Semua Ilmu Harus Masuk Kampus

Milastri Muzakkar
Karya Milastri Muzakkar Kategori Politik
dipublikasikan 12 Februari 2016
Semua Ilmu Harus Masuk Kampus

Begini, kampus itu tempat belajar. Semua setuju dong? Artinya, segala jenis ilmu pengetahuan dan pengalaman dari yang benar sampai yang buruk dalam konsepsi umum idealnya ada di kampus supaya bisa dipelajari mahasiswa. Dari proses belajar itulah, mahasiswa diajak berpikir, menganalisis, merasa, lalu menyimpulkan mana ilmu dan pengalaman yang baik mereka yakini untuk terapkan, dan bagian mana yang tidak. Jadi, semua kembali ke masing-masing orang. Sederhana kan?

Kalau ada jenis ilmu dan pengalaman yang dibatasi apalagi dilarang, lalu bagaimana kita bisa tahu dan paham tentang yang baik dan tidak baik? Bagaimana kita meyakini hal mana yang sesuai dan bertentangan dengan agama dan nilai-nilai luhur kehidupan ketika hal itu tidak dikaji sedalam-dalamnya?

Hemat saya, orang yang berilmu dengan benar, meski tidak tinggi-tinggi amat sekolahnya, mestinya sependapat dengan pernyataan saya di atas. Lah, ini seorang Menteri Riset Tekhnologi dan pendidikan Tinggi, M. Nasir, jadi bulan-bulanan media karena pernyataannya yang melarang kelompok LGBT (lesbian, guy, biseks, transgender) masuk kampus. ?Kampus adalah penjaga moral. Masa kampus untuk itu (LGBT)? Ada standar nilai dan susila yang harus dijaga,? katanya di salah satu media online.

Selain Pak Menteri, penolakan kelompok LGBT masuk kampus juga datang dari anggota DPR. Itu yang terekspos di media. Tentu masih banyak orang atau kelompok lain yang juga menolak keberadaaan kelompok ini. Yah, begitulah karakter sebagian masyarakat kita. Terlalu cepat dan keras menolak hal-hal yang mungkin belum mereka kaji secara mendalam. ?Apanya yang perlu dikaji, jelas-jelas kelompok ini dilarang agama,? kata orang-orang yang merasa paling ngerti agama.

Oke, jika pun itu dilarang agama atau tidak sesuai moral bangsa, lah itulah gunanya belajar, supaya tahu kenapa dan bagaimana sehingga dilarang. Mbok ya kasi waktu dulu untuk orang-orang (yang dianggap belum tahu itu) untuk ?iqro? (berarti bacalah?!) supaya mengkaji secara jernih semua ilmu yang tersebar di alam semesta ini. Supaya orang-orang kita tidak menjadi ?generasi manut?, yang hanya bisa bilang benar-salah karena didoktrin dari orang tua atau Ustad.

Kembali ke kampus. Di kampus, ada banyak paham, aliran, kelompok, atau apapun namanya, yang berkembang. Menurut saya, memang begitulah idealnya. Makin banyak ilmu dan pengalaman, makin banyak belajar juga toh? Di sinilah tempat berdiskusi ilmiah itu dihidupkan. Di sinilah waktunya bertarung opini dan fakta secara santun. Hasil-hasil diskusi dan debat di kampus itu kemudian dikontekstualisasikan di kehidupan masyarakat. Dengan sendirinya akan ketahuan kok mana yang bisa diterima dan yang tidak di masyarakat.

Soal tidak setuju dengan paham atau kelompok tertentu itu boleh saja, dan memang hak setiap orang. Tapi melarang ilmu atau kelompok apapun masuk kampus itu tidak tepat, dan jelas melanggar hak orang lain. Nah, karena masing-masing orang punya hak, maka saling menghargai hak adalah jalan yang harus diambil. Itu sih kalau kita cinta damai. Kalau nggak, yah siap-siap berkonflik. Dan siaplah menjadi bangsa yang tidak pernah maju.

  • view 157