Aku adalah kamu, dan kita adalah aku, kamu dan dia

Mirna Rukmana
Karya Mirna Rukmana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Juni 2016
Aku adalah kamu, dan kita adalah aku, kamu dan dia

Sudah sewajarnya aku tau semua tentang kamu, dulu aku masih berharap bahwa aku adalah kamu, kamu adalah aku, aku dan kamu adalah kita. Tapi kenyataannya semua sudah berubah, seiring dengan terus bertambahnya waktu, aku dan kamupun berganti tak ada lagi kata kita yang dulu.

Mungkin waktu yang salah atau mungkin aku dan kamu yang salah. Kita berdua salah karena terlalu percaya pada waktu, kamu selalu berkata biar waktu yang menjawabnya, tampa kamu tau apakah waktu berpihak pada kita atau tidak.

Kini cerita kita tidak akan sama, ada tokoh baru dalam kisah kita, Dia.

Dia yang membuat semua rencana kita berubah, bukan rencana kita tapi ini rencanaku karena kamu tak pernah berencana apapun. Aku yang terlalu jauh melangkah, kamu bilang kita hanya berencana dan Tuhan yang memutuskan, biarlah waktu yang menemani setiap proses dari keinginan kita dimasa depan.

Masa depan yang dulu kuimpikan, bukanlah yang sekarang ingin kurasakan.

Jelas kamu tau itu, tapi kamu tetap memilih untuk menikmatinya, memilih untuk tetap menerima dia hidup dalam kisah kita. Entah bagaimana dia ada diantara kita, mungkin aku yang salah yang terlalu percaya diri bahwa waktu akan berpihak pada kita, bahwa Tuhan akan menyetujui rencana kita.

Dia, perlahan tapi pasti mulai berhasil menggantikan posisiku di matamu. Aku marah rasanya percuma, untuk apa pula aku harus marah padanya, dia selalu ada untukmu disaat aku memang tak bisa bersamamu, mungkin memang seharusnya aku berterimakasih padanya karena dia banyak membantumu disaat aku tak bisa melakukannya untukmu.

Tetap saja, aku merasa tersaingi. Harus kuakui kini memang waktu memaksaku untuk bisa bersaing dengannya, bersaing untuk tetap meyakini bahwa kita adalah aku dan kamu, bukan aku, kamu dab dia. Tapi lagi-lagi, rasanya aku mulai putus asa. Rasanya percuma saja jika hanya aku yang berusaha untuk mewujudkan rencana kita, toh kamu tetap seperti dulu, pasrah pada keadaan, bagaikan air yang tak punya pegangan untuk menahan, kamu hanyalah air yang tak bisa memutar arahnya sendiri, kamu hanyalah air yang akan memang berhenti jika harus berhenti dan tetap mengalir sesuai dengan jalur.

Tapi aku, bisa apa aku?

Apa yang bisa kuperbuat untuk membuatmu berhenti?

Aku bukan siapa-siapamu, karena memang dari awal kita hanya berjalan menyusuri waktu, kita bergantung pada waktu dan kita percaya bahwa waktulah yang akab berbicara. Kita tak pernah berusaha untuk merubaha apapun diantara kita, tapi kini rasanya sudah berbeda, aku tak ingin menunggu waktu, aku ingin kamu dan aku memutuskannya sendiri.

Salahkah aku jika aku memintamu seperti itu? Salahkah aku jika aku dan kamu adalah kita, salahkah?

Dengan tekad yang sudah menumpuk di hati, dengan keberanian yang tak terkendali, saat itu aku datang menemuimu, kuungkapkan semua keresahan yang terus mengganggu pikiran dan hatiku, berharap kau paham maksudku, berharap kaupun menginginkan hal serupa denganku, berharap rencana kita selama ini dapat kita kita wujudkan tampa perlu ada waktu atau pihak lain yang mengganggu.

