Kisah masuk Islamnya Umar. RA

mirzam muh
Karya mirzam muh Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 Oktober 2016
Kisah masuk Islamnya Umar. RA

Ia memiliki nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza, terlahir di Mekkah, dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy. Orangtuanya bernama Khaththab bin Nufail Al Mahzumi Al Quraisyi dan Hantamah binti Hasyim.

Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.

Sebelum Islam, sebagaimana tradisi kaum jahiliyah mekkah saat itu, Umar mengubur putrinya hidup-hidup. Sebagaimana yang ia katakan sendiri, "Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".

*

Sebelum masuk Islam Umar dikenal sebagai gembong yang paling getol menolak islam dan kaum muslimin. Ia dikenal sebagai kaum quraisy yang terkenal bertabiat keras dan dan bertekad kuat. Selama itu kaum muslimin mengalami gangguan yang dilancarkan olehnya.

Istri Amir bin Rabi’ah menceritakan sebagai berikut: pada saat kami sefang bersiap-siap berangkat hijrah ke habasyah – ketika itu ‘amir sedang keluar rumah untuk satu keperluan – tiba-tiba datanglah Umar dan berdiri di depanku. Aku sudah mengira bakal mendaat gangguannya. Ia bertanya: hai Ummu abdillah, benarkah kalian hendak pergi hijrah?. Aku menjawab: “Ya. Demi Allah, kami pasti pergi ke bumi Allah yang aman,sebab kalian selama ini mengganggu dan berbuat semena-mena terhadap kami. Kami tidak akan kembali lagi sebelum Allah memberikan ketentraman hidup kepada kami. “ Ia mennjawab dengan ucapan yang sungguh aneh: ”Allah beserta kalian” ia kulihat bersikap halus dan tampak sedih. …..! ketika ‘amir pulang, kejadian itu kebritahukan kepadanya dan suamiku bertanya: ‘apakah engakau mengharapkan ia masuk Islam? “ aku menjawab: ” ya, benar” amit menanggapi jawabanku itu dengan mengatakan : “ia tidak akan memeluk Islam sebelum keledainya memeluk islam terlebih dahulu! ‘amir mengucapkan perkataan seperti itu karena ia tahu benar bagaimana Umar adalah seorang yang sangat keras dan kasar terhadap kaum muslimin.

 

 Disini dapatlah terlihat bagaimana kerasnya Umar ketika sebelum masuk Islam. Sehingga sahabat mengatakan bahwa Umar tidak akan masuk Islam hingga keledainya masuk Islam terlebih dahulu.

 Namundidalam diri Umar bin Khattab masih terdapat berbagai perasaan yang saling berlawanan. Pada sisi lain ia sangat menghormati tradisi nenek moyangnya dan ia gemar berfoya-foya dan bergelimag didalam kebiasaan minum arak. Akan tetapi di samping itu ia kagum menyaksikan ketabahan kaum muslimin dan ketabahan mereka dalam menghadapi cobaan dan penderitaan demi mempertahankan keyakinan agamanya. Disamping itu ia selalu dihinggapi keragu-raguan – sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang biasa berfikir - mengenai agama yang di serukan oleh Muhammd Rasulullah saw, mungkin agama itu lebih benar dan lebih suci dari agama yang lain… oleh karena itu ia dengan ketika ia sedang marah dan meronta, cepat-cepat pergi meninggalkan rumah dengan niat membunuh Muhammd Saw.,

Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-‘Adawi seraya bertanya:

“Hendak kemana engkau ya Umar ?”,

“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.

“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”,

“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”. Tanya Umar.

“Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.

 

Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.

Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :

“Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,

“Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka

“Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram

“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, jawab ipar Umar.

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera memba-ngunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkata-lah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah.

 

“Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”

Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan ber-darah, timbul penyesalan dan rasa malu di hati Umar. Lalu dia meminta lembaran al-Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.

Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca : Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”

Kemudian beliau terus membaca :

ﻃﻪ

Hingga ayat :

ﺇﻧﻨﻲ ﺃﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺃﻧﺎ ﻓﺎﻋﺒﺪﻧﻲ ﻭﺃﻗﻢ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻟﺬﻛﺮﻱ

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

(QS. Thaha : 14)

Beliau berkata :

“Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad”.

Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa :

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang ber-ada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah SAW, dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya:

“Ada apa ?”.

“Umar” Jawab mereka.

“Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

“Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.

Maka berkatalah Umar :

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah .

Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.

Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin

  • view 153