Maafkan...

Millaty Win
Karya Millaty Win Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Maafkan...

Aku belum siap, aku takut tidak bisa membuatmu bahagia. Aku takut membuatmu kecewa. Sebelum semuanya terjadi, mohon beri aku maaf yang sebesar-besarnya darimu dan keluargamu. Maafkan aku, Rahma? Maafkan aku?

Begitu isi dari lembar surat yang dikirim untuk Rahma setelah beberapa hari sebelumnya Randi memastikan akan datang meminang.

Rahma yang sudah sangat terlanjur bahagia di masa sebelum datangnya surat ini tiba-tiba hatinya terjatuh. Perasaannya berubah, menjadi perasaan yang lain.

Impiannya untuk duduk di pelaminan di waktu dekat hancur seketika, selepas membaca surat itu. Hatinya kembali menemui rasa itu, ditinggalkan dan harus kembali mencoba bangkit dari kisah ditinggalkan.

Di hari kemudian, si pengirim surat dengan penuh keberanian bertandang menemui Rahma dan orangtua. Rahma yang coba berusaha untuk lapang menerima keputusan Randi, ikut duduk, berhadap dengan Randi yang datang seorang diri.

***

?Jangan lupa, undang aku kalau kamu menikah. Aku tunggu undanganmu.? Ucap Rahma sesaat seusai Randi pamit pulang.

Tak ada jawaban apapun dari Randi kecuali mimik datar tak mengerti harus menanggapi kalimat itu dengan kata apa.

?Tenang Mah?, Rahma baik-baik aja kok. Iya kan Pah?? Sahut Rahma sambil tersenyum pada sang papah saat sang mamah melabuhkan pelukan sembari mengucap ?Allah Maha Tahu apa-apa yang terbaik untuk setiap hambanya. Sabar ya Nak?!?

Begitulah anak pada orangtua, menyimpan tangis sendiri. Seperti halnya orangtua yang sebenarnya mungkin lebih sering menangis dan menyembunyikan tangisan itu dari anak-anaknya. Di malam itu Rahma yang masih memakai rukuh setelah salam terakhir dalam shalat sunah langsung berbaring mengambil bantal menyembunyikan wajah yang sudah mulai berair mata. Tidak hanya itu, fungsi bantal itu lebih tepatnya sebagai peredam suara sengguk yang muncul dari tangisnya. Ya Allah? Ya Allah? hanya itu yang bisa dikatanya dalam tangisnya.

***

Randi adalah adik kelasnya di masa SMA dulu. Saat Rahma kelas tiga, Randi masih duduk di kelas satu SMA. Usia keduanya terpaut dua tahun. Randi lebih muda dari Rahma. Keduanya kembali bertemu saat reuni sekolah SMA. Beberapa bulan setelah reuni, keduanya diperkenalkan oleh sang guru yang juga mengenal dekat keduanya. Istilahnya sih dijodohkan gitu, hehe.

Perkenalan pun berlanjut, hingga kemudian keduanya memutuskan untuk membawa hubungan pertemanan itu ke jenjang yang lebih serius. Rahma yang pernah ditinggal menikah sewaktu di usia dua puluh lima ini langsung terpikat pada Randi yang juga berkecimpung di dunia pendidikan sama dengan dirinya. Namun ada hal yang membuatnya langsung jatuh cinta pada Randi, sifat dermawannya. Randi tidak hanya senang dengan mengajar, tapi juga aktif di kegiatan-kegiatan sosial, baik yang diselenggarakan oleh yayasan keluarganya atau pun bukan.?

Kedatangan Randi sungguh disyukuri Rahma, bahagia tak terkira. Randi seperti menjadi hadiah terbesar dari rasa sakit kisah sebelumnya, lagi menjadi jawaban do?a dalam penantiannya. Randi?

Di usia Rahma yang sudah tiga puluh, hadirnya sosok seorang Randi tentulah membangkitkan harapan bahwa penantian itu akan segera berakhir. Hidup bersama dengan orang yang dicinta, membangun cinta, menghadapi segala yang ada berdua, belajar saling menerima, memaafkan satu sama lain tanpa cerca, angan-angan itu tumbuh seiring dengan kebersamaannya.

Sebuah kabar datang, usia Rahma sudah tiga puluh satu saat kabar itu datang. Beberapa bulan selepas pemutusan hubungan itu, Randi menikah dengan Rahmi Arini, putri dari dosennya. Katanya perkenalan menuju pernikahan itu berlangsung sangat cepat, Randi langsung mempersunting Rahmi Arini yang baru saja menyelesaikan kuliah di kedokteran. Namun kabar itu datang tidak sampai ke Rahma, karena teman dan keluarga, semua merahasiakan kabar tentang pernikahan Randi. Semua tentang Randi, memang tak lagi ingin Rahma ketahui. Hingga akhirnya, Rahma tahu sendiri bahwa Randi sudah menikah.

Acara Book Fair membawa keduanya, Randi dan Rahma berpapas temu. Saat itu Randi sedang menggandeng mesra sang istri yang sedang hamil. Randi terdiam. Namun Rahma tersenyum, lalu segera berlalu.

?Sabar ya Ma?? Kata sang teman.

?Enggak pa-pa kok. Jadi?, dia sudah nikah?? Cetus Rahma. "Cantik ya, masih muda lagi. Sedang aku, kayak gini." Tidak berapa lama, setelah papasan itu, perasaannya meng-awan. Sembari meminum air putih, air dari sudut matanya mengerling jatuh.

?Alhamdulillah Randi sudah nikah. Alhamdulillah?? Ucap Rahma seakan menghibur diri. Mencoba melapangkan hati, meski hati tidak juga lapang. Tapi Rahma terus coba menghibur diri, coba menerima apa yang telah terjadi walau dengan berat hati.

Rahma? seorang diri, temui malam curhati Ilahi hingga lamai-lamai dini.

November, 2015

  • view 170