Hujan dan Perasaan Mereka

Millaty Win
Karya Millaty Win Kategori Lainnya
dipublikasikan 03 Mei 2016
Hujan dan Perasaan Mereka

Pagi ini, di hari rabu, hujan datang amat mesra. Rintikannya tak banyak, tidak juga sedikit. Sesekali angin pun menghantar rintikannya jatuh menerpa wajahnya yang melongok di daun jendela.


Padahal…, malam tadi…


“Kenapa kau memaksakan diri untuk menikah denganku? Seharusnya kau berani untuk mengatakan tidak. Mengapa kau baru mengatakannya sekarang? Sekarang kita sudah menikah. Lalu kau ingin kita harus bagaimana?”


“Aku tidak mencintaimu. Setiap kali aku melihatmu, rasanya aku menjadi tersiksa. Kepalaku menjadi pening, perutku menjadi mual, aku menjadi tenang jika kau tidak ada. Aku tahu... perasaan seperti itu salah, karena kau sudah menjadi suamiku. Aku tahu aku salah...!”


“Lalu aku harus bagaimana? Supaya tidak membuatmu tersiksa?”


Perempuan itu menggelengkan kepala.


“Kau mencintai seseorang? Tapi cintamu diabaikan? Saat cintamu tumbuh, dia mengabaikanmu? Dan memilih perempuan lain? Kau masih ingin bersanding bersamanya?”


Perempuan itu menangis tersengguk. Air matanya terus menetes deras.


Lelaki itu berhenti bicara. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali hanya bisa melihatnya menyeka air mata berkali-kali.


"Dia tidak memilihku disaat perasaanku padanya tumbuh.


Dia menikah beberapa bulan selepas bilang bahwa dia belum siap untuk menikah.


Dia mengabari tentang pernikahannya padaku tanpa dia tahu bagaimana perasaanku padanya.


Mengapa aku harus dikenalkan dengannya, dan mulai mempunyai rasa padanya, tapi kemudian dia pergi menikah dengan yang lain.


Kenapa Tuhan harus mengenalkan aku padanya dan membawanya pergi dengan perempuan lain selepas perasaanku tumbuh besar padanya?"


Lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa. Diam, tak berani mendekatinya. Karena dirinya takut perempuan itu menjadi bertambah tersiksa jika mendekat ke arahnya.


Tuhan..., apa yang harus seorang suami lakukan jika situasinya seperti ini? Dia akan sangat terganggu jika aku mendekatinya. Tuhan..., apa yang harus kulakukan?


.......


Perempuan itu masih menangis. Sang lelaki mencoba memberanikan diri untuk melangkah mendekatinya.


"Maafkan aku..., menjauhlah...!"


Baru beberapa langkah menujunya, lelaki itu segera menghentikan langkah.


"Sudah malam. Besok aku ada meeting dengan klien. Aku pamit tidur. Tidurlah segera, besok kau juga kan harus berangkat kerja. Selamat malam."


Baru saja lelaki itu melangkah beberapa langkah keluar dari kamar, perempuan itu melangkah mendekatinya. Hingga lelaki itu menoleh dan menghadap ke arahnya. Namun perempuan itu masih saja sama, tak mau melihat wajahnya jika bicara dengannya.


"Maafkan aku..."


"Tidak ada yang salah, jadi... tidak ada yang perlu harus meminta maaf. Tidurlah..., jangan lupa, tutup pintunya. Periksa dahulu jendelanya sebelum tidur. Assalammualaikum..."


Tuhan…, sudah enam bulan aku dengannya menikah, tapi aku dengannya masih seperti ini. Dia masih saja belum mencintaiku. Perasaannya masih untuk lelaki yang sudah membuatnya menangis seperti tadi. Apa yang harus aku lakukan Tuhan...?


Lelaki itu terus berkata dalam sujud di rakaat terakhirnya. Sebelum akhirnya kemudian pergi untuk tidur.


Sofa di ruang tengah adalah tempat lelaki itu tidur. Setelah menikah, dirinya sudah sangat akrab tidur berkawankan sofa. Padahal di rumah ini ada dua kamar yang belum di tempati. Namun dirinya lebih nyaman tidur di sofa. Dikarenakan sofa yang menjadi temannya tidur itu berhadapan langsung dengan kamar yang harusnya ditempati berdua. Alasan Lelaki itu membangun rumah ini tidak lain agar bisa langsung hidup mandiri selepas menikah, walau dengan rumah yang tidak besar tapi juga tidak terlalu kecil.


Lelaki itu menitikan air mata. Lagi menitikan air mata. Hingga tak sadar bantal sofa itu basah oleh air mata. Lalu memaksakan diri untuk segera memejamkan mata. Berharap selepas itu semua akan baik-baik saja.


..............


Lalu, hendak kau apakan pernikahanmu ini duhai perempuan!


Sebuah perkataan dalam dirinya membangunkan perempuan itu. Padahal nuraninya mengatakan bahwa sikapnya salah. Mendiamkan, selalu berwajah masam, selalu ketus, tak pernah memberi sedikit senyuman saat bertemu, juga sikap tidak menyenangkan lainnya yang dirinya tunjukkan pada sang suami.


Apakah karena belum tumbuh rasa cintalah perempuan itu belum menganggap apa yang nuraninya katakan?


Namun..., malam ini, perempuan itu mencoba untuk ikut nasehat dari sang nurani. Walau itu sungguh tidak mudah. Dengan perasaan gemetar, langkah-langkah kecil itu membawanya menghampiri lelaki yang sudah lelap dalam tidur.


Perempuan itu... menoleh hanya sekilas pada lelaki itu. Kemudian raganya berbaring di bawah sofa itu. Dengan gemetar yang tak berkesudahan perempuan itu berbaring di karpet yang menjadi alas kaki sofa.


Perempuan itu pun tertidur membawa gemetar di dada dan lemasnya lutut.


.............


Seperti biasa, pukul empat pagi adalah jam terbangunnya lelaki itu dari tidur. Selalu pukul empat pagi. Meski tidur pukul dua dini hari pasti bangunnya pukul empat, walau tak di alarm. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan sedari usianya dua puluh tahun. Maka pukul empat sendirilah yang membangunkannya untuk segera bergegas bangun dan tidak tidur lagi.


Kali ini lelaki itu tak langsung bergegas menuju kamar mandi. Terhenyak, mengernyit melihat seseorang yang membuatnya menitikkan air mata sebelum tidur tadi berbaring di dekatnya.


Tidak ingin membuat perempuan itu bangun, segera dirinya bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan diri sebelum kemudian sembahyang malam.


Wajahnya tersenyum...

Karena jiwanya tersenyum...

Jantungnya berdebar tak percaya melihat perempuan itu ada didekatnya.

Sembahyangnya membuat tenang, senyuman pun tak habis tergerai di jiwanya.


Tuhan... Alhamdulillahirabbil alamiin...

Cirebon, Mei 2016