Aku, Kau, dan Sepucuk Rengginang Remukan

Abu Ma'mur MF
Karya Abu Ma'mur MF Kategori Lainnya
dipublikasikan 03 Agustus 2017
Aku, Kau, dan Sepucuk Rengginang Remukan

Usai merampungkan kegiatan Raker Dewan Kesenian, kami menuju RSUD Brebes, besuk bapaknya Wa Husni Sakyad. Dalam perjalanan, toean Zaki membawa seplastik rengginang remukan. Ia bilang “ini rengginang rasa udang buatanku” saya tergoda mencicipi.

Tiba-tiba saya merasa seperti orang kutub yang baru pernah melahap sejenis makanan bernama rengginang remukan. Gurih itu biasa, tapi ketika unsur udang bersenyawa bersama butir-butir rengginang, ada citarasa artistik terselubung. “Subhanallah, uenak nemen, sung!

Setiap kali makan enak, saya selalu ingat istri. Suatu ketika, mulut saya sudah mangap, siap melahap arem-arem, saya batalkan, demi mengingat istri yang gemar arem-arem. Saya bungkus kembali dan dibawa pulang untuk istri.

Dulu saat masih lajang, ketika saya dapat makanan ringan di suatu pertemuan, sering saya bawa pulang untuk ibu. Kadang masih utuh sekotak. Kadang saya bagi dua, sebagian saya makan di tempat pertemuan, sebagian buat ibu di rumah. Barangkali ini sejenis kebiasaan wagu, tapi sampai sekarang masih sering saya lakukan, untuk istri.

Saya ingin istri saya juga menikmati rengginang rasa udang buatan Zaki. Celakanya, keinginan itu membuat saya nyaris menjadi clamit seketika. Dan clamit bukanlah perbuatan terpuji. Kabar baiknya, sang pemilik rengginang sukarela menyerahkannya kepadaku. “Bawa saja. Saya masih banyak kok di rumah.”

Begitulah toean Zaki, meskipun tampangnya sesangar Buta Ijo (toean Wijanarto memberinya gelar “Blempo”), dan ledakan orasinya saat demonstrasi dapat menyebabkan para Polisi kerepotan, serta gelegar suaranya bisa menggetarkan sekawanan wedus, tapi hatinya selembut bulu marmut.

Maka tak mengherankan jika ia termasuk ke dalam golongan PTL (Pria Tuku Lawuh). Golongan semacam ini mengingatkan saya salah satu tokoh dalam lakon Preman Pensiun.

  • view 59