Menemuimu

mila La
Karya mila La Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juni 2017
Menemuimu

Matahari masih saja bertingkah. Ia enggan mengurangi kadar panasnya. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi. “ah, sial,”lirihku dalam hati.

“tumben pagi-pagi udah mandi”, kata kakakku sambil cengengesan.

“emang kamu”, balasku

“biasanya jam segini belum mandi,”ejeknya lagi. “pasti mau ketemuan kan?, haha”

“sana mandi, ngejek mulu”

“hayo mau ketemu si itu, ya? Si bunda, haha”

“berisik, bilang aja iri,” timpalku sambil kulempar handuk ke mukanya.

“huuuu, aku iri, haha” ejeknya sambil ia berjalan berlalu meninggalkanku yang sedang gelisah menunggu seseorang. Dan beberapa menit kemudian handphon ku berdering.

Hallo,

Iya, hallo

Udah siap?

Iya. Ni aku udah di jalan gang persawahan. Tunggu disamping jalan raya aja ya.

Iya, nanti kabari lagi yah, hehe

Oke.

Aku langsung memacu sepeda motorku. Takut kalau dia nanti nunggu lama. Aku memang tak biasa membuat orang menunggu. Apalagi wanita. Tapi, kalau memang aku telat. Itu bukan salahku. Motornya aja yang jalannya pelan.

Sayup-sayup dari kejauhan, kulihat ada seseorang yang sedang menunggu dipinggir jalan. Segera ku pelankan laju motorku. Sampai di jarak dekat, jantungku mulai berdegub. Aku merasa seperti sulit bernafas. Seluruh badan rasanya panas-dingin. Aku tak bisa membayangkan bagaimana akhirnya aku bisa jalan bareng setelah sebulan pacaran tanpa pernah bertemu sebelumnya. Iya, ini pertama kalinya aku jalan bareng sama seorang yang spesial. Seseorang yang aku panggil “bundanya”. Maksudnya, bundanya anak-anakku nanti.

Ditengah deguban kencang. Laju motorku semakin mendekat ke perempuan itu. Fikiranku kacau tak tentu. Bagaimana aku harus menyiapkan kata pertama untuk menyapanya. Atau bagaimana aku harus mengatur bahasa tubuhku agar terlihat sempurna dihadapannya. Ah, aku benar-benar bingung oleh fikiranku sendiri. Dan jarak pun semakin dekat. Dengan mengumpulkan seluruh keberanianku. Akhirnya aku menge-rem motorku. Sebab, perempuan itu sudah berada di sampingku. Dan aku  pun menoleh ke arahnya.

“nggak lagi cari ojeg mas, saya sudah ada yang jemput” tiba-tiba spontan berbicara kepadaku.

“saya bukan ojeg mbak”

“terus apa? Copet ya?”

“bbbbukan, saya lagi janjian sama pacar”

“cie, ngga jomblo” sambil senyum anjayyy.

Tiba-tiba dari gang arah belakang mbak tadi, muncul sosok wanita dengan jilbab biru. Iya, dialah yang aku sebut bundaku.

“udah nunggu lama ya?” katanya dengan suara merdu. aku jadi tambah grogi di buatnya.

“belum, baru kok. Kalau ga percaya, tanya aja mbak ini” balasku sambil menunjuk ke arah mbak tadi.

“iya, baru. Malahan tadi tak kira tukang ojeg, maaf ya mas”

“iya gpp,” kataku

“wah cantik juga ya pacar mas. Kok mau si?”

Aku jadi tambah sebel dengan mbaknya. Tapi aku hanya bisa diam. Dalam hati aku hanya bisa menggerutu sendiri. Bahkan kalau aku bisa mengutuk. Ku kutuk saja mbak ini jadi dispenser. Biar bisa nyeduh pop mie. Sebab, semakin aku marah, semakin aku bertambah lapar.

“Cinta bukan sebatas penawaran, antara mau atau nggk. Tapi cinta adalah pilihan ganda. Cuma ada satu jawaban yang tepat.” Jawab bundaku dengan senyum.

Mbak tadi langsung seperti tersindir. Dan ia pun pamit untuk pergi. Aku bersyukur, mbak tadi tidak jadi mengacaukan acara pertemuan kami. Dan aku kembali tersenyum pada wanita berjilbab biru itu.

“aku seperti melihat kahlil gibran sedang menjelma jadi perempuan” kataku dengan sedikit senyum padanya.

“dimana?”

“di depanku”

“kalau kahlil gibran menjelma jadi aku, nanti dia baper-an. Ga puitis lagi deh puisi-puisinya. Trus jadi ngambekan nanti orangnya.”

“kayak siapa?”

“mbaknya,

“hahahaha” Lalu kita berdua tertawa lepas. Hingga akhirnya kita pun menikmati suasana jalan diatas sepeda motor. Bahkan langit yang tadinya cerah kini mulai tak berawan. Dan hujan pun tak berani turung. Cukup teduh saja cuaca yang tampil hari ini. Terus seperti ini. Dan berhentlah putaran waktu. Sebab aku ingin abadi bersamanya.

 

Bersambung.............

  • view 60