. Menumbuhkan akar-akar keyakinan dalam hati ini agar tak goyang lagi.

"Saya ini lulusan SD, Jo.." ia mulai bercerita lagi, kali ini ia tersenyum, seperti senyumku tadi,-senyum yang agak dipaksakan-. Pandangan matanya masih jauh ke depan, tapi entah di pikirannya, mungkin sudah sampai ke palung-palung penyelaman.

"Dulu kalo sepulang sekolah itu langsung ke sawah, nanem padi, ngebajak sawah sendiri. Tuh, pak Teja dulu yang punya kebonya." ia tertawa, sambil nunjukin rumah pak Teja.

"Sama kalo gitu, pak" aku menimpali

"Dulu kalo sepulang sekolah saya juga cari rumput. Saya dulu punya kambing berapa ya,, kalo setiap enam bulan, pasti ada yg dikorbankan, di jual buat biaya tunggakan SPP, kalo nggak gitu gak bisa ikut semesteran." kini aku tertawa (tertawa getir, mengingat masa-masa itu).

 

"Tapi sekolah jaman dulu itu enak, Jo..., setelah SD langsung SPG, udah setelah itu bisa jadi guru, udah dapat gaji tetap dari pemerintah, gak kayak sekarang, susah. (Tanpa menjelaskan aku sudah faham (si)apa yang dimaksud).

" Tapi sayangnya dulu saya gak bisa nerusin SPG, gak kemodalin, haha..ha" kini ia tertawa, seperti menertawakan nasibnya. Dan tak jauh beda denganku tentunya.

"Tapi saya bersyukur" ia melanjutkan

"Banyak juga yang berpendidikan tinggi, tapi ujung-ujungnya jadi sopir, pengangguran juga ada.." 

"Petani yang kotor-kotor di  sawah itu mungkin menyenangkan baginya, dari pada ia melihat betapa ruwetnya mesin-mesin motor, tapi bagi montir ya biasa aja". Ucap beliau menyederhanakan kehidupan nya dengan sebuah analogi. 

"Ya udah gitu aja , Jo..." lalu ia bergegas menaikkan tuas standar motor matic nya, yang sebenernya dari tadi sudah mau pergi, cuman ketika ku sapa, lalu ngobrol-ngobrol dan menurunkan lagi tuas standar motornya ketika pembicaraan kami mulai serius.

 

Terimakasih perkataan ku lirih, sambil menyaksikan ia bersama motor maticnya menjauh pergI.

 

©Mirzam Muh

Tangerang, 22 November 2016

  • view 193