Aku Sahabat Anak, Kamu Juga Kan?

Milastri Muzakkar
Karya Milastri Muzakkar Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 Januari 2016
Aku Sahabat Anak, Kamu Juga Kan?

Tiap kali mendengar Fiky, keponakanku, disuruh belajar oleh Ibunya, di dalam hatiku tersentuh dan sedih. Terkadang, Fiky datang memelukku sambil berkata, ?Fiky capek belajar terus,? katanya dengan wajah b?te. ?Fiky pengennya santai-santai, main sama nonton dulu sama Tante Mila. Abis itu baru belajar,? sambungnya.

Saat aku berkunjung, Fiky dan Fila, adiknya, selalu bersorak sambil melompat. Aku pun demikian. Selain merasa kangen setelah lama tak bertemu, mereka tahu betul kedatanganku berarti membawa ?kesempatan luas? bagi mereka untuk ?bermain? dan ?bersantai?. Aku memberi tanda petik didua kata itu sebab bermain dan bersantai seringkali diartikan sebatas kegiatan yang tidak mengandung nilai pembelajaran. Padahal keduanya adalah metode yang menyenangkan dan efektif untuk menunjang proses pembelajaran anak. Aku sendiri sudah membuktikan itu saat dulu mengajar di SD formal di daerah terpencil, dan kini di komunitas pendidikan alternatif di Jakarta.

Di dalam hati timbul rasa ingin menghentikan, memberitahu, dan membela Fiky, tetapi lidahku lebih banyak tertahan dengan beberapa pertimbangan. Pertimbangan menjaga perasaan dan tidak ingin terkesan menggurui adalah alasan yang paling utama. ?Gini, Fiky baca-baca dulu bukunya lima menit, abis itu kita main tebak-tebakan atau kartu uno,? kataku mencoba menengahi. Inilah sekurang-kurangnya hal yang bisa kulakukan selama ini. Bukan belajarnya yang tidak kusetujui, tetapi cara-cara yang agak memaksa sehingga membuat si anak tidak senang, bahkan?b?te.

Tentu bukan sepenuhnya salah Ibunya Fiky, kakakku, tetapi pengaruh pemahaman yang terbangun selama ini, yang disebabkan oleh sistem pendidikan kita. Tentu saja kakakku menginginkan yang terbaik untuk anaknya, dan menjadi pintar dalam arti sempit adalah salah satu tujuannya. Begitulah sistem pendidikan yang terbangun selama ini sangat berorientasi pada hasil, bukan proses. Yang digali hanya kepintaran, bukan kecerdasan. Pun, pintar hanya diindentikkan dengan angka sepuluh di kertas ulangan dan di rapor. Bayangkan saja, anak yang masih duduk di bangku kelas tiga SD menghabiskan waktu belajar di sekolah dari pukul setengah delapan pagi hingga pukul dua siang. Minimal tiga hingga empat pelajaran setiap harinya. Itu pun di luar pekerjaan rumah (PR). Praktis, setiap hari anak yang masih berusia sekitar delapan tahun menghabiskan harinya hanya untuk menjawab soal-soal tekstual, dan lebih banyak tidak kontekstual.

Pernah, Fiky libur tiga hari. Aku lupa dalam rangka apa, tetapi seingatku kebetulan tanggal merah yang beruntun. Mungkin Anda berpikir Fiky akan lega dan bisa bermain sepuasnya. Tidak. Dalam waktu tiga hari, ia harus mengerjakan PR yang diberikan oleh wali kelasnya. ?Loh ini sih bukan libur namanya. Sama aja kayak sekolah. Masak PR nya banyak begini?,? kataku sedikit emosi. ?Kelas lain nggak di kasih PR. Cuma kelas Fiky aja. Memang begitu katanya Wali Kelasnya,? kata Fiky mencoba menjelaskan keadaan di kelasnya. Salah satu alasan wali Kelas Fiky memberi PR adalah agar siswa tak lupa dengan pelajaran sekolah selama tiga hari. Hmm? logika apa lagi yang berbicara kalau bukan logika pertumbuhan dengan orientasi hasil? Cara ini menggambarkan ketidakpahaman Sang wali kelas akan arti pendidikan. Ia juga tidak menunjukkan kemengertiannya pada metode dan cara belajar aktif, interaktif, kreatif, dan menyenangkan (PAIKEM). Rahasia umumnya, seseorang dengan kesadaran sendiri akan mencari dan mempelajari sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat baginya. Jika tidak, jangan heran kalau pelajaran dan si mengajar tak ubahnya dianggap ?hantu? bagi siswa.