Waktu itu kau hanya tersenyum, kupikir seyum mu pertanda kau setuju, tapi rasanya aku salah.

Kau berucap bahwa semua tak ada yang instan, semua perlu proses dan dalam proses itu ada waktu yang membuata kita yakin, yakin untuk melanjutkan semuanya atau yakin untuk mengubur semuanya. Kamu tau, aku kecewa dengan ucapanmu.

Aku coba katakan, bahwa aku tak ingin ada yang lain diantara kita, aku hanya ingin ada kita hanya aku dan juga kamu tampa dia diantara kita. Lagi-lagi kamu hanya tersenyum dan kembali berkata rasa ini bukan hanya milik kita, bukan kita yang meminta rasa ini ada, jika memang rasa ini akan selamanya milik kita kenapa kamu pikir dia ada diantara kita.

Kamu berhasil membuatku terdiam, kenapa kamu membuat ini serasa sulit bagiku. Aku kembali bertanya padamu dengan nada lebih lembut, setenang mungkin berusaha apa yang aku takutkan bisa membuatmu mengerti. Aku akan membuat semuanya lebih cepat sebelum semuanya terlambat, aku tak ingin bersaing dengannya dan aku tak mau lagi percaya pada waktu yang membuatku harus terus menunggu, aku hanya ingin semua sesuai dengan rencanaku dengan harapan kita. Entah kamu akan berfikir apa tentang aku, egoiskah aku?

Kini kamu yang terdiam cukup lama, aku bingung adakah yang salah dengan ucapanku atau memang sebenarnya harapan itu hanya aku saja yang menginginkannya dan tidak untuk kamu sekarang. Kamu menatapku penuh tanya, kenapa kau membuatku berada pada posisi yang harus menentukan sekarang, itu jawabanmu. Aku diam tak mengerti, belum aku menjawab, kamu kembali membuka suara kenapa harus aku, kenapa aku merasa bahwa akulah yang harus memutuskan semuanya, dulu disaat aku masih berharap bahwa semua akan sesuai dengan rencana kita, kamu yang menghilang, aku tau kamu dimana tapu aku tak tau kamu bagaimana. Aku berusaha meyakinkan hatiku sendiri bahwa rasa ini bukan hanya milikku tapi juga milikmu, berada pada keadaan dimana putus asa adalah teman, kamu tau rasanya seperti apa. Berusaha terus berharap, berusaha untuk tetap yakin. Kamu benar aku afalah air yang terus mengalir yang tak tau kemana akan bermuara, yang tak bisa melakukan apa-apa, untuk itu jangan salahkan aku jika kini dia ada, karena aku tak melakukan apapun. Aku hanya bisa membiarka.

Itu yang kamu ucapkan, kini aku yang terdiam. Aku terdiam karena aku tau jawabannya sekarang. Aku bukanlah kamu dan kita bukanlah aku dan kamu, ini memang sulit dan ini memang sangat menyakitkan untukku, mungkin ini yang kamu rasakan dulu dan entah kenapa aku berfikir bahwa kamu ingin aku merasakan hal yang sama dengan mu dulu, tapi maaf, aku tak mungkin sepertimu.

Aku berdiri dengan sisa tenaga yang kupunya, dengan sedikit harapan bahwa ini yang terbaik, jika memang kamu tak ingin memutuskan maka aku yang akan memutuskan. Dengan suarau parau yang tertahan juga air mata yang tak henti keluar. Maka saat ini aku yakinkan diriku dan juga dirimu bahwa kita bukanlah siapa-siapa, tak perlu ada hubungan apapun diantara kita, antara aku dan kamu karena kini yang tersisa hanyalah aku, kamu dan dia.

Aku yang berdiri sendiri tanpa ada penghubung apapun. Dan kamu yang mungkin sekarang sudah berdampingan dengan dia membentuk satu kalimat baru yang tak ingin aku tau.

Aku adalah kamu yang dulu

Kita adalah aku, kamu dan dia