Dalam artikel yang dirilis oleh Kompas.com, disebutkan oleh Amy Murray, Kepala Sekolah Early Childhood Education, anak-anak bekerja keras sepanjang hari di sekolah. Saat di rumah, mereka harus memiliki waktu untuk bersantai dan berkomunikasi kembali dengan keluarga mereka. Tumpukan pekerjaan rumah atau tugas sekolah pada tahun ajaran hanya akan membunuh rasa cinta anak terhadap belajar dan antusiasme terhadap sekolah. Dalam penelitian lain yang dipublikasikan New York Times, waktu yang dianjurkan untuk mengerjakan tugas sekolah bagi anak pada tahun pertama sekolah hanya sepuluh menit. Aturan sepuluh menit untuk belajar di rumah sangat efektif dan menujukkan hubungan antara berapa banyak mereka mengerjakan tugas sekolah serta bagaimana mereka akan merasakannya (Baca : Kompas.com)

Please...,?mengertilah, dunia anak adalah dunia bermain. Dan anak berhak untuk itu. Kita harus pandai-pandai mengambil hati anak. Kita mestinya menjadi sahabat anak yang dirindukan, bukan musuh yang dijauhi. Terlebih jika kita orang tua kandung, tentunya lebih tahu karakter dan kebutuhan sang anak. Sependek pengalamanku, banyak metode yang bisa digunakan agar belajar menjadi menyenangkan (fun learning). Misalnya, berikan mereka buku yang menarik dari judul, isi, hingga desain gambarnya. Anak lebih suka membaca kaarakter tokoh yang diidolakannya. Ambil contoh cerita Little Einstein, yang menceritakan semangat Einsten dalam mempelajari dan membuktikan segala yang terjadi di sekitarnya. Karena selalu mencari tahu, akhirnya ia tumbuh menjadi anak yang jenius. Nah, karakter Einstein sebaiknya diceritakan dalam versi komik atau gambar karikatur. Anak-anak lebih tertarik membacanya, sebab selain membaca teks, mereka pun melihat gambar (visual). Sehingga memudahkan mereka untuk menangkap pesan dalam cerita itu. Buku-buku semacam ini sudah banyak bertebaran di toko buku. Cara lain misalnya, membuat ?kartu karakter? untuk pelajaran bahasa inggris. Tulis dan gambar saja apa pun yang akan diceritakan di atas kertas karton berwarna yang sudah dipotong menyerupai kartu Joker. Cara bermainnya bisa bermacam-macam, antara lain seperti bermain kartu. Minta anak untuk menyebut bahasa Inggris dari gambar tokoh (misalnya gambar kakek, profesi dokter, tumbuhan, dll.) berdasarkan kartu yang didapatnya. Dengan begitu, anak akan merasa sedang bermain sambil belajar.

Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan aplikasi tekhnologi. Beberapa waktu lalu, komunitas peduli lingkungan di Jogja menciptakan aplikasi ?penyelamatan lingkungan? dalam bentuk game di komputer. Ini penemuan yang inovatif yang bisa dimanfaatkan, khususnya bagi anak-anak yang sudah terlanjur lebih suka memegang ipad dibanding buku. Tak ada alasan untuk anak tidak senang belajar, apalagi sampai membenci kata ?belajar?. Mereka hanya butuh sentuhan dan cara-cara yang lebih bersahabat. Tak ada cara lain selain menjadi sahabat mereka. Karena itulah, aku selalu berusaha menjadi sahabat anak. Kamu juga kan?

  • view 236